KONSTANTIN BIEBL: DILEMA SEORANG PENYAIR

KONSTANTIN BIEBL: DILEMA SEORANG PENYAIR

Zen Hae                                                 

“Di sini ini Biebl kadang-kadang datang dan membacakan sajak-sajak pendeknya untuk bercanda,” kata seorang tua dari seberang meja kami.

Ia orang tua yang bersemangat saat membicarakan seorang penyair yang lahir di desa kelahirannya, Slavětín. Ia, juga orang-orang tua lainnya di meja besar itu, adalah orang-orang yang menikmati hidup dengan mengunjungi kedai bir pada suatu sore yang dingin. Untuk sekadar meneguk bir dingin atau bersua dengan kawan-kawan sedesa sambil mengobrol ngalor-ngidul tentang situasi terkini.

Kedai bir itu mungkin satu-satunya kedai di Slavětín. Letaknya  tidak jauh dari gereja Santo Yakobus Yang Agung—satu-satunya gereja di desa itu. Setelah gereja menjadi serupa museum, kedai bir itulah tempat pertemuan warga desa yang tanpa jadwal dan juru khotbah. Kami mampir ke kedai itu pada 28 Oktober silam, setelah hampir dua setengah jam berjalan kaki dari pemberhentian bus terakhir, dipukul udara dingin dan angin kencang, melintasi perkebunan mahaluas dan hutan kecil, rumah-rumah tua dengan biri-biri dan angsa—sempat pula kami mampir di permakaman tua Yahudi di Hřivčic.

Misha, penggagas kunjungan ini sengaja memilih 28 Oktober karena tanggal itu berkaitan erat dengan Republik Ceko dan Republik Indonesia. Pada 28 Oktober 1918, Cekoslovakia menjadi negara republik yang merdeka dari Imperium Austo-Hungaria. Sementara pada tanggal yang sama satu dasawarsa kemudian, sejumlah kelompok anak muda nasionalis dari antero Hindia Belanda mencetuskan Sumpah Pemuda di sebuah rumah pondokan milik warga Cina Peranakan Batavia. Salah satu keputusannya adalah “Menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia”.

Saya, Misha, Filip dan Marketa (ditemani dua ekor anjing) datang dari Praha ke Slavětín untuk Konstantin Biebl, seorang penyair terkenal di Republik Ceko. Terlebih-lebih di desa kelahirannya ini Biebl menjadi sosok yang sangat penting. Hampir setiap orang di desa ini mengenalnya. Saking pentingnya, seruas jalan pendek yang membelok dari kedai bir dan menuju rumahnya dinamai dengan namanya: Bieblova—sementara di Louny, tidak jauh dari desa ini, ada jalan Bezejmenná, yang berarti “tanpa nama”.

Slavětín adalah sebuah desa kecil di lembah, tidak jauh dari Louny, di barat laut Praha. Jika kita memandanginya dari ketinggian tepi hutan—tempat pertama kali kami datang—dalam sekali tatap akan selesailah penampakan desa itu. Tentu saja, yang paling mencolok dari desa kecil itu adalah menara gereja Santo Yakobus Yang Agung yang abu-abu-runcing. Selebihnya adalah rumah-rumah beratap cokelat-merah-terang, tidak jarang abu-abu, di haribaan bentang luas-hijau dan sisa-sisa gunung api di kejauhan.

Rumah-rumah di desa itu seperti tak berpenghuni. Ketika kami memasuki desa itu, hanya tampak satu mobil berhenti kemudian parkir di seberang gereja. Kami menyeberang. Dedaun gugur sepanjang jalan kecil menuju gereja—membuat keharuan saya tambah otentik dan teramat ingin membuat puisi lirik yang mendayu-dayu. Di depan pintu masuk gereja tampak tiga orang tua yang tengah bercakap-cakap. Mereka kemudian memberi jalan kepada kami yang hendak mengunjungi makam Konstantin Biebl di pelataran gereja.

Tidak ada yang terlampau istimewa pada makam Konstantin Biebl. Ia dimakamkan bersama sembilan jenazah lainnya, termasuk istri, orang tua dan pamannya penyair Arnošt Ráž. Ada tiga cawan lilin dan satu pot tanaman hias di depan nisannya yang terbikin dari marmer hitam. Juga puisi Biebl tentang kejatuhan yang mengutip frasa “terbang malam” karya Antoine de Saint-Exupéry diterakan pada marmer. Filip membacakan terjemahan puisi berbahasa Ceko itu ke bahasa Inggris untuk kami semua.

