DISPENSER CERITA

Beberapa waktu lalu saya membongkar-bongkar tas kecil yang hampir 2 bulan teronggok di bawah meja. Saya mencari Bording Passkepulangan untuk lampiran laporan. Tas itu sudah seperti gudang. Ada Navigo Pass, berbagai macam tiket, brosur museum, peta, kartu pos, pembatas buku, bon pembelian keju, kartu nama, tisu restoran. Dan berlembar-lembar kertas cerita. Lembaran kertas yang membuat saya menghentikan sementara pencarian.

Saya ingat hari itu.

Satu pagi di sebuah kota kecil di Perancis selatan.Jam di sudut ruang menunjuk angka 09.59. Saya baru saja tertinggal kereta. Di menit-menit terakhir, setelah berlama-lama duduk di bangku taman, saya baru memutuskan untuk naik kereta. Maka, walau sudah menambah kecepatan kaki berjalan, saya sampai di stasiun pas ketika 7 menit lalu peluit kereta berbunyi menandai keberangkatan ke Lourdes. Kereta berikut baru akan tiba dan berangkat 11.53. Waktu yang relatif lama untuk sesuatu yang bernama menunggu.

Saya masuk ke ruang tunggu. Membuka jaket.

Setelah dua hari berada di Tarbes saya seharusnya bisa menandai kalau udara kota kecil itu berbeda dengan Paris. Panas. Tapi saya tidak suka bermain-main dengan udara. Meski saya sudah memeriksa besaran suhu di aplikasi cuaca, saya tetap memakai jaket. Saya tidak ingin pengalaman di hari pertama dan beberapa hari setelahnya kembali berulang.

Ketika saya membereskan isi koper, saya merasa cukup menyiapkan beberapa sweter dan jaket ala-kadar. Selama 60 hari di Paris angka di aplikasi cuaca berkisar di sekian derajat celcius yang rasanya tidak berbeda jauh dengan sekian derajat udara Cileunyi. Paling rendah 8ᵒC. Itupun udara dini hari. Saya pikir, pasti lewat tengah malam saya sudah bergelung dalam selimut atau mengerjakan sesuatu di depan laptop dalam kamar berpenghangat.

Hari pertama kedatangan, saya tiba di bandara Charles de Gaulle sekitar jam 22.30. Angka derajat aplikasi cuaca tertulis 18ᵒC. Saya naik mobil Mbak Iba—yang sudah berbaik hati menunggu lebih dari 1,5 jam dari yang tertera di boarding pass. Saya masuk dalam mobil berpenghangat dari parkiran. Perjalanan dari bandara ke tempat saya menetapsekitar 1 jam. Jadi, kulit saya tidak merasai perubahan udara. Masih setara dengan udara pagi di rumah saya di kaki Gunung Manglayang. Toh, di rumah saya biasa hanya menggunakan kaos tangan panjang. Tidak ada masalah.

Sesampai di Villejuif, mobil parkir sekitar 100 meter dari rumah. Saya membuka pintu mobil. Langsung saja kandung kemih saya penuh serta seluruh pori-pori berdiri. Sejak itu, sebesar apapun angka yang ada di aplikasi cuaca, saya selalu membawa jaket. Saya tidak ingin jadi keledai karena jatuh ke lubang yang sama berkali-kali atau menuduh udara mengkhianati sang aplikasi cuaca.

Saya mulai kegerahan di ruang tunggu stasiun tidak berpendingin itu. Matahari semakin tinggi. Berbanding terbalik dengan sejumlah keinginan saya: melanjutkan membaca, membuat coretan-coretan di notes, atau memotret. Saya seperti Schtroumpf Paresseux, si smurf pemalas. Menyenderkan punggung seperti yang hampir semua orang lakukan dalam ruang 4X4 meter itu.

Di depan saya, seorang perempuan berambut sebahu tampak asyik menyimak berlembar-lembar kertas selebar bungkus rokok.

Excusez-moi. Apa itu?” Tanya saya sambil menegakkan punggung.

Perempuan berbaju hitam itu tampak tidak bisa berbahasa Inggris, tapi mengerti pertanyaan saya. Dia mengatakan beberapa kalimat yang terdengar seperti hembusan angin di daun-daun. Punggung saya semakin tegak. Dia mengubah irama. Bicara dengan sangat pelan, nyaris mengeja kata per kata. Dan, tentu saja, saya tetap tidak paham. Agak lama kali saling pandang sebelum perempuan itu menunjuk tabung semacam dispenser di belakangnya.

“Oh. Kertas itu dari situ?” Tangan saya menunjuk kertas dan menunjuk tabung yang ditunjuknya.

Oui.”

