Calluna untuk Sang Binatang Sensual

RELASI tak terpatahkan itu bernama Praha dan Kafka. Paling tidak itulah yang tampak pada buku bersampul hitan kelam, Franz Kafka und Prag. Akan tetapi bagian Praha yang mana yang paling berhubungan dengan pengarang yang sangat populer dengan ungkapan Kafkaesque, Metamorphosis, Josef K., Gregor Samsa, dan Der Prozess ini?

Jika sempat berjalan-jalan ke toko-toko suvenir yang bertebaran di seantero Kota Praha, mungkin dengan segera Anda akan bilang, “Kafka tak bisa dipisahkan dari kaus. Kafka tidak bisa dipisahkan dari cangkir. Ia juga harus dihubungkan dengan tas-tas yang diperebutkan para pelancong.”

Atau jika pernah berkunjung ke Franz Kafka Museum, mungkin Anda akan bilang, “Kafka harus dikaitkan dengan film tentang kesunyian yang selalu hanya ditonton oleh satu-dua orang. Kafka mesti jadi satu dengan tangga menuju bunker yang tak tergapai nalar. Ah, tentu saja ia mesti disatupadukan dengan buku-buku yang mungkin sulit dibaca oleh para penggilanya. Mungkin ia jangan sampai dijauhkan dari huruf K kapital yang kesepian di depan museum. Mungkin Kafka tak mungkin dipisahkan dengan sepasang patung yang kencing sembarangan.”

Gudrun Fenna Ingratubun, penerjemah dari Jerman, yang berkali-kali ke Praha pernah menyatakan, “Banyak bangunan yang pernah ada pada zaman Kafka telah hilang pada masa kini. Tetapi segala yang hilang itu, bagi Kafka, justru tampak lebih nyata.”

Saya bingung menafsirkan pernyataan Gudrun sebelum saya ke Praha.Saya juga tidak yakin apakah Kafka benar-benar tidak bisa dipisahkan dari Praha. Untuk menjawab pertanyaan itu, tak ada cara lain sebagai orang yang sedang menulis novel tentang Kafka, saya harus bergegas ke Republik Ceko. Saya harus meninggalkan orang-orang Berlin yang masih sibuk bercengkerama dengan musim gugur. Saya tinggalkan kesuntukan saya meneliti apa pun yang berkait dengan Kafka di ibu kota Jerman yang beberapa kali diterpa badai itu.

                                                                                                                                         ***

SAYA pun memulai perjalanan dari Berlin Hauptbahnhof. Tidak dari Anhalter Bahnhof, stasiun yang harus dilewati Kafka dari Berlin ke Praha atau Praha ke Berlin. Stasiun yang kini tinggal gerbang akibat dibom pada Perang Dunia Kedua itu, tentu tak lagi digunakan. Sekadar tahu di Anhalter Bahnhof-lah Kafka ingin dijemput oleh Felice Bauer sebelum pengarang kelahiran Praha itu punya kekasih lainbernama Dora Diamant. Akan tetapi keinginan tinggal keinginan. Perjumpaan indah di stasiun tidak tidak pernah terwujud sebab Felice tidak ingin menunjukkan hubungan dengan Kafka di depan umum.

Saya tidak tahu apakah perjalanan saya akan menyenangkan? Saya tidak bisa segera menjawab pertanyaan itu. Saya malah teringat ucapan Bram Fernardin, pemilik Restauran Nusantara Berlin, saat menjelaskan konsep “kesenangan” dan “kebahagiaan”.

“Menyenangkan dan tidak menyenangkan itu hanya persepsi. Ke Auschwitz, Polandia, pun, kalau kita bisa menikmati dan memaknai sebagai keindahan, akan jadi perjalanan yang menyenangkan,” kata dia, “Adapun kebahagiaan adalah ketika kita bisa mengubah hal tak menyenangkan menjadi kenikmatan tiada tara.”

