Jamur Cahaya dari Kawali

Si teteh yang tidak saya ketahui namanya sedang meletakkan beberapa butir kacang tanah goreng di atas cobek batu ketika belasan orang memotong dan meraut bambu, lalu menyulapnya menjadi obor, panggung, anyaman, dan lain sebagainya di sekitaran situs Astana Gede, Kawali. Si teteh, seperti kebanyakan perempuan Sunda yang saya temui, memiliki kulit bersih dan sehat. Dengan logat yang terdengar empuk di kuping saya, empat menit sebelumnya, dia bertanya saya mau pesan apa. Tidak banyak yang bisa dipilih di warung kecil dengan hanya satu meja panjang berwarna putih dan empat kursi plastik hijau itu. Pecel dan seblak. Waktu itu masih pagi, tak lebih dari jam sembilan. Di Mojokerto dan Surabaya – dua tempat di mana saya sering bolak-balik satu setengah tahun terakhir – saya kerap menyantap pecel untuk mengawali hari. Saya membayangkan rasa pahit kembang turi atau wangi kemangi yang diguyur sambal kacang kental bercampur dengan renyah rempeyek kacang. Air liur saya terbit. Tanpa berpikir panjang, saya memilih pecel untuk menjawab pertanyaan si teteh. Keraguan bahwa saya tidak bakal mendapatkan pecel seperti yang saya bayangkan sudah muncul sewaktu si teteh mulai bekerja. Alih-alih mengambil gumpalan bumbu yang sudah dihaluskan seperti di Surabaya atau Mojokerto, si teteh justru meraup sejumput kacang tanah goreng. Itu memang bukan perkara besar. Toh, untuk membuat sambal pecel, bagaimana pun bahan bakunya memang kacang goreng yang dihaluskan. Namun, perbedaan prosedur itulah yang membuat saya ragu. Di Surabaya atau Mojokerto, penjual selalu menyiapkan sambal kacang yang sudah dalam bentuk gilingan, tinggal ditambah air sebelum disajikan. Cara kerja si teteh lebih mengingatkan saya pada cara kerja tukang rujak. Setelah mengambil kacang goreng, si teteh menambahkan sejumlah bumbu lain yang tidak saya ketahui. Keraguan saya bertambah melihat bagaimana ia mengambil sayur mayur bahan baku pecel pesanan saya. Kacang panjang yang diiris pendek-pendek, yang secara lucu tetap saja disebut kacang panjang, lalu timun yang dirajang, kecambah, kubis, dan tahu goreng bewarna kuning. Kesemua bahan itulah yang kemudian diguyur oleh sambal kacang bikinannya, sambal kacang yang bukan hanya berbeda tekstur dengan sambal kacang pecel dalam bayangan saya, melainkan juga rasa dan warna. Perbedaan pecel di Kawali – sebuah kecamatan di Ciamis yang konon berabad-abad lampau menjadi pusat dari Kerajaan Galuh – yang encer dan terang warnanya disempurnakan dengan tambahan kerupuk kecil-kecil berwarna merah untuk menggantikan rempeyek kacang. Dengan rakus, saya menyantap hidangan itu. Dalam waktu tak lebih dari tujuh menit, pecel dan sepiring nasi telah tandas. Saya mengakhiri acara santap pagi tersebut dengan segelas teh pahit gratis. Ketika bersendawa seraya menyalakan rokok, saya mengenang rasa pecel tersebut dan mengidentikkannya dengan gado-gado yang biasa saya makan di Surabaya. Namun apa yang barusan masuk ke lambung saya bukanlah gado-gado. Ia pecel. Ia bernama pecel dan orang-orang di Kawali menyebutnya pecel dan karena itu ia adalah pecel, tak peduli ia berbeda dari pecel yang saya tahu sebelumnya.

Saya adalah orang yang memiliki sedikit sekali pengalaman bepergian. Paling-paling, seperti saya sebut sebelumnya, hanya sekitar Surabaya dan Mojokerto, sesekali ke Malang. Semua masih berada dalam wilayah provinsi Jawa Timur. Tidak banyak yang berbeda dari ketiga kota itu. Ketika saat ini, saya menyantap pecel yang benar-benar tidak sama dengan pecel di Jawa Timur (atau di ketiga kota yang biasa saya kunjungi) hal itu membangkitkan kesadaran saya. Pecel, barangkali, adalah juga wajah Indonesia. Ia bisa berbeda-beda di satu daerah dengan daerah lain. Namun ia tetaplah bernama pecel. Kita tentu boleh tidak menyukai fakta seperti itu, namun kita tidak memiliki hak untuk menolaknya. Saya tidak mungkin berkata kepada si teteh bahwa apa yang disajikannya bukanlah pecel dan memaksakan pengetahuan saya tentang pecel kepada si teteh. Saya tidak bisa menyebut si teteh adalah seorang “kafir” dalam hal perpecelan dan karena itu ia tidak boleh tinggal di Indonesia. Tidak, tentu saja tidak seperti itu.

