Sebuah Laporan Sederhana untuk Dora

Dora di mana pun berada...

Baiklah, sedikit kuceritakan kepadamu: namaku Triyanto Triwikromo, pria yang tentu tidak pernah kaukenal dalam kehidupanmu. Aku hanyalah lelaki Jawa yang sedang menulis novel bertajuk Metamorkafka, kisah tentang Kafka yang setelah bangun tidur merasa telah menjadi sapi. Sapi itu juga merasa mendapatkan teman, seekor kecoa bernama Gregor Samsa yang berada di telinganya.

“Satu orang tak bisa menjelaskan Kafka,” kau pernah berkata.

Benar. Sangat benar. Tanpa kau, Kafka tidak bisa dijelaskan kepada siapa pun. Kau, siapa pun kau, adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan kekasihmu yang sangat indah itu. Karena itulah, aku ingin mendapat penjelasan tentang Kafka dari mana pun. Termasuk dari jejak-jejak yang kautinggalkan di Berlin, Praha, atau mungkin di London.Ya, di tempat-tempat yang sangat jauh dari Krakow, Polandia.

Namun karena aku lebih ingin fokus menatap kehidupan Kafka bersamamu di Berlin, maka aku pun berusaha mencari aneka data, foto-foto, buku-buku, kisah-kisah, gosip, gambar-gambar, dongeng-dongeng tentangmu selama 1923-1924 di bekas ibu kota Kerajaan Prusia itu.

Oya, perlu kulaporkan kepadamu selama mencari serpihan kisahmu itu, aku dibantu oleh Gudrun Fenna Ingratubun, penerjemah dan penggiat sastra untuk anak-anak dari Berlin. Gudrun membaca dan kemudian menceritakan aneka buku, termasuk Dora Diamant Kafkas letzte Liebe karya Kathi Diamant dan Die Herrlichkeit des Lebens yang ditulis oleh Michael Kumpfmüller. Tentu dia juga memaparkan dengan sangat detail apa pun isi Kafka in Berlinyang ditulis oleh Hans-Gerd Koch.

Sebelumnya, aku sudah membaca tulisan-tulisan Sigit Susanto, peneliti dan penerjemah karya-karya Kafka dalam bahasa Indonesia.Sigit (yang kini tinggal di Swiss) telah membeberkan kepada pembaca Indonesia Die Herrlichkeit des Lebensyang ditulis oleh Michael Kumpfmüller dalam bentuk timbangan buku.

“Dora pindah ke Berlin pada 1920,” kata Gudrun, “Saat itu ada 170.000 orang Yahudi di Berlin.”

Bertolak dari data itu, kami pun mencari apa pun yang berkait denganmu. Akhirnya kami temukan data: kau ternyata selalu tinggal di rumah teman dan panti asuhan dekat Istana Charlottenburg. Terakhir kau tinggal di Pariserstraße 13, apartemen yang didatangi oleh gestapo.

Kau bahkan pernah menjadi tukang jahit. Oh, tak pernah kubayangkan sebelumnya, kau, kekasih terakhir Kafka, pernah menjadi tukang jahit.

“Dora juga dianggap nikah liar dengan Kafka oleh ibu kos,” Gudrun menjelaskan lagi.

“Di mana tempat indekos mereka?” tanyaku.

Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui di mana kali pertama Kafka dan kau tinggal. Kalian menyewa rumah pertama di Echause Miquelstraße bukan? Rumah itu sekarang sudah tidak ada. Sudah dibom. Jadi, aku dan Gudrun berusaha membayangkan bentuk bangunan dengan melihat aneka gedung yang masih berdiri di tempat itu. Aku yakin, kau tentu punya kenangan indah di tempat itu. Mungkin juga kisah tentang ciuman yang tergesa-gesa atau pertengkaran-pertengkaran kecil tak terhindarkan. Kau tentu kerap juga bersitegang dengan ibu kos. Kau mungkin kerap diledek dan diabaikan.

                                                                                                                         ***

Dora yang baik...

Kau tentu selalu ingat pada Pantai Ostsee? Kau tentu tidak bisa melupakan Müritz, kawasan dekat Rostock, tempat kali pertama, Juli 1923, kau bertemu dengan Kafka. Aku dan Gudrun telah mengunjungi tempat itu, menembus hutan yang mungkin pernah kaulewati bersama Kafka, menyusuri pantai, dan berusaha mendapatkan jejak apa pun yang kautinggalkan.

