MELBOURNE DAN RUANG KELAS

No fees required for schooling! Uniform is required, uniform! Whichever shool you like to go, get the uniform of that school, go sit in the class. Who’ll come to know when there is a huge population? If you get caught, then uniform change, school change!”

Ranchordas Shamaldas Chanchad, film 3 Idiots.

 

Karena kali ini saya adalah peserta residensi yang paling bocah, dan baru sebulan sebelum keberangkatan residensi diwisuda, maka catatan saya tidak akan jauh-jauh dari masa-masa sekolah. Setiap kali bertemu mahasiswa asing yang kuliah di Melbourne, saya selalu bersyukur, betapa beruntungnya pembiayaan kunjungan yang saya dapatkan. Bagi penulis muda amatir macam saya, program residensi penulis merupakan hal baru yang sangat mengherankan. Membiayai para penulis untuk tinggal di luar negeri, berjejaring dengan penulis-penulis mancanegara dan menulis buku dalam suasana yang benar-benar baru, adalah sesuatu yang sangat memukau. Di Australia, saya bukan mahasiswa yang setiap hari dikejar-kejar deadline paper, bukan tenaga kerja yang harus banting-banting belung kerja bermajikan galak, bukan juga turis plesir yang hanya jalan-jalan dalam hitungan hari. Maka sebelumnya, saya ucapkan terima kasih tak terhingga pada seluruh rakyat nusantara yang telah membiayai saya ke sini. Mudah-mudahan keberangkatan saya tidak sia-sia.

 Kota yang saya pilih berdasarkan serakan remah roti yang hadir setengah tahun ini, ternyata benar-benar beyond expectation. Terutama untuk penulis pemula yang masih harus banyak belajar seperti saya. Melbourne adalah kota pertama di negeri orang yang mengundang saya sebagai pembicara, bahkan dosen tamu. Banyak yang bilang kota ini adalah the most livable city nomor satu di dunia, tapi saya tidak mengerti itu maksudnya apa. Yang saya tahu, siapapun yang tinggal di kota ini, kalau tak jadi pintar, rugi.

Dalam hal kesempatan belajar, saya akui Indonesia masih harus banyak mencontoh sistem di sini. Intelektualitas bisa didapatkan dengan mudah dan cuma-cuma oleh siapapun. Saya akan mengupas beberapa hal yang mendukung kesimpulan saya tersebut.

Pertama, hampir di semua tempat umum selalu ada sudut tempat bacaan gratis. Di Indonesia juga sudah mulai banyak, tapi tidak semencengangkan di sini. Tidak peduli itu di stasiun, tengah kota, taman, kafe, pantai, tempat ibadah. Hampir di semua tempat sampai pojok-pojok Melbourne selalu ada akses membaca buku. Tanpa dijaga, tanpa ditarik biaya. Dan buku yang tersedia, rata-rata berkualitas dan lengkap. Bahkan ada beberapa tempat yang mempersilahkan untuk mengambil bukunya secara gratis, misalnya di Brunswick Mosque. Sekalipun begitu, tidak terlihat orang rakus yang mengambili buku-buku itu di luar batas yang diperlukan. Anak-anak hingga kakek nenek banyak terlihat memanfaatkan fasilitas tersebut sewajarnya. Bayangkan saja kalau ada buku bagus dibiarkan di tempat umum di Indonesia tanpa penjagaan. Baiklah, Indonesia masih perlu berbenah.

Kedua, akses masuk tempat seperti State Library, City Library, perpustakaan kampus bahkan perpustakaan tiap fakultas di kampus gratis dan sangat nyaman. Perpustakaan-perpustakaan di Melbourne sudah seperti hotel. Pembuatan kartu anggotanya pun praktis tanpa ribet. Tidak ada yang peduli jika kita mau membaca, ambil buku banyak-banyak, internetan sepuasnya, numpang wifi gratis, foto-foto, nonton video, makan, minum, pipis berpuluh kali. Saya bahkan sholat di tempat itu dan tidak ada yang menegur. Tidak ada yang peduli. Belum lagi arsitektur, penataan rak buku dalam setiap ruangan pun tidak ada yang biasa-biasa saja. State Library of Victoria misalnya. Hampir di setiap ruangan selalu berbeda suasana. Tergantung tema ruangannya. Nuansa sejarah masih dijaga sangat murni. Semua gedung perpustakaan di Melbourne (walau hanya perpustakaan fakultas) yang pernah saya kunjungi selalu nyaman dan menarik. Dari bergaya klasik macam Harry Potter, sampai desain-desain kontemporer unik yang susah dikenali bentuknya. Fasilitas untuk bayi, balita, disable, juga disediakan ruangan tersendiri yang isinya juga mendukung. Yang terpenting adalah, kita bisa masuk ke sana kapan pun tanpa dibatasi dan dipandang-pandang tanpa banyak aturan. Kecuali saat jam tutup pastinya.

