Dari Boerhaavelaan, Dreibergen, hingga Den Haag

Semenjak menjejakkan kaki pertama kali di Boerhaavelaan, nama wilayah ini agak familiar dalam ingatan saya yang kini tengah meneliti tema sejarah peran para ilmuwan alam. Ternyata benar, nama jalan ini diambil dari nama Herman Boerhaave (1668 – 1738). Ia dikenal sebagai seorang botanis, ahli kimia, seorang humanis, dan juga dokter asal Belanda yang masyhur pada masa hidupnya. Boerhaave wafat di Leiden. Dan untuk menghormati peran dan jasa ilmuwan besar ini, tepat di depan jalan masuk Boerhaavelaan dibangun patung penghormatan baginya.

Mengingat jarak tempuh dari Boerhaavelaan ke Universiteit Bibliotheek (UB) Leiden hanya 3, 1 km atau 11 menit dengan berjalan kaki, maka saya sekalian menyempatkan waktu untuk menelusuri informasi tentang sosok ilmuwan ini. Sebuah penelitian dari Rina Knoeff bertajuk Herman Boerhaave (1668 – 1738): Calvinist chemist and physician (2002) yang saya pinjam, menerangkan bahwa Boerhaave adalah perintis pengajaran medis dan perumus konsep akademik rumah sakit. Ia jugalah dokter pertama yang kali pertama menggunakan termometer dalam praktik klinis.

Wajar dengan nama besarnya itu, di Leiden didirikan pula Boerhaave Museum yang terletak di Lange St. Agnietenstraat 10 didirikan pada 1928. (Tapi sayang, museum ini tengah direnovasi, jadi saya tidak bisa masuk ke dalamnya). Boerhaave adalah salah satu bukti dari sekian banyak bukti bahwa Leiden merupakan surga ilmu pengetahuan. Di kota pelabuhan ini, adapula Naturalis Biodiversity Center yang didirikan pada 1820. Koleksi museum ini mencakup hampir 37 juta spesimen yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran bagi pengunjung dan juga penelitian.

Penelitian Pustaka

Pekan kedua, saya mulai membaca sumber-sumber pustaka bertema sejarah sains yang saya pinjam dari UB. Penelusuran data demi data dari sumber-sumber yang meliputi Empire of Reasons: Exact Sciences in Indonesia 1840 – 1940 (1989) karya Lewis Pyenson membuka pemikiran baru tentang bagaimana penyelidikan pengetahuan alam mulai berlangsung di Indonesia. Lantas, dua buku hebat bertajuk Alfred Russel Wallace: Letters from the Malay Archipelago suntingan John van Wyhe dan Kees Rookmaker serta An Elusive Victorian: the Evolution of Russel Wallace karya Martin Fichman, perlahan-lahan membuka bagian misteri dari sosok yang tengah saya cari jejaknya, Buang bin Mohammed Ali, seorang Pribumi yang menjadi asisten dari naturalis Alfred Russel Wallace.

Pun selain membaca buku, pada 17 November saya turut berpartisipasi dalam sebuah seminar di Universiteit Leiden bertajuk “Studying Empire’s Nature: Natural Historical Archives as Digital Challenge and Opportunity” yang dibawakan oleh Dr. Andreas Weber dari Universiteit Twente. Pas benar dengan riset saya, karena riset Weber ini menyajikan arsip-arsip seputar sejarah penelitian alam yang berlangsung pada periode abad ke-18 hingga abad ke-19. Proyek digitalisasi yang ambisius dan tengah dilakukannya ini akan memudahkan para peneliti ilmu alam dan sejarah untuk menelusuri sumber-sumber penting terkait awal aktivitas para peneliti alam di Indonesia.

Berkunjung ke Dreibergen

20 November, pagi hari yang diguyur hujan, saya mendapat undangan jamuan makan di kediaman Siu Ling Koo. Dengan menggunakan kereta dari Leiden Centraal saya menuju Dreibergen, sebuah desa kecil di Utrecht. Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, saya dijemput Siu Ling di Stasiun Dreibergen. Tiba di rumahnya, saya tertawan oleh suasana pekarangan belakangnya yang luas dan indah. Tapi sayang, kondisi cuaca yang tengah berangin kencang saat itu, membuat Siu Ling dan suaminya, Vokker, yang berdarah Belanda tidak dapat menjamu saya di pekarangan rumahnya.

