BAHAGIA DI ATAS KUBURAN

BAHAGIA DI ATAS KUBURAN

 

Sudah lama saya terpesona pada batu-batu—termasuk batu akik. Sebagaimana fosil, batu adalah masa silam sekaligus masa depan manusia. Ketika orang-orang Mesir Kuna memanfaatkan papirus, cikal bakal kertas modern, untuk menulis, orang-orang di bagian lain dunia ini—tak terkecuali di Nusantara—menuliskan sesuatu di atas permukaan batu, pun pada tulang, lempeng logam, kulit kambing, kayu dan daun lontar.

Dalam kepentingan ini, batu berfungsi mengekalkan ingatan manusia akan apa-apa yang telah terjadi, agar “ingatan yang kekal” itu bisa dibaca oleh mereka yang datang dari masa depan. Kata membutuhkan jasad untuk menjadi abadi, jika tidak, ia akan segera hilang—mungkin jauh sebelum si pengujar meninggal. Karena menyurutnya kekuatan memori pada otak manusia, misalnya. Tulisan, sebagai rupa kata pada batu, mengamalkan pepatah orang Latin Verba volant, scripta manent ‘Yang diucapkan akan lenyap, yang dituliskan akan abadi’.

Pada prasasti-prasasti—sebutan lainnya: “batu bertulis”—yang ditemukan di banyak tempat di Indonesia kita menemukan semacam “proto-jurnalisme” yang mengabarkan kegiatan raja dan bagaimana kekuasaannya itu ditunjukkan kepada para kawula. Ia mewartakan, misalnya, seorang raja baru saja menaklukkan daerah tertentu dan karenanya sebagai penghormatan atas kekuasaannya itu, dibuatlah sebuah prasasti untuk mengenang jasa dan kekuasaannya.

Itulah yang kita dapatkan pada Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di desa Kedukan Bukit, di kaki Bukit Seguntang, Palembang, pada 29 November 1920—satu dari banyak prasasti yang masih terawat dengan baik di Museum Nasional Jakarta. Prasasti itu kurang-lebih menyebutkan bahwa Sri Baginda (Dapunta Hiyang) yang membebaskan diri dari minanga tamvan, memimpin 20.000 bala tentara dan 1.512 pengikutnya dengan suka cita. Hari kelima paruh bulan terang. . .Śrīvijaya, sakti, kaya. . . .  

Itulah kronik tentang bukti kejayaan kedatuan Sriwijaya yang kita nikmati melalui sebongkah batu.

Di situ memang masih ada unsur puja-puji, glorifikasi terhadap kekuasaan, tetapi kandungan dasar-dasar jurnalismenya tidak bisa diabaikan begitu saja. Kronik dari masa proto-jurnalisme ini menggabungkan antara fakta dan imajinasi, antara sumber berita dan sembah sujud untuknya. Bagaimanapun ia campur aduk, kronik semacam ini tetaplah amat berguna untuk memberi kita pelajaran betapa pentingnya menulis—bukan melulu berbicara.

Saya kira itu pula mengapa batu dalam berbagai jenisnya memegang peranan penting dalam kebudayaan manusia di masa silam. Ia bukan hanya bisa menjadi prasasti, tetapi juga patung, bangunan bersejarah (candi dan istana), juga makam. Memang ada yang musnah akibat keganasan perang, terorisme atau bencana alam, tetapi yang selamat memberi kita rasa hormat kepada kerja keras seniman dan kaum intelektual dari masa yang lampau itu. Mereka yang rela nama mereka dilupakan demi keindahan dan kejayaan kekuasaan.

Jika di Barat yang selamat kebanyakan adalah istana atau kastil, di Timur yang bertahan hingga kini adalah tempat ibadah, semacam candi atau kuil, dan segala macam simbol-simbolnya. Perbedaan artefak ini ikut memperlihatkan perbedaan orientasi hidup masyarakat pendukung kebudayaan masa silam itu, antara yang berorientasi keduniaan dan yang berorientasi keakhiratan.

Itulah kenapa saya selalu senang mengunjungi permakaman tua yang masih sangat terawat di banyak lokasi di Republik Ceko.