Percaya pada ungkapan itu, saya mencoba membayangkan naik kereta pada 1923-1924. Kita tahu pada saat itu bersama Dora Diamant, Kafka tinggal di Berlin.Saya membayangkan bersama-sama Kafka pulang ke Praha. Pulang selalu menjadi magnet indah untuk orang-orang yang bepergian. Itulah sebabnya, saya tak membiarkan mata terpejam sedikit pun. Saya nikmati pohon-pohon berdaun aneka warna yang sebentar lagi akan gugur. Saya nikmati tebing-tebing raksasa bak candi-candi megah dan agung di Bad Schandau. Saya nikmati pemandangan yang seakan-akan baru saja diciptakan Tuhan sejam lalu dan kerap dijadikan subjek lukisan oleh para perupa itu.

Saya yakin meskipun dinikmati pada November 1923, saat 4.000.000.000 mark Jerman hanya bisa ditukar dengan 1 dolar Amerika Serikat, kejernihan air sungai-sungai Bad Schandau akan tetap menguarkan keindahan. Saya juga yakin sulur-sulur di tebing-tebing akan tetap memesona meskipun disaksikan pada saat Hitler (sosok yang kelak selalu dihubungkan dengan pembantaian 6.000.000 orang Yahudi) dan pasukannya tiba-tiba menyerbu Munich Beer Hall untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan demokratis Jerman.

Tentu saya tidak turun di Bad Schandau.Saya harus tetap ke Praha. Ke kawasan yang kerap disebut sebagai The City of K itu.

                                                                                                                                       ***

JANGAN mengira saya akan langsung bertemu dengan sesuatu yang berbau Kafka begitu sampai di Praha. Saat sarapan di salah satu restoran lokal, saya justru bertemu dengan Sto roku samoty Gabriel Garcia Marquez yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Seratus Tahun Kesunyian itu.

Jadi, apa yang harus dilakukan agar segera mendapatkan Kafka? Bertolak dari pengamatan Gudrun bahwa banyak bangunan atau apa pun yang berkait dengan Kafka telah sirna, saya lebih memilih mengunjungi makam Kafka terlebih dulu. Dibanding yang lain, makam Kafka lebih pasti dan lebih ada. Setelah itu, saya bisa mengunjungi tempat kelahiran, tempat Kafka menulis karya-karya terbagus, termasuk Metamorphosis atau Die Verwandlung, Brief an den Vater (Surat untuk Ayah), dan Der Prozess, serta museum.

Agar mendapatkan petunjuk di mana makam Kafka, saya mengunjungi toko buku di tengah kota dulu. Saya mendapatkan Franz Kafka und Prag dan aneka keterangan tentang makam sang pengarang. Saya pun mendatangi New Jewish Cemetery, Zizkov, Praha 3.

Permakaman orang-orang Yahudi ini tidak lebih mencolok dari Don Giovanni Hotel. Bisa dipastikan setiap hari lebih banyak yang mengunjungi hotel cukup besar ketimbang menziarahi makam. Bisa saja mereka datang ke hotel itu untuk mengenang Don Giovanni, opera yang dianggit oleh komposer Wolfgang Amadeus Mozart atau sekadar rehat. Nyaris tak ada peziarah Kafka yang tidur di hotel itu.Mereka yang tidur di hotel itu antara lain ingin menonton Don Giowanni yang antara lain menghadirkan dirigen Plåcido Domingo.

Sayang sekali saya datang tidak pada saat yang tepat. Permakaman itu tutup. Saya hanya bisa menyaksikan  papan bertulisan “Dr. Franz Kafka” bertanda panah ke kanan dan di bawahnya tertulis “250M” dari balik pagar. Keinginan untuk memulai memahami Kafka dari “makam dan kematian” kandas.

                                                                                                                                        ***

SAYA kembali ke kota.  Tak bisa bertemu Kafka, saya rupa-rupanya harus harus berkenalan dengan keelokan Praha terlebih dulu. Saya harus menikmati liku-liku lorong di Mala Strana yang mengingatkan saya pada puisi “Di Mala Strana” Goenawan Mohamad: Tapi ini Praha, kau berkata,/kenangan yang bisa/kita susun/ke dalam rute/kematian kita// Dan hari itu kita pun pergi/ ke Mala Strana/ berpelukan//.

