SEBUAH CENGIRAN IBLIS DAN BAYANG-BAYANG

Pada mulanya ia seorang pedagang anjing dan penderita rheumatik. Ketika penyakit itu menyerang ia menyanyikan lagu kebangsaan Austria. Ia berangkat kembali ke medan perang dengan kruk dan kursi roda. Di dadanya tersemat sekuntum bunga. Sepanjang jalan-jalan di Praha, di antara iring-iringan tentara dan sorak sorai warga kota, ia berteriak, “Ke Beograd, ke Beorgrad!”

Ia seorang manusia yang memandang segala hal dengan perasangka baik. Jika pun pada suatu ketika ia didera kesulitan, ditangkap polisi rahasia dan dijebloskan ke penjara misalnya, ia memandang kesialan itu bukan masalah sama sekali. Bahkan ketika ia dan tahanan lainnya dibawa ke pengadilan pada pukul enam pagi—saat warga kebanyakan masih tidur nyenyak—ia kontan berpetuah, “Burung yang bangun pagi akan mendapatkan cacing lebih dulu.”

Ia Josef Shweik. Manusia fiksional ciptaan Jaroslav Hašek.

Dalam suatu pemeriksaan medis, tiga psikiater mendakwa Shweik sebagai imbesil dan idiot karena ia selalu menjawab pertanyaan dengan ringan dan sembarangan. Misalnya, “Berapa kedalaman maksimum Samudra Pasifik?” Ia hanya menjawab, “Mungkin lebih dalam dari sungai Vltava.” Karena itu, sangkaan kriminal atas dirinya dibatalkan. Sebaliknya, ia dikirim ke rumah sakit jiwa.

Namun, ia adalah mantan prajurit Resimen 91 yang penuh jiwa patriotisme dan keringan-riangan tanpa ampun. Ketika Kepala Polisi memeriksanya sekali lagi dan puas dengan memaki-maki—sebelum melepaskannya kemudian—Shweik malah mencium tangan polisi itu dan mendoakannya. “Semoga Tuhan memuliakanmu. Jika kau butuh anjing, bilang saja. Saya jualan.”

Kisah Prajurit Shweik besutan Jaroslav Hašek memberikan kita kesadaran betapa pentingnya humor, tak terkecuali dalam perang. Darinya pula kita—kaum penulis sastra—bisa belajar tentang penokohan dalam fiksi. Bahwa tokoh cerita bukanlah salinan mentah-mentah jiwa pengarang; ia organisme hidup dan otonom. Sekilas, perkembangan wataknya seakan-akan berada di luar kendali pengarang, padahal tidak. Sebagai penulis bohemian dan anarkis—yang gemar menyebarkan kabar bohong di surat kabar—Hašek telah mengguratkan garis tegas antara dirinya dan makhluk ciptaannya.

Shweik tidak ikut-ikutan bohemian dan anarkis sebagaimana Hašek. Sebaliknya, ia adalah prajurit yang sangat taat hukum, penuh kasih kepada manusia dan yang terpenting: pandai bersilat lidah. Shweik kelihatan naif dan dungu, tetapi ketajaman kata-katanya hanya bisa lahir dari kecerdasan pengarang yang reputasinya diakui banyak orang di negerinya.

Begitulah, untuk merancang watak Shweik yang seperti itu, Hašek menggali penokohan dari banyak sumber. Ia menggali watak Shweik tidak dengan semangat anti-asing—apalagi kehendak untuk otentik di atas bumi sendiri—tetapi menyadapnya dari berbagai belahan dunia. Ia melahap Cervantes dan Rabelais.

Hašek mengocok ulang watak Sanco Panza ciptaan Cervantes dan menciptakan keturunannya yang kesekian dengan nama Josef Shweik yang tampak lugu, tapi juga bisa kasar dan bajingan saat merongrong otoritas kaum borjuis dan gereja Katolik. Menurut Max Brod, kritikus yang juga menabalkan kejeniusan Franz Kafka, watak Shweik yang seperti ini juga dicuri Hašek dari François Rabelais, penulis satiris dan grotesk dari Prancis masa Pencerahan.

Dengan karakter yang unik seperti ini Shweik diklaim sebagai watak nasional bangsa Republik Ceko hingga hari ini—meskipun banyak pula yang tidak menyetujui ini. Ia populer bukan hanya sebagai bagian dari karya sastra nasional Republik Cek, tetapi juga sebagai nama restoran waralaba. Dengan kata lain, sebuah karya sastra telah menjadi semacam “alegori nasional” dan karenanya ia layak dibaca, baik sebagai karya sastra maupun sebagai jalan mengenal bangsa yang melahirkannya. Satu prestasi yang hanya bisa dicapai oleh sedikit saja karya dari bangsa-bangsa di dunia ini.

Kisah Prajurit Shweik—yang versi Indonesianya dikerjakan oleh Djokolelono—juga sebuah ironi jika kita menelusuri kembali kehidupan Jaroslav Hašek. Sedikit banyak lika-liku kehidupannya adalah cerminan kehidupan pribadi sang pengarang. Hašek adalah pengarang bohemian dalam artian yang sebenar-benarnya. Ia pernah mengemis dan menggelandang dari kota ke kota hingga bergabung dengan kelompok anarkis yang menentang Jerman dan beberapa kali dicokok polisi. Kehidupan pribadinya yang normal berantakan—termasuk perkawinannya dengan Jarmila Mayerová.

