A.S. Laksana: Si Pencinta Cerita

Berbincang dengan A.S. Laksana, kita akan segera menangkap kecintaannya pada dunia tulis-menulis. Lebih khusus lagi, dunia cerita. Kadang, ia renyah meledek tulisan-tulisan yang menurutnya buruk dari segi bahasa. Kadang, ia serius merisaukan dunia sekitar yang ia pandang sehari-hari. Kadang, ia asyik mengulas teknik dan "pertukangan" kata.

AS. Laksana mengurai sebab kesukaannya pada cerita. "Karena setiap orang menyukai cerita, tidak ada orang yang menolak cerita. Cerita bisa disampaikan secara akrab,  ketika kita bertemu teman dekat. Kita berbagi cerita bukan berbagi teori," tuturnya. Ia menyimpulkan, "Cerita tidak mengancam pikiran."

Walau sudah aktif menulis sejak 1990-an, A.S. Laksana yang akrab dipanggil Sulak oleh teman-temannya ini, menerbitkan karya-karya fiksinya pada era 2000-an. Buku kumpulan cerita pendek (cerpen)-nya, Bidadari Yang Mengembara (2004), menampakkan kegandrungannya pada gaya bertutur dongeng. Dan itu konsisten hingga kumpulan cerpennya Murjangkung: Cinta Yang Dungu dan Hantu-Hantu (2013). Juga pada cerpen-cerpennya yang tergabung dalam buku-buku kumpulan cerpen terbaik Kompas.

Bukan hanya situasi-situasi yang ia ceritakan memang bersifat dongeng, tapi sangat terasa aroma dongeng itu dalam gaya bahasanya. Gaya yang berbaur pula dengan parodi, dan ironi. Dan semakin nyata kita melihat kegandrungan itu, dalam blog-blognya. Blog terbarunya, ia khususkan untuk dongeng dan cerita anak: ceritabagusuntukmu.blogspot.com. A.S. Laksana yakin, cerita baik harus dikenalkan sedini mungkin, kepada anak-anak Indonesia.

Ya, ia aktif sekali menulis blog. Banyak dari isi blognya, tentang kiat dan panduan menulis yang baik dan menarik. Ini satu sisi lain dari kecintaan A.S. Laksana terhadap cerita, ia aktif mengajar secara formal maupun informal. Buku panduan menulisnya, Creative Writing: Tip dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel, adalah padatan pengalaman menulis dan membaca yang didedahkan jadi jurus-jurus menulis sangat praktis.

Dalam wawancara ini, A.S. Laksana banyak membicarakan peran cerita dalam Indonesia masa kini.