Kang Stefano

Stefano Romano nama lengkapnya. Ia lebih senang dipanggil Kang Stefano. Ia fotografer yang sering terlibat pada kegiatan pameran yang diselenggarakan Komite Buku Nasional, serta seseorang yang sangat mencintai Indonesia. Buku fotografinya yang berjudul Kampungku Indonesia diterbitkan oleh penerbit Mizan. Setelah beberapa kali bertukar kabar lewat aplikasi WhatsApp sebelum saya tiba di Roma, kami memutuskan bertemu di sekitar Perpustakaan Pusat Nasional Roma, pada hari Rabu, 19 Juli 2017, setelah pukul 15.00. Stefano meminta saya untuk menunggu di depan gerbang perpustakaan. Saya mengiyakan, dengan berpikir bahwa saya bisa menunggunya di salah satu kedai pizza (pizzeria) di depan perpustakaan setelah perpustakaan tutup pada pukul 13.00. Begitu keluar dari perpustakaan dan kehilangan akses wi-fi, komunikasi saya dengan Stefano pun terhenti. Kartu seluler saya dari Indonesia tidak saya aktifkan paket internetnya karena akan terkena tarif roaming, sementara kartu dari salah satu penyedia jasa seluler internasional di Italia tidak juga dapat digunakan untuk mengaktifkan paket internet. Waktu menunggu saya gunakan untuk berkeliling sebentar sebelum memasuki sebuah kedai pizza di dekat pintu keluar stasiun metro Casto Pretorio dan membayar 4 euro untuk sepotong pizza dan satu botol air mineral berukuran kemasan setengah liter.

Saya berjalan keluar dari kedai pizza ketika melihat Stefano muncul dari tangga stasiun, dan menyeberangi jalan untuk menemuinya. Kami sepakat untuk mencari kedai di sekitar perpustakaan yang nyaman untuk dijadikan tempat mengobrol, dan akhirnya berhenti di salah satu kedai dekat perpustakaan. Kami duduk sebentar di kedai tersebut, membicarakan beberapa hal secara singkat, mulai dari puisi hingga fotografi, dari penginapan di Roma hingga toko buku. Kami menggunakan bahasa Indonesia sepanjang perbincangan. “Biar saya tidak lupa berbicara bahasa Indonesia,” kata Stefano. “Tahun lalu, ketika diskusi buku saya di beberapa kota di Indonesia, saya berbicara menggunakan bahasa Indonesia.”

Keluar dari kedai, Stefano mengajak saya berjalan kaki untuk menunjukkan sebuah toko buku di dekat stasiun metro Repubblica, toko buku favoritnya, dan mengatakan ia telah membuat janji dengan temannya pada pukul 16.00. Sepanjang jalan dari kedai ke toko buku, kami berpapasan dengan beberapa imigran. Saya melempar pernyataan kepada Stefano, “Di Roma banyak sekali migran, Kang.”

“Iya, isu migran menjadi perhatian saya,” katanya sebelum melanjutkan bahwa komunitas migran adalah isu yang selalu menarik baginya. Perjumpaan Stefano dengan komunitas migran bermula pada tahun 2009 dengan komunitas Bangladesh. Percakapan kami pun berlanjut ke isu-isu toleransi yang ada di Indonesia hingga kami tiba di Piazza della Repubblica.

“Ada dua bagian dari toko buku ini,” kata Stefano begitu kami tiba di depan salah satu pintu toko buku Feltrinelli, “ini bagian yang menjual buku-buku berbahasa Italia, dan di sana untuk buku-buku berbahasa asing.”

Kami berkeliling sebentar ketika memasuki ruangan Feltrinelli internasional yang menjual buku-buku berbahasa asing, kemudian memasuki bagian berbahasa Italia. Koleksi bagian “klasik” dari Feltrinelli Italia jauh lebih banyak dari yang kami temukan di Feltrinelli internasional. Kategori “klasik” dalam toko buku Feltrinelli, sebagaimana kelak saya temukan di beberapa toko buku lain di Roma, merujuk kepada karya-karya yang ditulis oleh para penyair Yunani dan Romawi klasik, dengan sebagian besar karya melampirkan teks-teks asli berbahasa Yunani dan Latin pada halaman genap dan terjemahan berbahasa Italianya pada halaman ganjil. Kami keluar setelah saya mengambil satu buku koleksi lengkap karya-karya Dante Alighieri, berfoto beberapa kali di Piazza della Repubblica sebelum berpisah.

Kami meminta tolong seorang gadis yang duduk di depan kami untuk mengambil foto menggunakan ponsel saya. Setelah menyampaikan ucapan terima kasih, kami melihat hasilnya. Karena cahaya latar belakang kami terlalu terang, wajah kami jadi tak begitu jelas terlihat. Stefano akhirnya memberi usulan.

“Mungkin kamu tidak terlalu suka, tapi, ayo, kita selfie saja,” katanya sambil menerima ponsel saya.

Setelah berswafoto, Stefano pamit untuk melanjutkan perjalanan menemui temannya melalui stasiun Termini. Saya hanya perlu berjalan beberapa langkah untuk memasuki stasiun Repubblica dan mengambil metro jurusan Battistini.

Persoalan imigran yang saya lemparkan kepada Stefano kelak saya ingat kembali ketika memasuki Basilika Santo Petrus Vatikan untuk kedua kali dan memandang Pietà di sudut kanan dekat pintu masuk basilika. Belum genap setahun, seorang imigran asal Ghana pernah melakukan perusakan terhadap patung-patung dan barang-barang dalam empat situs peribadatan di Roma. Pietà tentu punya sejarah yang mirip, dan penyerangan terhadap Pietà mungkin salah satu yang terkenal. Pada Minggu Pentakosta 1972, Laszlo Toth, seorang Hungaria, menghantam karya terkenal Michelangelo Buonarroti itu dengan martil beberapa kali. Pietà cacat karena penyerangan meskipun telah direstorasi, tapi saya melihat ada keindahan yang aneh di balik itu: tilas-tilas restorasi menampilkan dukacita yang begitu akrab, yang justru tidak saya temukan pada wajah Maria yang tampak begitu muda, pada Yesus yang rebah, meski salib lengang melatari dua tokoh dari fragmen penyaliban itu. Dukacita itu kian lengkap dengan ketakutan ketika Pietà diperangkap kaca anti-peluru. Mungkin duka dan ketakutan jugalah yang mendorong imigran-imigran itu meninggalkan tanah air mereka dan datang ke Roma, “Kota Abadi”, tempat Tuhan dan para dewa bertarung memperebutkan manusia-manusia dan sejarahnya.

 

Mario F. Lawi