Kami tidak menemukan Haus Glückauf, sebuah losmen yang jika dibahasa Indonesikan jadi “Semoga Bahagia” itu. Dari tempat yang kini tinggal lahan itu, aku membayangkan Kafka pada saat itu mendengarkan lagu-lagu dalam bahasa Juddische (campuran antara Jerman dan Ibrani) dari mulut anak-anak yatim-piatu yang kauasuh. Tentu Haus Huten Judisches Volksheim itu juga sudah tidak ada. Namun sekali lagi aku merasapercakapan panjangmu dengan Kafka di dapur Haus Huten baru saja terjadi semalam.

“Ada percakapan-percakapan lucu di sini,” kata Gudrun.

Lalu Gudrun bercerita kepadaku Kafka merayumu. Kafka bilang kau sangat cantik bukan? Benarkah saat itu Kafka bilang, “Orang cantik kok melakukan pekerjaan jorok?” Tidak perlu kaujawab pertanyaanku Dora. Aku tahu Kafka akan mengatakan apa pun untuk memikatmu. Aku juga paham mengapa pada saat itu Kafka membantumu mengupas kentang.

“Dora sebenarnya tidak cantik. Ia pendek untuk ukuran orang Eropa.Tingginya hanya 160 sentimeter. Rata-rata cewek Eropa 170 sentimeter,” kata Gudrun.

O, abaikan saja omongan Gudrun, Dora. Meskipun dia berkata semacam itu, tetap saja sepanjang waktu dia mengisahkan apa pun yang dia ketahui tentang kamu kepadaku. Karena itulah, aku kerap memanggil dia, “Saudara Kembarku, Dora” dan dia memanggilku, “Saudara Kembarku, Mas K.”

“Dora akhirnya setiap hari ke pantai bersama Kafka. Menyusuri hutan bersama lalu duduk-duduk di kursi pantai. Dora suka mendongeng. Dia menceritakan kepada Kafka dongeng-dongeng dari Yahudi Timur. Tentu Dora pun mendapatkan cerita-cerita itu dari orang-orang Polandia atau mungkin Rusia,” kata Gudrun.

Akhirnya aku dan Gudrun juga tahu kau menceritakan tentang Baal Schen Tov, pendiri sekte Yahudi, dan sekumpulan dongeng Bubeh Maises. Kau ceritakan apa pun yang kauketahui dari pamanmu, termasuk legenda-legenda mistik dari Yahudi Timur. Kau tentu masih ingat pada saat itu kaubacakan juga untuk Kafka tentang Nabi Yesaya.

Aku pun berusaha mencari keistimewaan Nabi Yesaya. Ya, ya, aku tahu, Yesaya adalah nabi yang fokus pada kepercayaan kepada Allah sekalipun sedang berada dalam keadaan yang paling sukar. Dari aneka bacaan aku tahu, Yesaya memperkenalkan ungkapan Yahwe Sebaot (Tuhan semesta alam yang memiliki segala kekuasaan di langit) dan Kadosy Israel (Sang Kudus Israel). Allah menggunakan kekuatan Asyur untuk menghukum orang Israel. Yesaya menantikan seorang juru selamat atau mesias dari keturunan Daud.

Aku menduga Kafka senang mendengarkan ceritamu karena dia suka pada apa pun yang berkait dengan “sang penolong”, juru selamat, atau mesias. Dia membutuhkan siapa pun yang bisa, antara lain,membebaskannya dari kuasa sang ayah sebagaimana tergambar dalam Surat untuk Ayah (Brief an den Vater), terjemahan Sigit Susanto.

Apakah kau masih ingat ungkapan terakhir Kafka kepada sang ayah dalam surat itu? Apakah kau ingat ungkapan Kafka yang berbunyi  “...Bahkan ketidakpercayaanmu pada orang lain tidak ada yang sebesar ketidakpercayaanku pada diriku sendiri, yang sudah kautanamkan dalam diriku. Aku tidak menyangkal pembenaran tertentu terkait balasan ini, yang ikut menyumbang materi baru untuk menjelaskan hubungan kita.