“Bisa saya ambil?”Jari tangan saya bergerak seolah mengambil kertas dari tangannya.

Oui.”

Gratuit?” Saya tidak perlu bahasa tubuh untuk kata yang sejak hari pertama di Prancis sudah sangat lekat.

Oui.”

Saya dan perempuan itu sama menarik napas. Saling melempar senyum. Kami baru saja menyelesaikan satu pekerjaan yang teramat berat.

Merci.”

Saya hampiri tabung oranye yang ditunjuk perempuan itu. Di bagian atas tabung terdapat papan transparan bertuliskan “Votre gare vous offre un petit plaisir à lire”, “Distributeur d'histoires Courtes”, “Choisissez votre temps de lecture”, “1 minute 3 minute 5 minute”.

Beberapa kata, secara intuitif, saya pahami artinya. Arti keseluruhan? Saya berserah pada nasib baik. Kemungkinan terburuk akan ada raungan sirene lalu polisi muda belia bak pemain sinetron berdatangan. Tidak terlalu buruk untuk mengisi waktu menunggu. Kemungkinan terbaik, saya akan tiba di depan Santuaire Notre Dame de Lourdes tanpa harus naik kereta.

Saya nekad menekan “5 minute”. Tidak ada adegan dramatis keluar asap atau bunyi sirene. Dari lubang di bagian depan tabung keluar kertas sekitar 60 sentimeter. Saya tekan “3 minute” dan “1 minute”. Lembar-lembar kertas lebih pendek keluar.Saya tekan lagi tombol itu lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Seorang laki-laki berkulit hitam yang duduk di kursi pojok terdengar batuk.  Suara batuk yang keras dan panjang. Mungkin batuknya tidak berhubungan dengan tangan saya yang menekan-nekan tombol serta mengumpulkan kertas-kertas dari tabung itu, tapi cukup untuk mengakhiri kegirangan infantil saya.

Saya duduk kembali. Di lembaran-lembaran halus, setipe kertas dari ATM, saya mendapatkan kisah percintaan, “Au Balajo” dan “Le Chemin”; puisi Baudelaire “La Belle Dorothée”; kisah fantastik, “Europinou et la GrandeTache Rouge (2)”; puisi abad ke-19,“Le Jaguar”; kisah sains fiksi, “Nos Loisirs Nous Aliènent”. Yang, tentu saja, kesemuanya belum bisa saya baca ketika itu.

Kemudian hari, saya tahu kalau tabung itu benar-benar dinamai “The Short Story Dispenser”. Penemuan itu merupakan inovasi komunitas literasi dari Grenoble, satu kota di tenggara Perancis, Short Edition. Sejak 2011, platform komunitas itu telah mewadahi 6.800 penulis—Perancis menurut lembaga riset Ifop (The Institut français d'opinion publique - French Institute of Public Opinion) adalah “negara penulis” dengan 17% penduduknya minimal menulis satu manuskrip.

Di dalam dispenser terdapat ribuan cerita singkat, yang bisa dibaca antara 1-5 menit, dengan berbagai genre dan tema. Cerita yang keluar tidak pernah sama—seperti permainan tebak buah manggis—mungkin mendapat kisah horor, puisi jaman romantik, drama, atau kisah detektif.

Komunitas Short Edition, melalui satu komite, memilih cerita terbaik dari para penulisnya untuk dimasukkan dalam dispenser yang kini sudah go internasional. Dari kontrak pemakaian Dispenser Cerita Pendek—di Perancis, antara lain, Kementerian Luar Negeri dan Pembangunan Internasional, perusahaan kereta api SNCF, Hermes Paris, dan Penn State—penulis mendapat royalti setiap kali ceritanya diakses. Selain itu, tentu saja, Dispenser Cerita Pendek menjadi kesenangan dan teman menunggu untuk pembaca.

Saya memindahkan kalimat per kalimat dari lembaran itu ke aplikasi penerjemah.Baru dua atau tiga paragraf saya menyalin cerita ketika alarm di telepon saya berbunyi. Penanda 10 menit lagi kereta datang. Saya membereskan notes, pulpen, dan lembaran-lembaran cerita sambil membayangkan menemukan tabung sejenis di Stasiun Cicalengka. Saya pasti bergegas menghampirinya, menekan tombol, dan bersiap dikejutkan oleh cerita jagoan silat dari Kembangan, atau kisah jenaka penulis “sakses”, atau puisi tentang kemiringan tiang listrik.

Saya tersenyum sekaligus tersentak.

Saya menghentikan langkah sebelum memasuki gerbong kereta, cepat-cepat kembali ke ruang tunggu. Untuk kesekian kalinya, jaket saya tertinggal.**