Ketiga, kota ini tidak pernah sepi event dan selalu ada yang gratis. Kalau kita mendatangi pusat-pusat kota, terdapat berjubel brosur, poster bahkan majalah resmi yang menunjukkan event-event sepanjang tahun di Kota. Semuanya selalu update. Ada festival buku dan kepenulisan seperti Melbourne Writers Festival, Bendigo Writers Festival, Swinburne Writers Festival, Jewish Writers Festival (dan masih banyak sangat lagi), ada festival fashion, festival makanan, festival musiman, festival tahunan kota, diskusi-diskusi, juga perayaan-perayaan. Sepanjang berada di Melbourne, setiap hari selalu ada event yang bisa saya datangi dengan kemaruk karena amat sayang jika dilewatkan. Karena kebanyakan event tersebut gratis. Untuk membaur di dalamnya, kita hanya butuh membaur saja. Sejauh pengalaman saya, semua welcome, tidak rasis dan tetap menghormati walaupun saya berjilbab dan kadang juga masuk event-event di bar.

Keempat, ada banyak Klub Bahasa gratis. Sebagai kota dengan bahasa utama Bahasa Inggris, Melbourne menyediakan tempat-tempat kursus dan klub Bahasa Inggris gratisan untuk umum. Yang menjadi pengajar adalah volunteer-volunteer yang kebanyakan adalah mahasiswa. Selain Bahasa Inggris, saya juga pernah menjumpai kelas Bahasa Prancis. Hanya berbekal kepercayaan diri dan keinginan untuk belajar yang kuat, siapapun bisa mendaftar dan bergabung.

Kelima, yang paling berhubungan dengan quote Ranchordas Shamaldas Chanchad dalam pembukaan yang saya cantumkan adalah, public lectures alias kuliah umum tersedia dimana-mana dan lagi-lagi, gratis. Selama di Melbourne, saya keranjingan mengikuti banyak sekali kuliah umum yang diadakan oleh University of Melbourne, RMIT University, dan Swinburne University of Technology. Seandainya tidak terlalu jauh, saya pasti juga akan ikut kuliah umum di Monash University. Saya ikut kuliah umum dengan berbagai bahasan dari segala jurusan. Mulai dari kedokteran sampai ekonomi. Mulai dari kuliah sosial pengenai pengungsi sampai kesenian Timur Tengah. Tidak tanggung-tanggung, pengisi kuliah tersebut kebanyakan profesor-profesor impor yang datang dari Eropa. Sudah begitu, tempatnya selalu  berbeda-beda sehingga saya pun bisa berpetualang dan masuk-masuk seakan mahasiswa sana. Tidak hanya tahu ruang-ruang kelas di berbagai jurusan di kampus-kampus mentereng tersebut, kuliah umum juga diadakan di aula-aula yang bentuk dan kecanggihannya bikin pingsan. Selain kampus, kuliah umum kadang juga bertempat di gedung-gedung penting dan ruangan-ruangan berkelas seperti The Royal Melbourne Hospital atau Peter Mac Callum Cancer Center. Rasa-rasanya, gelandangan pun bisa jadi sebermutu majister jika tinggal di sini. Hanya modal kerajinan, ketertarikan dan semangat. Sebagai informasi, yang ikut kuliah umum tidak hanya anak muda berusia produktif. Sering sekali saya menjumpai orang-orang jompo bertongkat dan berkursi roda yang juga menikmati sesi-sesi perkuliahan umum bahkan ikut aktif berdiskusi dengan pembicaranya. Tak jarang dalam kuliah tersebut juga disuguhkan snack, makanan dan minuman prasmanan yang juga gratis. Sangat menguntungkan bagi perantau yang seperti saya. Hehe..

Selama dua bulan ini rasanya saya sudah menjadi mahasiswa (memang sudah berlagak sih) jadi mahasiswa universitas-universitas keren tersebut tanpa banyak PR tanpa harus bayar SPP. Bisa belajar banyak topik dan sok kenal dengan berbagai narasumber berkelas dunia. Punya teman yang berganti terus setiap hari, kenalan jadi bertambah. Kota ini sangat menghormati para pencari tahu, selalu dihormati tanpa dipandang warna kulit maupun penampilan. Bahkan jika Bahasa Inggris kita masih belepotan. Jika ingin mendiskusikan kuliah apa saja yang pernah saya ikuti lengkap dengan foto dan catatannya, silahkan menghubungi saya secara pribadi.

Itulah beberapa hal yang membuat saya merasa bahwa Melbourne tak ubahnya ruang kelas. Kondisi yang saya pikir harus betul-betul diadopsi di negeri kita jika ingin memajukan sumber daya negeri. Siapapun yang suatu hari menginjakkan kaki di kota ini, saya harap tidak pernah malu untuk memanfaatkan apapun yang bisa digali dari kota penuh inspirasi ini.