Di kubur-kubur tua itu—setidaknya New Jewish Cemetery di Praha dan sebuah permakaman tua Yahudi di Lesy, tidak jauh dari Slavétín—saya menemukan setidaknya dua hal. Pertama, nisan-nisan tinggi-lebar yang terbuat dari marmer atau batu lainnya memberikan kesan abadi pada makam. Batu—sebagaimana kuningan, perunggu atau besi pada patung publik yang tetap terawat dengan baik di Praha—setidaknya lebih tahan lama ketimbang kayu. Batu memberi kesan ramah dan menyatu dengan tanah dan lingkungan sekitar.

Nisan kayu juga ramah pada alam, teramat ramah malah, tapi daya tahannya terbatas—kecuali jika ia telah berubah menjadi fosil. Itulah mengapa makam-makam umat Islam yang bernisan kayu—sebagaimana banyak kita temukan di Indonesia—lebih cepat rusak oleh gempuran cuaca dan predator dan kerap diganti dengan marmer atau bata bersemen.

Kedua, epitaf. Ia memberikan kita apa-apa yang telah saya singgung tadi: kekuatan dokumentasi. Kubur-kubur orang Yahudi di Old Jewish Cemetery di Praha misalnya berasal dari abad ke-15, semasa dengan kejayaan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara—sementara New Jewish Cemetery dari tiga abad kemudian dan di Lesy mulai pada paruh pertama abad ke-19. Semua itu masih terawat dengan baik dan bisa menjadi daerah tujuan wisata tidak kekurangan peminat. Yang kepingin berziarah ke Old Jewish Cemetery mesti antre, meski di bawah guyuran hujan, dan tiketnya tidaklah murah.

Berdasarkan data pada nisan-nisan tua itu kita bukan hanya tahu siapa saja yang dimakamkan di situ tapi juga hubungan di antara mereka. Sebab tidak jarang, dalam satu lokasi makam dikuburkan beberapa jasad mereka yang terhitung masih dalam satu keluarga. Juga kita bisa mencermati status sosial para mendiang dalam masyarakat waktu itu.

Begitulah, setelah sempat mendatanginya sekali sebelumnya, pada awal Oktober 2017 saya kembali mendatangi permakaman New Jewish Cemetery di kawasan Žižkov, Praha 3. Saya menemani penulis Mona Sylviana yang sedang menjadi penulis mukiman di Paris dan hendak berziarah ke makam Franz Kafka di kompleks permakaman itu. Sebelumnya ia telah mengunjungi sejumlah makam seniman dan intelektual penting di Paris.

Ya, selain suasanya yang rindang dan teduh, apa lagi di tengah udara musim gugur yang sejuk-dingin, daya tarik kompleks permakaman New Jewish Cemetery adalah karena adanya makam Franz Kafka, penulis kelahiran Praha yang menulis karyanya dalam bahasa Jerman, salah satu novelis modernis yang terpenting di awal abad ke-20 dan melahirkan gaya sastra Kafkaesque.

Jika kita masuk dari pintu gerbangnya yang bergaya art nouveau, tidak jauh dari situ kita akan mendapatkan petunjuk yang sangat jelas bertulisan “Dr. Franz Kafka”, tanda panah ke kanan, di bawahnya “250 m”. Makamnya terletak di lorong 21, tidak jauh dari tembok—di lorong itu juga dimakamkan Max Brod, kawan baik sekaligus editor karya-karya Franz Kafka.

Ketika pertama kali datang beberapa pekan sebelumnya, saya mendapati sekelompok pemudi-pemuda Yahudi juga datang untuk berziarah dengan mengenakan kipah (peci khas Yahudi) yang disediakan oleh pengelola makam. Mereka membawa bunga, saya tidak. Mereka berdoa dalam bahasa Ibrani yang tidak saya pahami sama sekali. Kali ini hanya satu dua orang yang datang sambil memotret batu-batu nisan tinggi-lebar, di samping mengabadikan rupa pepohonan yang menggugurkan dedaun kuning sepanjang hari.

Pada nisan yang dirancang oleh Leopold Ehrmann tersusun secara berurutan nama Dr. Franz Kafka (1883–1924), Hermann Kafka (ayahnya, 1854–1931) dan Julie Kafka (ibunya, (1856–1934)—yang masing-masing diselingi dengan tulisan dalam bahasa Ibrani. Di makamnya hampir selalu ada bunga segar yang seperti baru ditaruh para peziarah. Juga tampak bersih dan terawat—yang sangat mungkin itu dilakukan oleh para peziarah yang menaruh hormat dan kasih kepadanya.

