HOMO PLASTICICUS CELLULARAE

“Jesus loves you! Jesus loves you!” Lelaki bertubuh besar itu berseru pada tiap orang yang berpapasan dengannya sembari bergegas entah ke mana. Sosoknya  dengan cepat lenyap di antara orang-orang yang memadati trotoar. Tottenham Court  Road sore itu ramai. Seruan lelaki tadi segera punah ditiban bunyi-bunyi lain yang sigap menyergap telinga: simpang siur percakapan, klakson mobil, batuk berdahak, teriakan gagak, sirine di kejauhan. 

 

September 29. Musim gugur agaknya telat sampai di London, meski daun-daun sudah menguning di mana-mana, udara hangat, 16 derajat. Saya dan David duduk di luar Planet Organik, masing-masing dengan segelas kopi. “Orang masih berbicara tentang Tuhan di jalan,” kata saya, “seperti 2000an tahun yang lalu.” David, teman saya yang sedang didera program S3 di Architectural Association, hanya tertawa. “Mungkin karena kita masih manusia,” lanjut saya.

 

Kalimat terakhir itu membuat David seketika bersemangat. “Ada satu acara menarik,” katanya. Dia lalu bercerita tentang sebuah kuliah di Het Nieuwe Instituut dari Beatriz Colomina dan Mark Wigley tentang buku baru mereka, “Are We Human?: Notes on an Archeology of Design”.

 

Di dalam “Are We Human?” Colomina dan Wigley menggunakan pendekatan arkeologis yang mereka jelaskan sebagai rekonstruksi dari fragmen-fragmen parsial. Sejarah desain menjadi celah untuk berspekulasi tentang the plastic human, sebuah kualitas dan kapasitas yang menegaskan bahwa manusia adalah binatang dengan ketidakstabilan yang radikal. Plastisitas ini adalah penyebab utama impak  manusia yang masif terhadap kehidupan di dunia. Semakin mudah dibentuk dan semakin tidak selesai makhluk ini, semakin ekstrim pengaruhnya. Dan secara simultan, proses mengubah (mendesain ulang) dunia itu juga mengubah (mendesain ulang) dirinya.

 

Dalam premisnya, Colomina dan Wigley menawarkan satu tesis bahwa sesungguhnya apa yang membuat manusia manusia bukan berada dalam tubuh dan otaknya atau bahkan di himpunan kolektif sosialnya, melainkan  pada kesalingtergantungannya dengan artifak-artifak. Manusia mengambang dalam pusaran bolak balik yang kompleks dan menerus antara dirinya dan artifak-artifak, sebuah tegangan yang pada akhirnya membaurkan perbedaan di antara keduanya. You are what you design.

 

Saya terdiam. Dengan otak riuh. Di tangan kanan saya, sebuah gelas kertas, produk dari desain yang memungkinkan perilaku habis manis gelas dibuang. Di atas meja, piring dengan garpu dan pisau bekas pakai – hasil peradaban yang tidak membolehkan saya makan langsung dengan jari. Di bawah pantat, sebuah kursi – perabot yang telah mengalami evolusi ribuan tahun dan membuat kita sering lupa berdiri. Di depan saya, seorang laki-laki malu-malu memungut sebungkus kondom, yang terjatuh ketika ia mengeluarkan dompet – perangkat yang mengubah secara revolusioner perilaku seksual dan reproduksional kita. Di samping kami, orang berlalu lalang dengan cepat. Negara pertama penghasil mobil dan kereta yang memudahkan perpindahan orang dan barang dengan cepat ini akhirnya mungkin jadi negara penghasil manusia-manusia dengan roda di kakinya.

 

Jika kita telah begitu terjerat dalam jaring-jaring produk-produk desain, yang  tanpa sadar telah mengubah hidup dan perilaku kita, apakah kita masih manusia yang sama? Atau sebetulnya kita telah jadi spesies baru?

 

David melongok arlojinya dan bilang kalau dia harus pergi. Ada janji lain. Sebelum berpisah, ia meminta saya mengunduh City Mapper, sebuah aplikasi  selular yang tidak memberi kita kesempatan tersesat dan terlambat. Semua moda transportasi tercatat (kereta, bis, motor, uber, taksi, kaki): asal, jalur, dan tujuannya, lengkap dengan waktu berangkat, tempuh, dan tibanya. “Buang waktu kalau sampai kesasar,” ujar David. “Sejauh batereihape masih ada, kamu akan selamat.” Ia mengatakan itu penuh keyakinan sebelum berlalu dengan daag yang terburu-buru.

 

Well. Seperti agama, maha canggih telepon selular dengan segala fiturnyakini akan menjamin keselamatan saya. Dan seperti juga terhadap agama, saya tergoda untuk murtad. Lagipula saya senang kesasar. Kesasar membuat saya menemukan kejutan-kejutan yang tidak ada di peta, dan mungkin tak bisa saya jumpai lagi. Namun, mengingat bahwa saya harus ngebut ke stasiun Earls Court menjemput Debby dan Nuril untuk sama-sama mengejar jadwal kereta ke Norwich – tujuan berikut dari London – yang sudah mepet, saya pasrah.

 

Demikianlah, saya mengikuti semua petunjuk dari City Mapperdengan kepatuhan seorang umat. Satu di antara berbondong-bondong yang lain, yang bergerak dalam ruang personal masing-masing. Jalan kaki ke stasiun Tottenham Court Road. Peta tersedia. Ambil Northern Line menuju Morden. Turun di stasiun Leicester Square. Satu stop. Pindah platform. Ambil Piccadilly Line menuju barat. Gerbong di tengah adalah yang terbaik. Setelah 6 stop – Piccadilly Circus, Green Park, Hyde Park Corner, Knightsbridge, South Kensington, dan Gloucester Road – turun di stasiun Earls Court. Perkiraan waktu tempuh: 19 menit.

 

Catatan (dikutip dari “Are We Human?: Notes on an Archeology of Design”):

Hari ini, telepon selular telah menjadi bagian integral dari tubuh dan otak. Ada lebih banyak telepon selular aktif di planet ini dibandingkan dengan manusia. Dua pertiga dari populasi manusiapunya paling tidak satu, dan lebih dari 80 persen memiliki akses ke telepon tersebut. Lebih banyak orang punya akses ke telepon selular dari pada ke toilet dan dengan segera akan ada lebih banyak orang punya telepon selular dari pada listrik. Persepsi, interaksi sosial, memori, bahkan pemikiran, telah menjadi semakin selular. Perangkat ini bukan lagi sebuah aksesori di dalam kehidupan manusia melainkan hal yang mendasar dari sebuah jenis baru kehidupan. Spesies manusia versi baru telah tiba.

 

Di stasiun tujuan, saya dilepehdari kereta bersama ribuan kami: homo plasticicus cellularae.

Avianti Armand