Siu Ling cukup intens menjadi kolega yang saya andalkan dalam mendiskusikan riset dan sumber-sumber yang dibutuhkan. Ia membawa saya ke ruang perpustakaan pribadinya di mana banyak sumber kolonial yang saya butuhkan. Salah satu buku yang saya idamkan karya Kloppenburg Vesrtegh, Het Gebruik van Indische Planten terbitan 1933 menghangatkan pikiran di tengah dingin dan beranginnya cuaca di luar. Kekhusyukan membaca di ruang perpustakaan terputus oleh jamuan makan yang telah dihidangkan oleh Siu Ling. Sajian nasi, ayam goreng, sambal Suriname nan pedas, yang ditutup kelezatan buah kaki diselingi obrolan kami di meja makan membuat suasana sore itu bukan hanya mengenyangkan tapi juga menyenangkan. Selepas jamuan makan, Vokker yang merupakan kolektor seni rupa mengajak saya melihat-lihat koleksi lukisan antik karya para pelukis Belanda yang berasal dari kurun abad ke-17. Salah satu yang menarik adalah lukisan bercitra laut karya Lieve Verschuier yang banyak menyimpan banyak cerita sejarah Belanda. Dan, Vokker menceritakan dengan penuh semangat setiap kisah di balik lukisan-lukisan koleksinya.

Kecewa di KBRI hingga Menelusur Arsip di Den Haag

Setelah kunjungan ke Dreibergen, pada 22 November, saya bersama kawan Agustinus Wibowo mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag. Maksud hati ingin melaporkan keberadaan kami di Belanda selama program Residensi Penulis, kami justru mendapatkan penerimaan yang tidak berkenan. Meski kami hanya sekedar sowan dengan tentu membawa paspor, tapi oleh seorang staf KBRI kami diminta untuk mengisi formulir online terlebih dahulu lalu diminta datang kembali setelah itu. Agar tidak membuang waktu kami bermaksud meminjam komputer KBRI untuk mengisi formulir online di tempat. Tapi bantuan dari staf itu tidak kami dapat. Alasannya komputer tidak bisa dipakai karena rusak. Dan dengan hati kecewa dan menahan diri untuk tidak berdebat di negeri orang, kami memutuskan pergi. Tidak di Indonesia, tidak di luar negeri, citra birokrasi kita sungguh tak jauh panggang dari api.

Untuk melepas kecewa, kami berkeliling kota Den Haag sambil mengambil objek-objek foto yang menarik. Tujuan kami berikutnya adalah Nationaal Archief (Arsip Nasional) Belanda yang terletak tidak jauh dari stasiun Den Haag Centraal. Ketika kami menjejakkan kaki di kawasan ramai Den Haag Centruum, seorang pria Afrika berbadan besar menghampiri dan berkata dengan nada agak tinggi: “hey, you take my picture! You take my picture!” Pria itu ternyata mengincar Agustinus yang membawa kamera DSLR. Kami tidak memedulikan aksi si pria itu, lalu pergi dengan mengambil langkah agak cepat. Kami langsung berpikir si pria itu adalah imigran yang sering mangkal sebagai preman di Den Haag Centruum. Ia tampaknya mencari-cari alasan untuk merampas kamera Agustinus. Syukurlah kami selamat di salah satu kota Belanda yang terbilang rawan kejahatan setelah Amsterdam. Sebelum menuju ke Nationaal Archief, terlebih dahulu kami bertemu dan dijamu makan siang di sebuah restoran Kanton oleh seorang kawan baru saya bernama Ade Siti Barokah, seorang mahasiswa master di Universitas Den Haag.   

Perut sudah kenyang, lantas kami diantar Ade berjalan menuju Nationaal Archief. Letak gedung arsip ini sangat dekat dari Stasiun Den Haag Centraal. Untuk menuju ke sana, kami melintasi kawasan yang banyak dipenuhi patung-patung menarik. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah patung dua perempuan berjilbab tengah berswafoto. Menurut Ade, patung ini menyimbolkan Den Haag sebagai kota yang menjunjung embracing the diversity. Setelah itu kami berpisah dengan Ade.

Akhir petualangan di Den Haag ditutup dengan mengunjungi Nationaal Archief. Di sana, seorang kawan saya, Raistiwar, mahasiswa master sejarah di Leiden University yang tengah meriset arsip telah menunggu kami untuk mengantarkan bagaimana menjadi anggota di Nationaal Archief dan cara mengakses arsip-arsipnya. Betapa senang, keanggotaan Nationaal Archief ternyata gratis. Cukup menunjukkan mengisi formulir secara online (tentu komputer telah tersedia –beda hal dengan di KBRI) dan menunjukkan paspor, maka hari itu juga kami telah menjadi anggota dan bisa mengakses sumber-sumber arsip.

Hari berikutnya di Nationaal Archief saya mulai menelusur sumber penelitian abad ke-18 dan ke-19 pada korpus Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch Indië (terbitan berkala ilmu alam untuk Hindia Belanda) dan Indische taal, land, en volkenkunde (pengetahuan bahasa dan wilayah masyarakat Pribumi) terbitan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (perhimpunan seni dan pengetahuan di Batavia). Sumber-sumber primer inilah “nyawa” bagi penelitian sejarah yang tengah saya lakukan.

Riset arsip ini akan dihubungkan dengan kunjungan saya ke Paris sejak 26 November hingga 3 Desember untuk menemui ilmuwan yang akan menguatkan wacana riset saya. Siapakah gerangan? Tunggu reportase saya dari Paris.