Kubur-kubur orang Eropa yang menggunakan nisan pelbagai jenis batu sangat mementingkan aspek seni rupa. Pada kuburan orang Cina di Indonesia—terlebih-lebih di San Diego Hill, Karawang—seni rupa hadir lebih ekstensif lagi. Yang diterakan pada batu nisah bukan semata-mata data tentang si mendiang dan epitaf, tetapi juga aneka patung dan relief yang menyimbolkan segala sesuatu yang khas bagi si mendiang. Lambang burung hantu tentu berbeda makna dari lambang sepasang telapak tangan dan buah anggur, sama bedanya dengan lambang makhkota dan anak kecil bersayap.

Hal lain, permakaman yang terawat amat baik ini tidak menimbulkan kesan angker sama sekali. Setidaknya di permakaman seperti ini kita terbebaskan dari mitos “arwah yang bangkit dari kubur”—atau saya yang tidak bisa merasakannya? Yang sakral dan supranatural seperti telah tercabut dari kompleks orang mati ini, yang tinggal adalah kerindangan pohon dan kehijau-tuaan sulur yang merambati makam dan batu nisan. Sesekali burung gagak melintas di antara pepohon dan langit sore yang tidak sepenuhnya cerah. Satu penampakan keindahan yang menyamankan mata dan hati.

Kenapa saya menegaskan ihwal menghilangnya yang sakral dan supranatural dari permakaman, sebab saya adalah bagian dari generasi yang tumbuh dalam mitos urban seperti itu, terutama yang dikembangan dalam folklor, film dan sinetron. Tempat permakaman umum (TPU) di mana pun di Indonesia hingga hari ini belum bisa terlepas dari mitos urban seperti ini. Setelah pernah dibikin pada 2006, misalnya, tahun lalu film Hantu Jeruk Purut dibikin ulang dengan harapan masih akan ada yang menontonnya. Mitos urban itu jadi barang dagangan yang belum kehabisan pembeli.

Pada akhirnya perlu juga kita membersihkan permakaman dari takhayul seperti ini. Sebab, jika ditata dengan baik, permakaman yang secara jawatan bergabung dengan pertamanan, bisa menjadi ruang terbuka hijau yang bisa menyelamatkan paru-paru warga kota. Jika si mati mesti dibebaskan dari segala urusan utang piutang sebelum ia dikuburkan, maka kita yang hidup masih berutang kepada mereka yang terbaring di dalam tanah. Sebab di atas makam-makam mereka itulah kita masih berharap lanskap yang menyejukkan dan bisa menjadi sumber udara bersih bagi warga kota.

Di Jakarta mungkin kita masih bisa menemukan suasana permakaman orang Eropa yang nyaman dan menghibur, yaitu bekas TPU Kebon Jahe Kober, Jakarta Pusat, yang kemudian berubah menjadi Taman Makam Prasasti dan kini menjadi obyek wisata yang cukup menarik—atau blok permakaman orang Eropa di TPU Duri Pulo. Warga kota Praha mungkin tidak menjadikan TPU sebagai tempat piknik atau melepas lelah, karena taman-taman kota mereka cukup banyak dan bagus-bagus.

Sejauh Jakarta masih kekurangan ruang terbuka hijau yang nyaman dan menyejukkan, mengunjungi TPU yang dipenuhi pepohon rindang dan rumputan hijau bukanlah pilihan yang jelek.

Baik juga jika kita sesekali duduk-duduk di taman di antara permakaman yang kita idealkan itu. Mungkin untuk mencari ilham—pernah pada suatu masa para penjudi togel mencari petunjuk angka di kuburan—tetapi lebih tepatnya untuk menghirup udara bersih dan mengistirahatkan mata yang letih oleh polusi rupa sambil memandangi batu-batu nisan yang selalu menarik kita ke masa silam sekaligus melontarkan kita ke masa depan.

Demikianlah, kita bisa berbahagia dengan cara yang ironis di atas kuburan. Ada bulan atau tidak.

 

Zen Hae