Pengalaman bersama si teteh penjual pecel terjadi pada hari keempat kedatangan saya di Ciamis. Kereta Mutiara Selatan kelas Bisnis dengan tiket seharga 280.000 membawa saya dari Surabaya pada pukul tujuh malam tanggal 21 Juli 2018 dan menurunkan saya di Stasiun Ciamis keesokan harinya, Minggu tanggal 22 Juli 2018. Seorang tukang ojek dengan tubuh kekar dan senyum mengembang menyambut saya di pintu keluar stasiun subuh itu. Saya, yang sebelumnya telah berjanji untuk bertemu dengan seorang penyair, Willy Fahmi Agiska, di Taman Rafflesia, segera menanyakan kepada tukang ojek itu berapa tarif menuju ke sana. “Lima belas ribu,” jawab tukang ojek. “Jauh Kang,” lanjutnya. Saya percaya. Dengan tas besar di punggung dan tas selempang di depan, saya agak susah menaiki ojek. Ojek tancap gas tanpa si pengemudi mengenakan helm atau menawarkan saya memakai pelindung kepala seperti yang diharuskan undang-undang. Belum selesai saya membetulkan letak pantat, ojek berhenti dan pengemudinya mengatakan bahwa kami sudah sampai di Taman Raffesia. Saya turun dan memaki dalam hati. Sekitar tiga jam kemudian, pengalaman naik ojek ini dijadikan bahan lelucon oleh beberapa orang yang menunggu saya di situs Astana Gede, Ciamis.

Seharusnya, saya berangkat ke Ciamis pertengahan Agustus. Namun, pada akhir Juni, pasangan penyair Toni Lesmana dan Wida Waridah menghubungi saya dan mengatakan akan lebih baik bila jadwal residensi saya dimajukan ke akhir Juli. “Kalau kamu pingin tahu bagaimana peristiwa Bubat di mata orang-orang Ciamis, maka kamu mesti nonton Nyiar Lumar,” kata mereka.

Dan begitulah. Saya berangkat seminggu sebelum acara Nyiar Lumar, menyaksikan anak-anak muda berjibaku mempersiapkannya, ikut bermalam di Bale Paminton yang berjarak sekitar dua puluh meter dari Astana Gede dan mendengar banyak cerita tentang acara dua tahunan yang sudah dilangsungkan sembilan kali (tahun 2018 ini adalah penyelenggaraan kesepuluh) tersebut. Godi Suwarna, salah satu penggagas acara itu dan orang yang paling bertanggung jawab terhadap pemilihan nama Nyiar Lumar sebagai tajuknya (Nyiar Lumar secara harfiah berarti Mencari Jamur Cahaya), mengatakan bahwa ini semua bermula pada tahun 1998. “Awalnya adalah pentas teater, pada malam sebelum Soeharto lengser,” katanya.  “Suasana agak panas waktu itu. Sejumlah mahasiswa dan aktivis yang habis demo di Jakarta turut bergabung. Beberapa di antara mereka masih mengenakan ikat kepala bertuliskan Reformasi. Aparat mengingatkan supaya acara itu tidak menyinggung-nyinggung masalah politik. Namun ada saja yang berteriak Gantung Soeharto ketika itu,” kenangnya seraya tertawa.

Pada hari-hari persiapan Nyiar Lumar itu, saya beberapa kali masuk kompleks Astana Gede. Beberapa personel tim kreatif acara tampak sibuk memasang tiang obor, penyangga serta alas panggung, umbul-umbul, dan kain-kain yang dililitkan. Sementara itu, sekelompok anak muda tengah tenggelam dalam latihan teater dan tari. Saya masih berada dalam naungan letih yang sangat karena belum sempat beristirahat setelah perjalanan dari Surabaya sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di gerbang Astana Gede. Ada dua penjaga yang bertugas menarik karcis seharga tiga ribu rupiah di sana. Namun, karena saya masuk bersama Godi Suwarna dan Toni Lesmana, saya terbebas dari kewajiban tersebut. Dua sastrawan yang masih bersaudara tersebut memainkan peran yang baik sebagai pemandu. Toni Lesmana menunjukkan tempat perabuan Dyah Pitaloka dan Prabu Linggabuana, dua tokoh sentral dari Sunda dalam peristiwa Bubat. Dekat sekali dengan dua perabuan itu, terdapat sejumlah makam Islam. Saya segera disergap semacam kesingunan di sana. Kesingungan khas yang hanya dimiliki oleh situs-situs semacam itu. Kesingungan yang serupa, dengan kadar yang berbeda, juga pernah saya rasakan di Mojokerto sewaktu saya berkunjung ke petilasan Raden Wijaya atau Makam Panggung. Lantas, kesingungan itu digantikan oleh kesadaran lain. Betapa damai, dalam pikiran saya, dua ujung kehidupan duniawi dari dua agama yang berbeda tersebut berdampingan. Dalam jarak tak lebih dari lima meter belaka. Sebuah kedamaian yang hari-hari ini sukar kita temui ketika kata-kata kafir begitu mudah diobral dan segala perbedaan menjadi sesuatu yang, alih-alih menyatukan, justru digunakan untuk menyulut dan mengobarkan kebencian. Saya teringat si teteh penjual pecel. Saya teringat pecel si teteh. Saya teringat bumbu dan sayur mayur yang berbeda itu.

