Srikandi Peracik Bumbu di Belanda

Semua orang  Belanda yang bermukim di wilayah “Randstad”, artinya gugusan kota di sebelah barat Negeri Belanda, yaitu di Amsterdam, Den Haag, Rotterdam dan Utrecht, pastinya tahu tentangRestoran Mini di Rotterdam.

Bangunannya berada di Witte de Withstraat 47.Menawarkan menu masakanJawa, Indonesia, Suriname  dan telahmenjadiprimadona.Restoran Mini punya dua tempat yang  letaknya berdekatan. Pertama, ruangan yang disebut dapur (Nr.53).Buka setiap hari sejak pukul 11.00-22.00 waktu Belanda. Ruangan dapur fungsinya untuk melayani pengunjung yang membawa pulang makanannya. Kedua adalahrestoran induk ( Nr.47). Sama juga, buka tiap hari, sejak pukul 12.00-00.00 waktu Belanda.Berfungsi untuk menampung pengunjung yang makan di tempat. Malahan hari Jumat dan Sabtu buka sampai pukul 06.00 Pagi.  Begitu antusiasnya pembeli menyantap makanan di sini!

Walau demikian, jarang yang mengenal  Ibu Rita Marto Pawiro (56) secara dekat. Perempuan paroh baya pemilik Restoran Miniitu  tak mau menonjol di depan umum, pemalu dan terkesan menutup diri .Mengelola usaha yang berjalan selama tiga puluh tahun bukan pekerjaan mudah. Banyak cerita menarik yang jadi “ bumbu” dalam hidup Ibu Rita Pawiro.

Saya berhasil mewawancarainya denganmenggunakan bahasa Belanda pada satu kesempatan. Mari kita ikuti kisahnya.

 

Kilas Balik Sejarah

Pada 9 Agustus 1890, Belanda mulai mendatangkan imigran dari koloninya, yaitu dari Indonesia sendiri sebagai pekerja. Imigran orang Jawa didatangkan di bawah bayang-bayang Sanksi Poenal. Sistem dari Sanksi Poenal sesungguhnya dimaksudkan untuk diberlakukan di Deli, Sumatera Timur. Hal ini dikarenakan banyak pekerja kontrak di pelbagai perkebunan sering tidak menyelesaikan kewajibannya sesuai dengan perjanjian. Dengan menghilangnya mereka secara tiba-tiba,  ikut raib pula alat-alat milik perkebunan.Tak jarang, ternak kepunyaan penduduk pun lenyap. Dengan adanya Sanksi Poenal ini mereka dapat diganjar dengan hukuman fisik.

Walau begitu, tetap saja ada pekerja kontrak, baik di  Suriname yang lari dan tak mau patuh pada peraturan. Bukan karena  tak jujur, tapi karena takut secara berlebihan.Di Suriname takut akan diumpankan pada ‘Baju Bebek’.

Baju Bebek adalah cerita seram yang sengaja dihembuskan oleh imigran Hindustan untuk menakut-nakuti imigran Jawa dengan tujuan mendapat tenaga kerja yang murah buat mengurusi peternakan mereka.

Konon ceritanya, bahwa para pemilik kebon memelihara ular besar untuk medatangkan kekayaan. Ular itu diberimakan daging manusia. Untuk itulah orang Jawa dikontrakkan.Cerita ini dengan mudah dipercaya karena Suriname terkenal sebagai negeri ular. Di dalam hutan bahkan di rumah tengah kota sering ditemui ular Anaconda, Bush Master dan Dague .

Imigrasi terakhir orang Jawa ke Suriname terjadi   pada 13 Desember 1939 dengan kapal Kota Gede.Cerita-cerita ini secara rinci di bawa pulang oleh penduduk ke Pulau Jawa pada abad yang telah silam.

Ibu Rita sendiri, lahir di Distrik  Marowijne. Sebab di sana keluarga besarnya pernah tinggal.

Hidup Sederhana

Meski pendapatannya kini sudah sangat mencukupi, tapi ia tak pernah hidup secara berlebih-lebihan dan berusaha untuk tidak menarik perhatian.

