PAGI BERSAMA NORWICH LOWER SCHOOL

Norwich memang membawa kesan mendalam bagi saya. Satu hal yang membuat saya terharu saat berada di ‘Kota Literasi’ ini adalah kunjungan saya ke Norwich Lower School di hari ke-5 masa residensi saya. Sebenarnya tidak mudah untuk berkunjung ke sekolah-sekolah di Inggris tanpa persetujuan sejak awal semester. Namun, berkat bantuan British Council dan Sophie Scott-Brown dari Writer’s Centre Norwich, saya pun berhasil mendapatkan ijin untuk berinteraksi dengan murid-murid di sana.

 

Hari yang dinanti pun tiba. Sophie sudah menunggu saya di depan gerbang Katedral Norwich yang sudah berusia lebih dari 900 tahun dan masih berdiri megah hingga sekarang. Lonceng Katedral ini berdentang meriah setiap jam-nya lho! Kami harus berjalan beberapa menit di sepanjang halaman Katedral yang tinggi menjulang ini. Tiba di gerbang sekolah, kami harus menjalani pemeriksaan serta melalui pintu gerbang dua lapis yang menandakan pengamanan yang ketat di sekolah yang kabarnya merupakan sekolah elit ini.

Saya dan Sophie dipersilakan menuju aula serba guna milik sekolah. Tak berapa lama,  anak-anak dari kelas 3 dan 4 ini mulai berdatangan. Wajah-wajah polos penuh rasa ingin tahu itu mulai melirik-lirik boneka Cepuk yang saya bawa. Mereka duduk rapi di atas lantai aula dan Sophie mulai membuka acara dengan memperkenalkan siapa yang hadir hari itu. Tak disangka, 81 anak lucu ini tahu siapa nama saya hingga negara asal saya! Usut punya usut, ternyata pihak sekolah sudah mengumumkan kunjungan saya ini beberapa hari sebelumnya dengan memajang profil diri saya di proyektor sekolah!

Pagi itu, saya membacakan buku saya berjudul ‘Waktunya Cepuk Terbang’ di hadapan anak-anak yang ternyata sangat antusias ini. Untuk membuat seru suasana, saya meminta dua anak untuk membantu saya memainkan boneka Cepuk dan membantu saya membuka lembar demi lembar buku saya sesuai halaman yang saya bacakan. Dan ….. semua mengangkat jarinya agar terpilih!

Anak-anak begitu antusias saat saya mulai membacakan cerita Cepuk yang begitu ceroboh dan lucu ini. Di setiap jeda, saya selipkan pertanyaan interaktif mengenai kehidupan burung hantu. Pengetahuan anak-anak ini begitu luas tentang dunia burung hantu! Sophie pun menimpali dengan cerita bahwa saya memiliki burung hantu sebagai binatang peliharaan saya. Akhirnya cerita pun bergulir tentang bagaimana saya merawat burung hantu kesayangan saya itu.

Saya juga sempat menceritakan kegiatan sosial saya sebagai relawan di sela-sela kegiatan harian saya di Indonesia. Anak-anak begitu terkejut saat mengetahui ada anak-anak yang kurang beruntung di luar dunia mereka yang serba nyaman. Ibu guru yang mendampingi anak-anak pun sangat antusias menjelaskan pada anak-anak tentang apa yang saya ceritakan. Para guru berterima kasih pada saya karena ‘membukakan mata’ anak-anak itu tentang dunia yang tak seberuntung anak-anak ini.

Tak lupa, kami menonton video pendek tentang Indonesia milik Komite Buku Nasional (KBN) yang dibuat oleh mbak Avianti Armand untuk acara Frankfurt Book Fair 2015. Sebelumnya saya memberi ‘kode’ pada anak-anak itu untuk menyimak dengan baik karena akan ada kuis setelahnya.

Dan keseruan pun dimulai saat saya melempar berbagai pertanyaan kuis berkenaan dengan buku cerita yang saya bacakan serta tentang Indonesia. Jawaban-jawaban lucu pun bermunculan saat anak-anak menyebut Raflessia Arnoldii dan Komodo dengan aksen Inggris mereka yang kental. Semua anak saling berebut ingin menjawab yang membuat saya kewalahan karena tidak tega memilih salah satu di antara mereka. Mereka begitu senang dengan hadiah kuis yang khusus saya bawa dari Indonesia, seperti pembatas buku Wayang, tempat pensil motif Batik dan pembatas buku berupa kartu nama saya dengan gambar ilustrasi Cepuk dan Paman Kala yang keduanya tokoh utama dua buku saya.

Tak terasa 1 jam 30 menit saya habiskan bersama anak-anak yang sangat antusias berfoto bersama. Anak-anak mengerumuni saya untuk melihat foto burung hantu peliharaan saya yang memang tercetak di buku yang saya bacakan itu dan banyak yang menanyakan di mana saya membeli tempat pensil motif batik itu karena mereka menginginkannya. Aaaaaaaaawww! Andai saya bisa membawa lebih banyak hadiah kuis untuk mereka.

Beberapa jam kemudian, sebuah email manis pun saya terima dari Sophie Scott-Brown dan Norwich Lower School yang berterima kasih atas kunjungan saya yang (katanya) seru. Hehehehe.

Terima kasih, Norwich Lower School. Kenangan manis yang jelas tak akan pernah saya lupakan. Suatu hari, saya pasti kembali.