Kami berjanji bertemu Jaroslav Jandl, Kepala Desa Slavětín, di kedai bir pada pukul 16:00. Sambil menunggu akhirnya kami menuju rumah Biebl di ujung jalan Bieblova tadi. Rumah bercat kuning tua itu berusia sekurangnya 600 tahun, kemudian direnovasi. Di belakang rumah itu berdiri tegak sebuah pohon berduri dari keluarga polong-polongan yang menurut warga setempat dibawa Biebl dari Jawa. Sementara di sampingnya sebuah kolam berair jernih dan tenang. Ada rencana untuk menjadikan rumah itu sebagai semacam Museum Biebl. Misha dan Jaroslav tengah merancang program itu.

Karena sudah kelewat lama kedinginan kami akhirnya masuk kedai bir. Kami memesan bir dan keju goreng. Tidak berapa lama menunggu, Jaroslav datang dengan senyum hangat. Ia memberi kami bingkisan buku, video, pena, kaos oblong dan materi informasi tentang desanya. Buku promosi pariwisata itu, misalnya, diproduksi pada 1986 ketika Republik Ceko masih bernama Cekoslovakia (bersama Republik Slovakia kini) dan masih menjadi bagian dari Uni Soviet.

Setelah ngobrol sebentar dengan kami, Jaroslav kemudian bergabung dengan kelompok bapak-bapak tua yang satu dari mereka tadi bercerita tentang kebiasaan Biebl di kedai bir ini. Sementara kami lebih asyik membicarakan salah satu sajak Biebl yang tengah diterjemahkan Misha: “Začarovaná Studanká” (Mata Air Ajaib). Filip menuturkan puisi itu dalam bahasa Indonesia yang terpilih dan hati-hati. Marketa sesekali melengkapi.

Sajak empat bait itu terbagi ke dalam dua. Dua bait pertama tentang lukisan alam atau suasana. Biebl mengungkapkan “di pucuk-pucuk pohon Slavetin mulai lelap” dan “bayangan patung Yesus yang memanjang hingga ke tengah desa”; “aku berdiri serupa pokok linden hitam”, “banyak nama gadis tergores dalam hatiku—terluka oleh pisau”.

Sementara dua bait terakhir bercerita tentang Marie—tampaknya nama ini mengacu kepada Marie Vodseďálková, gadis dari keluarga kaya yang kelak menjadi istri Biebl—yang kerap mengambil air di mata air desa itu. “Ah, Marie yang malang” Biebl menutup puisinya.

Saya katakan kepada teman-teman dari Praha itu bahwa struktur puisi itu mirip dengan struktur pantun di Nusantara. Bagian pertama berisi sampiran atau lukisan suasana atau alam, bagian kedua beisi isi atau maksud penyair. Misha langsung berujar, “Mungkin itu karena Biebl pernah tinggal di Jawa.” Artinya, ia menyerap bentuk pantun yang mungkin pernah ia kenal selama hampir dua bulan di Jawa.

“Bisa jadi,” kata saya. Tapi bukan tidak mungkin karena watak kwatrin di Barat yang memang juga begitu. Sebagaimana soneta.

Ya, Konstantin Biebl pernah tinggal di Jawa.

Tepatnya di Batavia, Semarang, Magelang, Solo, Yogyakarta, Dieng, Surabaya, Bondowoso, sepanjang Desember 1926 hingga akhir Januari 1927. Di Semarang ia tinggal di rumah Alois Kselik, seorang dokter asal Cekoslovakia. Di kota-kota itu ia menyerap kehidupan sehari-hari Jawa, masyarakat dan tradisinya.

Salah satu sajaknya, misalnya, berjudul “Javanka” (Wanita Jawa) bercerita tentang kekaguman penyair terhadap sosok perempuan Jawa yang cantik dan sederhana serta menyatu dengan alam. Cara pandangnya tentang manusia dan alam Jawa tentu saja tidak lepas dari kekaguman manusia Barat akan manusia dan dunia Timur yang eksotik sekaligus terjajah—dengan bingkai visual “Hindia Molek”.

Selain menulis sejumlah puisi dan cerita pendek, kehidupan Konstantin Biebl di Jawa ini berpengaruh penting kepada karya-karyanya yang kemudian. Buku puisinya tentang pengalamannya selama di Jawa adalah S lodí jež dováží čaj a kávu (Dengan Kapal yang Membawa Teh dan Kopi, 1928) yang menyuarakan protes terhadap pemerintah kolonial Belanda, dan Nový Ikaros (Ikarus Baru, 1929).