“Pada kenyataannya , tentu saja semua ini, tidak bisa digabungkan dengan menjadi serapi bukti-bukti dalam suratku, hidup lebih sekadar permainan yang menguji kesabaran; tetapi dengan perbaikan yang ada dalam balasan ini, perbaikan yang tidak bisa dan tidak ingin aku uraikan dengan terperinci, aku telah mencapai sesuatu yang menurut pendapatku sangat mendekati kebenaran, bahwa hal ini bisa sangat menenangkan kita berdua dan bisa membuat kita menjalani hidup dan mati dengan lebih mudah.”

Menjalani hidup dan mati lebih mudah, Dora? Tentu saja tidak. Kaulah yang paling tahu bagaimana Kafka dihajar tuberkulosis. Kaulah yang paling paham betapa ketika hampir mati dalam kelaparan karena tidak bisa menelan makanan, Kafka tidak bisa bicara, dan hanya memandangmu dengan tatapan yang kabur.

Apakah Kafka kagum kepada Dora?” aku buru-buru bertanya pada Gudrun.

“Tentu. Akan tetapi sebaliknya Kafka kagum pada Dora karena perempuan Polandia sangat mandiri dan punya gagasan spiritual yang tinggi.”

Penjelasan Gudrun semacam ini membuatku yakin hingga ajal menjemput masih menyukai hal-hal berkait dengan spiritual (untuk tidak menyebut agama), janji-janji Tuhan, dan keyahudian.

                                                                                                                       ***

Dora yang baik...

Selama tiga bulan aku terus mencari apa pun yang berkait dengan dirimu.Bersama Gudrun aku berlari dari pantai ke Heimatmuseum. Tak kutemukan jejakmu di sana. Aku mencari tangga rumah Kafka.Juga tak ada. Museum tutup justru ketika kami telah sampai.

“Museum ini curang. Belum waktunya tutup, para penjaganya sudah tidak ada,” kata Gudrun.

 Aku juga mengunjungi Die Hochschule für die Wissenschaft des Judentusns, tempat kau belajar bahasa Ibrani. Aku kunjungi kedai roti yang sangat mungkin menjadi langganan tetapmu. Aku kunjungi pula tempat kerjamu, Jüdisches Volksheim, yang kini telah menjadi apartemen. Dulu tempat itu beralamat di Dragonstraße bukan? Kini, asal tahu saja, tempat itu beralamat di Max-Beer-straße 5.

Tentu saja aku juga ke Praha. Tak bisa kutemukan jejakmu di sana. Belakangan aku tahu mengapa tak banyak jejakmu di Praha.

“Kafka tidak berani mengenalkan Dora kepada keluarga besar karena Dora berasal dari Yahudi kawasan timur. Ayah Kafka menganggap orang-orang Yahudi bagian timur ortodoks, ketinggalan zaman,” kata Gudrun.

“Apakah karena itu Dora tidak terlalu banyak meninggalkan jejak di Praha?”

Gudrun mengangkat bahu.

Lalu apa jejak terjelas kebersatuanmu dengan Kafka? Menurutku karena tulisan latinmu kian lama kian mirip dengan tulisan Kafka, aku menganggap itulah jejak terjelas dan autentik betapa sukmamu menyatu dengan sukma Kafka.

Karena itulah, kau tak keliru saat pada publik bilang, “Kafka itu sensual seperti binatang atau anak. Dari mana ada dugaan Kafka seorang asketis?”

Ya. Aku sepakat. Bersamamu Kafka tak mungkin menyiksa diri sendiri.Bersamamu, dia sangat bahagia. Meskipun pada 1923, Kafka bilang, “Aku sudah bertahun-tahun mencoba, namun tetap tak punya daya, bukan menulis di meja tulis, justru malah lebih suka bersembunyi di kolong sofa...”, aku yakin dia tak sedang ingin menghindar darimu.

                                                                                                                    ***

Dora yang baik...

Apakah semua jejakmu telah kutemukan? Belum. Aku, sekalipun aku telah kembali ke Jawa, masih berusaha mencari jejakmu di Dunia Kafka. Mungkin pencarian itu tidak akan pernah selesai sekalipun kelak aku selesai menulis Metamorkafka. (Triyanto Triwikromo)