Ayu Utami: Spiritualis nan Kritis

Namanya tak pernah luput diperhitungkan dalam perbincangan sastra Indonesia kontemporer.  Sejak novel pertamanya Saman memenangi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 1998 dan terbit di tahun yang sama, karier kepenulisan Ayu Utami tak pernah redup.  Saman dinilai fenomenal ketika itu, tak hanya karena mendobrak tabu perihal seks melainkan juga atas keberaniannya mempertanyakan agama. Novel pertamanya ini pula yang membawanya meraih penghargaan bergengsi Prince Clause Award. pada tahun 2000.

Ayu sendiri  tak jumawa menyikapi perjalanan karier kepengarangannya yang melesat di usia cukup muda.

“Tumbuh dalam tradisi Katolik, saya melihat penghargaan yang diberikan di awal karir itu sebagai sejenis sakramen pembaptisan atau pengurapan. Kadang orang dibaptis sebelum tahu apa-apa, toh diberi kepercayaan. Tapi biasanya orang diurapi setelah melakukan sedikit hal dasar. Para tokoh “menumpangkan tangan” di atas kepala saya. Selanjutnya adalah tugas yang saya kerjakan dengan sukacita,” tulis Ayu dalam situs pribadinya.  Saman kini telah diterjemahkan ke dalam delapan bahasa asing, antara lain Inggris, Belanda dan Jerman.

Di Indonesia Ayu kerap dianggap pionir dalam mendobrak tabu, karena generasi perempuan penulis setelahnya pun cenderung lebih berani berbicara lantang dan terbuka mengenai seks.  Baginya fenomena ini adalah hal yang positif, “Saya cenderung percaya --berdasarkan beberapa riset-- bahwa seksualitas laki-laki itu pada umumnya lebih seragam sementara  seksualitas perempuan itu berbeda dari individu ke individu yang lain dan perbedaannya lebih besar dibanding laki-laki, karena itu jauh lebih penting bagi perempuan  untuk bisa menyadari individualitas atau persoalan seksualitasnya masing-masing,” ujarnya.

Selain membongkar tabu pada persoalan seksualitas, Saman maupun karya-karya Ayu berikutnya antara lain Larung (2001) dan Bilangan Fu (2008)  selalu bersikap kritis terhadap agama, sesuatu yang di Indonesia umumnya dianggap sebagai hal yang sakral dan tak perlu dipertanyakan lagi.

 “Gejala mempertanyakan agama sekarang akan menjadi semakin terbuka, bukan karena Saman, tapi  karena perkembangan teknologi informasi, sehingga orang mau tidak mau akan terhubung dengan perdebatan di dunia,” ujarnya.  Keberanian mempertanyakan agama dan religiusitas ini kemudian dinamakan Ayu sebagai spiritualisme kritis. Istilah ini pertama kali ia munculkan dalam novelnya Bilangan Fu yaitu mengacu pada sebuah sikap kritis yang terbuka, yang tetap bisa mengiringi sikap spiritual.

Di video wawancara ini, Ayu bertutur tentang mengapa spiritualisme kritis menjadi nafas dari karya-karyanya dan mengapa hal itu dipandangnya penting dalam konteks masyarakat Indonesia maupun situasi dunia saat ini.