Saya kemudian ke bukit dengan kereta funicular.Praha dilihat dari atas bukit, terutama pada saat malam, kata beberapa pelancong, adalah kawasan kedua yang dihadirkan oleh Tuhan setelah Firdaus tercipta.Gedung-gedung, kastil-kastil, taman-taman, sungai, jembatantak dibiarkan teronggok begitu saja.Benda-benda yang rata-rata kokoh dan kuno itu ditaburi aneka kilau cahaya.

Tentu saya kunjungi Jembatan Charles yang siang malam nyaris tak pernah sepi itu.Saya yakin di jembatan penuh arca–antara lain patung Yesus tersalib dalam ukuran gigantik–Kafka pernah berjalan-jalan menuju kastil atau ke rumah asal. Saya juga yakin ia akan segera menghindari begitu jembatan dipenuhi manusia dan aneka tontonan. Ia bisa saja tak tertarik pada pemetik gitar dan boneka yang senantiasa menari. Ia akan meninggalkanpermainan sulap dan burung-burung merpati yang tak takut pada pelancong.

Tentu saya mengunjungi Franz Kafka Museum.Namun yang paling ingin saya rasakan adalah menikmati Cafe Kafka di Praha 1, Old Town. Saya membayangkan di kafe ini saya bisa menikmati apa pun yang berkait dengan Kafka dalam “suasana masa kini”. Bukan Kafka yang arca.Bukan Kafka yang buku.Bukan Kafka yang sekadar kaus atau cangkir. Saya membayangkan akan ada anggur bernama Metamorfosis atau bir berlabel Gregor Samsa.

Sayang sekali kafe yang bisa menghubungkan saya dengan Kafka masa kini telah tutup.Mungkin tak dibuka lagi untuk selamanya.Namun bukan tidak mungkin dibuka lagi dalam suasana yang lebih modern jika ada investor baru.Alhasil, entah mengapa, saya justru merasa telah berhadapan dengan makam Kafka di tempat yang sangat riuh dan penuh orang selfie ini.

                                                                                                                                       ***

AKHIRNYA sehari kemudian saya bisa mengunjungi makam Kafka di lorong 21 New Jewish Cemetery.Kafka (1883-1924) tidak sendiri dimakamkan di tempat itu.Ada Max Brod, editor karya-karya Franz Kafka. Ada juga sang ayah, Hermann Kafka, yang lahir pada 1854 dan meninggal pada 1931 serta sang ibu, Julie Kafka, yang lahir pada 1856 dan mengembuskan napas terakhir pada 1934.

Tentu saja saya ingin sekali memberi bunga kepada Kafka. Karena itulah, saya bertanya kepada Maria, penjual aneka bunga di depan pintu masuk kompleks permakaman,  bunga apa yang paling sering diberikan kepada Kafka.

“Bunga apa pun,” kata Maria.

“Kaktus?” tanya saya.

“Ya.”

“Kalanchoe?”

“Ya.”

“Calluna?”

“Ya. Pilihlah Calluna. Banyak yang memberikan Calluna pada Kafka.”

Saya menyepakati pilihan Maria. Saya membayangkan akan terasa indah jika ada judul tulisan (entah esai, puisi, atau cerpen) bertajuk “Calluna untuk Kafka” ketimbang “Kaktus untuk Kafka” atau “Kalanchoe untuk Kafka”.

Saya pun membeli bunga seharga 90 korunaitu.

Saya kira sangat layak pria yang oleh Dora disebut “sensual seperti binatang atau anak” itu mendapatkan Calluna dari seorang peziarah dari Jawa.Calluna yang harum itu memang sangat cocok untuk binatang bertulang belakang sesensual Kafka.Tak cocok untuk saya yang masih berjuang keras meriset dan menulis novel Metamorkafka. (Triyanto Triwikromo)