“ Dulu ada yang cari pimpinan rumah makan, kebetulan saya ada di tempat dan sedang membersihkan meja, saya ditanyai orang itu, ya saya jawab, saya hanya pembantu di sini,” katanya jujur membuat pengakuan.

“ Kenapa bisa begitu bu ?”

“ Ah, biarlah, untuk apa, saya tak mau menonjol-nonjolkan diri. Orang gemar membicarakan dirinya sendiri. Saya tidak mau,” sambungnya.

Sejak kecil ia sudah yatim-piatu. Ia kemudian diasuh oleh Oomnya, Sahidi Rasam, yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Suriname di Indonesia.

“ Tahun 1987 Oom Rasam yang mengelola restoran . Tapi sejak 1990, saya yang mulanya membantu, dipercaya mengelola secara penuh. Dengan meneruskan usaha ini, saya merasa  menghormati jasa-jasa dan kasih sayangnya. ”

Opa dan Omanya pernah pulang ke Indonesia. Malahan, sang oma yang meninggal di Jakarta saat liburan sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, banyak bercerita tentang “tanah yang jauh itu” padanya.

Pada satu waktu, ketika kesempatan jalan ke Indonesia tiba, ia pun banyak belajar tentang kuliner dari tanah asalnya.

“ Semua pengetahuan memasak dan mengolah bumbu secara tepat, telah diterapkan di sini,”paparnya.

Olahan daging sapi, ayam, sayuran,  yang dikombinasikan dengan pelbagai bumbu merica dan aneka rempah Jawa dengan Suriname, membuat cita rasa makanan ala Restoran Mini menjadi mantap. Soto Ayam, Bami Goreng, Gado-gado dan Nasi Rames adalah menu andalan restoran.

Tak lupa, tambahancampuran paprika yang pedas dengan bumbu Suriname , membuat makanan saat disantap menjadi lengkap.

Kerumunan pembeli sejak dibukanya restoran sampai tutup adalah pemandangan biasa. Apa lagi menjelang week end, para koki dan staff penyaji harus bekerja keras melayani padatnya pembeli.

Buka usaha makanan di Belanda ternyata sistemnya ketat dan diawasi langsung pemerintah. Para pemilik usaha diwajibkan kursus terlebih dahulu yang diadakan oleh pemerintah supaya tahu akan kewajiban dan hak-haknya kepada negara. Tak lupa,  pajak yang dibebankan  harus dibayar dan jangan sekali-kali  mengelak.

“Sayataataturannegara, pajakwalautinggitetapharusbayar,”sambungnya.

Belum cukup demikian, setiap usaha restoranwajib terjamin kebersihannya. Petugas yang ditunjuk bisa datang kapan saja melakukan inspeksi langsung ke dalam dapur. Jika ditemukan kejanggalan dan dianggap tidak bersih, Dinas Otoritas Belanda tak segan untuk menutup usaha rumah makan tersebut walau telah berjalan sejak lama.

Untuk itulah, Ibu Rita tak segan mewanti-wanti staffnya yang berjumlah enam puluh dua orang supaya disiplin dan tidak main-main saat bekerja.

Pada akhir perbincangan, ia berharap supaya Orang-orang Indonesia yang sedang melakukan studi di Belanda dapat melakukan tugasnya dengan baik.  Orang yang pernah merasakan lezatnya makanan restoran akan terus terkenang dan terbawa sepanjang hidup.

Ada beberapa orang penting dari Indonesia kalau kebetulan di Rotterdam, singgah untuk makan kembali

Ketekunannya dalam berusaha rupanya menurun kepada anaknya.

“ Rumah makan ini telah ada cabangnya di Amsterdam, yang pegang anak saya. Dia baru lulus kuliah kedokteran,” ujarnya.

“ Tidak mau pulang ke Indonesia bu ?”

Ia tersenyum dan menjawab, “ Bagaimanapun Indonesia bagian dari diri saya, tak akan terlupakan,” pungkasnya mengakhiri perbincangan.

***

Koko Hendri Lubis