Selain itu, ia juga menulis travelogue berjudul Plancius (1931) tentang perjalanannya dari Singapura ke Batavia dengan menumpang kapal Plancius bersama orang-orang Belanda yang congkak. Juga, Cestana Jávu (Perjalanan ke Jawa, 1958) yang diterbitkan setelah ia meninggal.

Yang tak kalah menarik, selama di Hindia Belanda Konstantin Biebl ternyata terkait dengan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan sempat diinterogasi polisi Belanda karena keterlibatannya.

Pemberontakan PKI di Banten, berlangsung pada 12-13 November 1926. Menurut catatan Marieke Bloembergen dalam buku Polisi Zaman Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan (2011), pada 17 November Jaksa Agung di Batavia memerintahkan penangkapan orang-orang yang punya hubungan dengan PKI. Alhasil, 13.000 orang ditangkap dan ditahan. Dari jumlah itu, 4.500 orang dipenjara, sedangkan 10 orang dihukum mati. Sebanyak 1.300 orang kemudian dibuang ke Boven Digoel. Semua itu dilakukan tanpa proses pengadilan.

Apakah Biebl termasuk satu dari 13.000 yang ditangkap dan ditahan itu? Bisa jadi. Namun, apa bentuk keterlibatannya?
“Saya belum tahu, apakah keterlibatannya ini sebagai mentor atau hanya sekadar berkomunikasi sebagai sesama Komunis,” kata Misha di lain kesempatan.

Saya mengenal Konstantin Biebl pertama kali dari Misha yang bernama lengkap Michala Tomanova, mahasiswi Studi Indonesia di Universitas Charles, Praha. Ia telah meneliti karya dan kehidupan Konstantin Biebl dengan cukup menyeluruh. Sembari berseloroh malah dia menyebut dirinya sebagai reinkarnasi Konstantin Biebl.

Karya akhirnya sebagai mahasiswa darmasiswa di Universitas Diponegoro, Semarang, pada 2014, adalah Jawa di Mata Orang Ceko: Menelusuri Seorang Penyair Asal Konstantin Biebl di Jawa. Terkait studinya ini, Misha juga telah menyelenggarakan pameran foto dan arsip tentang Konstantin Biebl di Perpustakaan Kota Louny dan di Kedutaan Besar Republik Ceko di Jakarta beberapa tahun lalu.

Konstantin Biebl adalah penyair Ceko yang cukup produktif pada masanya. Selama hidupnya ia telah menerbitkan 13 buku, sebagian besar buku puisi. Ia berkawan baik dengan penyair-penyair segenerasinya, termasuk Jaroslav Seifert, penyair Cekoslovakia peraih Hadiah Nobel Kesusastraan pada 1984, meski akhirnya berpisah jalan. Seifert dan kawan-kawan menentang Clement Gottwald, pemimpin Partai Komunis Cekoslovakia (PKC) dan memilih keluar partai, sementara Biebl bertahan sebagai kelompok penyair Komunis pro-Moskow.

Meski dilahirkan di Slavětín, Biebl menghabiskan sebagian besar hidupnya di Praha. Biebl pernah menjadi anggota kelompok penulis Devětsil dan ikut mendirikan Kelompok Surrealis Cekoslovakia. Tiga tahun sebelum kematiannya sebenarnya adalah tahun-tahun yang amat berat buat warga negara Cekoslovakia, tak terkecuali bagi dirinya. Terutama setelah PKC menguasai negeri itu atas dukungan Uni Soviet sejak Februari 1948.

Pada Biebl ada tegangan antara “terus bertahan di garis partai” dan memilih “jalan bebas puisi”.

Untuk mengakhiri ketegangan itu Biebl akhirnya memilih bunuh diri. Pada 11 November 1951—ada juga yang menyebut 12 November—dia melompat dari sebuah jendela lantai lima apartemennya di Praha. Tubuhnya menimpa seorang perempuan yang tengah melintas. Kenapa dia bunuh diri, belum lagi pasti. Ada pendapat yang mengatakan itu karena kecemasannya terhadap PKC yang makin menguasai sendi-sendi kehidupan masyarakat Cekoslovakia, ada pula yang menduga ia dibunuh.

Apa pun. Seorang penyair telah berpulang dengan cara yang mengenaskan. Ia meninggalkan bukan hanya himpunan sajak dan cerita, tetapi juga misteri—dan keriangan di kedai bir.