Perbatasan 3 Negara

Batas dalam ruang lingkup yang kecil sering tidak kentara, apalagi jika itu masih dalam satu kelurahan (batas antar-RW atau RT) yang biasanya menggunakan jalan lingkungan. Artinya, walau kita tetangga dengan depan rumah, kalau arisan RW atau RT ternyata berbeda grup.

 

Sebuah sungai bisa menjadi alat pembatas provinsi atau antara dua kabupaten. Mungkin itu memudahkan, sehingga kata “menyeberang” sungai bisa berarti menyeberang kota yang berbeda. Misalnya yang terjadi antara Kota Brebes dan Kota Tegal, sebuah bengawan menjadi penanda. Umumnya di jalan raya antarprovinsi ditandai dengan gapura besar bertuliskan, misalnya: “selamat datang di Jawa Timur”. Padahal pelepasannya dari Jawa Tengah berjarak sekian ratus meter atau hampir lebih satu kilometer sebelumnya. Apakah daerah di antara dua gapura itu “demisioner”? Tak bertuan? Tentu tidak. Itu hanya simbol.

 

Bagaimana dengan daerah wisata dataran tinggi Dieng yang menjadi milik Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo? Bagaimana dengan Kota Losari yang separuh berada di Jawa Barat (disebut Losari Cirebon) dan separuh lagi terletak di wilayah Jawa Tengah (Losari Brebes)? Bagaimana klaim Cianjur dan Bogor atas daerah wisata Puncak sebagai milik mereka? Ya sudah… secara administrasi dibagi-bagi saja rezekinya.

 

Nah, pada hari Minggu 20 Agustus 2017, saya diajak teman-teman PhD Leiden mengunjungi Drielandenpunt di Kota Maastricht, Belanda. Kota ini berada di ujung Belanda Selatan, berlawanan arah dengan Groningen yang berposisi di Belanda Utara. Drielandenpunt menjadi unik lantaran menjadi titik perbatasan tiga negara: Belanda, Jerman, dan Belgia. Bisa disebut dengan kata lain yang tertera: Nederland, Deutschland, dan Belgique. Ditandai dengan sebuah menara, kita boleh naik ke balkon puncak dengan membayar 3,5 euro per orang.

 

Kebetulan kota ini menempati dataran tinggi, bahkan mungkin yang tertinggi bagi Negeri Belanda yang datar (tanpa gunung dan jurang). Dengan demikian, saat kita mendaki tangga, pelahan-lahan kita bisa melihat cakrawala yang lebih luas dan merendah di tiap sisinya. Di bawah sana tampak daerah wisata milik Belanda, yang penuh orang di hari Minggu, dengan berbagai jenis permainan outdoor, toko souvenir, dan restoran. Menarik di antara semuanya adalah taman labirin dengan dinding-dinding perdu setinggi 2 meter.

 

Udara di kawasan itu cukup dingin. Terbayang serasa di Puncak atau lereng Bromo, karena Eropa pada umumnya (meskipun masih zomer—musim panas) tetap saja berangin dingin.

 

Hans Baker, seorang Belanda yang menjadi juru cerita, sekaligus pemilik mobil dan pengemudi, mengatakan bahwa Drienlandenpunt ini milik Belanda. Dianggap cukup satu penanda saja yang menjelaskan di titik itu batas tiga negara terletak, bukan dengan tiga penanda. Tentu saja, lantaran tak ada perbatasan dengan pemeriksaan militer untuk Uni Eropa di bawah visa Schengen, seperti bukan daerah perbatasan. Batas itu jadi maya.

 

Ada sebuah taman kecil melingkar dengan bangku-bangku di sekelilingnya, dan di situlah tertanam bendera 3 negara. Sederhana saja. Namun, kebanyakan pengunjung ingin berfoto di situ. Termasuk saya dong. Sudah jauh-jauh ke Belanda dan mendapat kesempatan hingga ke perbatasan, janganlah pulang tanpa kenang-kenangan. Dan, bermain-main pula kami ke dalam labirin yang tak membuat sungguh-sungguh sesat.

 

Setelah cukup puas di Drielandenpunt, kami makan siang dan melanjutkan ke centrum Kota Maastricht. Di sana berjumpa seorang kawan, Wijayanto, yang tinggal di kota itu. Sebetulnya ia sedang mengikuti program doktoral di Leiden, tetapi memilih tinggal di Maastricht karena sang istri mengajar di kota itu. Beberapa spot penting dan unik ditunjukkan, kami berfoto-foto termasuk dalam sebuah toko buku besar (tentu saja) yang menempati mantan Gereja Dominikan. Chemeira, wanita dari Nigeria, teman rombongan, tampak sedih karena dia Nasrani. Memang Belanda telah “kehilangan” banyak gereja yang dialihfungsikan. Doa-doa tampaknya lebih efektif dipanjantkan dari rumah masing-masing. Atau tak perlu lagi berdoa?

 

Kami berempat (Hans, Ayu, Chemeira, dan saya) kembali pulang ke Leiden. Perjalanan dengan mobil berkecepatan rata-rata 100 kilometer per jam itu menempuh waktu sekitar 2,5 jam. Tiba di Leiden sudah “malam”, menjelang pukul 9, meskipun masih ada matahari.

 

(Kurnia Effendi)