Laksmi Pamuntjak: Pertanyaan tentang Merah


Ada suatu fase dalam sejarah bangsa Indonesia, dimana ‘merah’ identik dengan komunis, dan komunis berarti sesat, harus diberantas, bahkan halal dibunuh. Laksmi Pamuntjak  lahir pada 1971 ketika stigma terhadap komunisme masih sangat lekat. 

“Ketika itu apa saja yang berkaitan dengan komunisme dan Partai Komunis Indonesia (PKI) dianggap tabu. Di sekolah, kami dicekoki versi resmi pemerintah Suharto bahwa PKI-lah yang bertanggung jawab atas peristiwa  30 September 1965,” tutur Laksmi.   Peristiwa yang dimaksud adalah penculikan dan pembunuhan enam jenderal Angkatan Darat serta satu perwira yang selanjutnya memicu pembunuhan masal terhadap sekitar satu juta manusia yang diduga komunis yang tidak hanya dilakukan militer namun juga warga sipil, menjadikannya tragedi  pembantaian terhadap kaum komunis terbesar di abad ke 20.

Tak berhenti sampai di situ, cap komunisme juga melekat kepada anggota keluarga dan anak keturunan korban. Laksmi memang tidak punya pengalaman langsung dengan 1965. Tapi ia punya sejumlah teman yang anggota keluarganya bertahun-tahun kena imbas stigma komunisme hingga menghambat hidup mereka, mulai dari dicemooh lingkungan hingga sulit bersekolah dan mendapat pekerjaan. Namun  pada 2009 sebuah survey yang dimuat di salah satu media menyebutkan lebih dari separuh responden yang berasal dari kalangan mahasiswa Jakarta mengaku tidak tahu-menahu tentang 1965. Hal ini yang menjadi salah satu alasan Laksmi menerbitkan novel Amba yang berlatar 1965. Novel pertamanya ini terbit pada 2012, dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Question of Red.

Jauh sebelum menerbitkan novel, Laksmi telah lebih dulu dikenal penulis review tentang makanan  dan juga sebagai penyair. Kumpulan puisi Laksmi  yang pertama Ellipsis: Poems and Prose (2005), ternyata langsung mencuri perhatian dan mendapat pujian dari kritikus sastra Suhayl Saadi yang dimuat di  Books of the Year 2005-Herald UK. Namun butuh jeda waktu cukup panjang hingga Laksmi kemudian meluncurkan  buku puisi keduanya, The Anagram (2007). Pada 2012, Laksmi mewakili Indonesia di festival budaya yang diselenggarakan dalam rangka Olimpiade London 2012.

Laksmi fasih menulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, menganggap dirinya beruntung karena sejak kecil  “Namun untuk puisi, saya hanya bisa menulis dalam bahasa Inggris, karena impuls yang saya terima memang demikian,” tuturnya. 

Dalam video wawancara ini, Laksmi berbicara tentang Amba dan mengapa ia menggunakan mitologi Mahabharata di dalam novel ini.