Figur-figur menyeramkan mengawali gelaran Nyiar Lumar, 28 Juli 2018, sejak pukul 9 pagi. Mereka mewujud dalam bentuk Bebegig dan Buta Kalaras yang diarak di jalan-jalan sekitaran kantor kecamatan Kawali dalam acara Helaran. Namun Wayang Landung yang lembut melunakkan kebengisan tersebut. Malam harinya, di dalam kompleks Astana Gede, saya mendapatkan konfirmasi perkataan Wida Waridah perihal bagaimana masyarakat Ciamis memandang peristiwa Bubat. Mereka menafsir dan menghadirkan ulang kisah itu dalam bentuk teater yang disutradarai oleh Didon Nurdani. Saya seperti melihat visualisasi Kidung Sunda dalam sebagian besar adegannya. Saya melihat sosok Gajah Mada sebagai sosok antagonis sejati, sosok yang demi ambisinya menyatukan nusantara melancarkan hasud sehingga peristiwa yang sedianya dimaksudkan sebagai upacara pernikahan itu berubah menjadi pembantaian. Saya melihat, pada akhir pertunjukan, betapa harapan akan kebesaran lahir dalam diri Wastukancana. Mereka memupus dendam – bukan melupakan peristiwanya – dan  terlahir kembali sebagai sesuatu yang lebih besar, lebih agung. Di kemudian hari, Toni Lesmana menyampaikan tafsirnya atas peristiwa Bubat tersebut. “Sisi lain yang bisa kita lihat adalah bagaimana sekelompok orang, dalam jumlah yang sedikit, yang bisa kita anggap minoritas, bersedia mempertahankan dan mempertaruhkan kehidupan mereka ketika mereka ditindas oleh orang-orang dalam jumlah besar, atau mayoritas,” ujarnya. Teater Bubat tersebut bukanlah satu-satunya pertunjukan malam itu. Diawali dengan Lalampahan – berjalan bersama dari pendopo kecamatan Kawali menuju kompleks Astana Gede melewati jalan setapak, persawahan dan tepi kolam dengan obor sebagai penerangannya – pengunjung disambut dengan musik lesung yang dimainkan ibu-ibu sebelum sampai ke kompleks Astana Gede. Setelah itu, di lapangan depan Bale Paminton, digelar pertunjukan dari kontingen Bali. Penonton yang sepertinya lebih dari seribu membuat saya kesulitan mendekati lokasi dan sebagai akibatnya, dengan berat hati, saya mesti melewatkannya dan memilih mencari lokasi yang strategis supaya saya bisa masuk ke dalam Astana Gede. Di dalam kompleks Astana sendiri, masing-masing panggung memiliki pertunjukannya sendiri, mulai dari karinding hingga pembacaan puisi dan fiksi mini dalam bahasa Sunda. Para penonton menyusuri jalan setapak, berpindah dari satu panggung ke panggung lainnya. Ada sensasi unik ketika saya berada di sana, di tengah semua pertunjukan yang menggunakan bahasa Sunda sepenuhnya, bahasa yang tidak saya pahami. Namun saya menikmati bunyi-bunyian – baik yang berasal dari alat musik mereka maupun yang dihasilkan dari bahasa Sunda itu sendiri.

Selama seminggu di Kawali, saya menyempatkan diri mencari lumar, si jamur bercahaya. Namun gagal. “Belum musimnya,” ujar seorang penduduk setempat. Namun, seusai acara Nyiar Lumar, saya menemukan jamur cahaya yang lain, jamur cahaya dalam wujud pecel, dalam komposisi perabuan dan makam Islam di kompleks Astana Gede, dalam sensasi pertunjukan-pertunjukan yang tidak saya mengerti bahasanya, dalam ujung teater Bubat di bawah guyuran cahaya bulan purnama.

Pada hari ketujuh, sewaktu panggung-panggung Nyiar Lumar sudah dikemasi, yang tersisa tinggal keheningan yang panjang, juga badan remuk akibat begadang selama seminggu. Saya bangun agak siang, lalu buru-buru pergi ke apotek untuk membeli obat. Wasir yang kambuh sehingga menghalangi saya berpartisipasi dalam Ronggeng Gunung yang menutup acara Nyiar Lumar tahun ini (meski nama saya, atas bisikan Godi Suwarna, berkali-kali dipanggil Bi Raspi sang ronggeng) butuh segera diatasi.