Jika kita membayangkan dirinya dalam khazanah sastra nasional kita, sedikit-banyak, Chairil Anwar adalah sosok yang mendekati Hašek. Kemiripan di antara keduanya bisa menjadi bahan yang menarik bagi kajian sastra bandingan—sejauh ada yang berminat.

Fase kehidupan Hašek yang amat menentukan adalah ketika ia menjadi tentara Resimen 91 di České Budějovice, salah satu kota terpenting di selatan Republik Ceko, setahun setelah Perang Dunia Pertama meletus. Beberapa rekannya, terutama Kapten Ságner, Letnan Lukas, Letnan Mechálek dan Prajurit Stašlipka, ikut membentuk sejumlah tokoh, bahkan ia pertahankan nama-nama mereka itu dalam novel The Good Soldier Švejk.

Hašek adalah penulis yang hadir dengan “cengiran iblis” dalam kehidupan orang kebanyakan yang penuh tata krama dan beban moral. Ia penulis yang cepat dan mahir dalam menggambarkan tokoh—tidak jarang ia menulis dalam keadaan mabuk. Tokoh-tokohnya hidup bukan semata oleh deskripsi, tetapi juga oleh dialog-dialognya. Jika kita periksa kembali pingpong dialog antara Shweik dan siapa pun dalam The Good Soldier Švejk kita akan menemukan satu karakter yang konstan—dalam arti keluguan sekaligus ketajaman kata-katanya—tetapi hidup dalam pelbagai gejolak keadaan sehingga segalanya berubah berdasarkan reaksi tokoh-tokoh lainnya.

Sementara deskripi atau tuturan peristiwa bikinan Hašek berlangsung dalam langgam jurnalistik saja, yang mestinya siapa pun bisa menirunya. Tapi bertutur lancar dan jernih bukan perkara sederhana. Dan jika sekadar meniru, seekor beo juga bisa menirukan “assalamualaikum” dan “papa jahat”.

Dalam fiksi yang buruk—yang membacanya memberikan saya efek “kena pentungan Hansip”—sering kali saya terganggu pada kali pertama oleh kalimat-kalimat yang tidak jelas juntrungannya. Keruwetan dalam hal ini bukanlah karena kesengajaan dan keterampilan permainan—sebagaimana pada tuturan James Joyce dalam Finnegans Wake misalnya—tetapi karena kecerobohan yang tidak pernah disadari bagaimana cara menghindarinya.

Sandungan-sandungan berikutnya adalah penokohan dan hal-hal yang terkait dengan segi-segi intrinsik sastra. Keterampilan macam begini mestinya menjadi urusan semua pengarang, dari yang kelas jempolan, yang sedang-sedang saja hingga yang ingin sekali direken. Bedanya adalah ada yang tahu bagaimana cara belajar dan terus belajar untuk menjadi lebih baik, ada pula yang tidak ambil peduli atau, sebagaimana kerap dikeluhkan oleh A.S. Laksana, “tidak tahu bagaimana caranya belajar”.

Menulis pada akhirnya bukanlah perkara mendirikan setinggi dan sebanyak mungkin bangunan dengan semau-maunya, tetapi perkara menghancurkan apa-apa yang sudah kita ciptakan dengan rasa bangga dan mencari dari timbunan reruntuhan itu secuil saja yang mungkin berharga dan berhak diselamatkan. Dalam menulis kita mestinya mencurigai terus apa-apa yang telah kita hasilkan dan menghancurkannya selagi sempat hingga yang tersisa hanyalah sebutir kecil mutiara—itu pun jika bisa ditemukan.

Pada Hašek saya kira ada kecenderungan seperti itu. Ini terbukti ketika Cecil Parott hendak menerbitkan terjemahan Inggris The Good Soldier Švejk. Ada sejumlah versi karya Hašek dalam bahasa Ceko Osudy dobrého vojáka Švejka za světové války. Yang salah satu sebabnya, saya kira, pengarang ingin menampilkan yang terbaik—ingatlah bagaimana kita menemukan banyak sekali versi puisi-puisi Chairil Anwar. Pengarang telah bersusah payah menulis tapi kemudian merombaknya lagi dan lagi untuk mendapatkan hasil terbaik.

Cecil Parott ingin menghadirkan kembali karya Hašek selengkap mungkin, dengan risiko menghadapi naskah asli dalam sejumlah versi. Versi yang beredar sekarang ini, terlebih-lebih versi Cecil Parott yang berusaha paling lengkap dan otentik, harus disebut sebagai kisah yang tak selesai, sebab pada mulanya Hašek berencana merampungkan kisah Prajurit Shweik dalam enam jilid, tetapi hingga kematiannya pada 3 Januari 1923, ia hanya bisa menyelesaikan empat jilid.

Terus terang, saya selalu gentar menghadapi karya-karya sastra terbaik. Kegentaran saya selalu berkisar pada keterampilan sang pengarang. Mengapa para pengarang itu bisa menulis dengan kecakapan yang teramat bajingan dan seakan tidak bisa ditandingi—yang rata-rata bisa disebut sebagai “kaum kafirin”. Tapi mereka bisa ditiru, tentu saja. Meniru, sebagaimana dalam amalan seni apa pun, adalah langkah pertama seorang pelajar yang baik. Tapi meniru terlalu lama juga bisa berbahaya karena si peniru hanya akan menjadi bayang-bayang, bukan pencipta bayang-bayang.

Dan seburuk-buruknya makhluk ciptaan Tuhan adalah bayang-bayang, sebab kita tidak bisa bercanda, apa lagi berdebat dengannya.

 

Zen Hae