Oka Rusmini: Pendobrak Tabu


da Ayu Oka Rusmini lahir di Jakarta, 11 juli 1967. Ia memang keturunan Bali, dan pernah pula kuliah serta bekerja sebagai wartawan di Bali. Tapi, ia banyak menulis budaya Bali lewat puisi, cerpen, dan novel dalam nada kritik yang frontal dan keras. Khususnya yang berkenaan dengan perempuan yang terperangkap dan berbenturan dengan tradisi, adat, serta nilai-nilai lama.

Oka menarik perhatian pada awal 2000-an walau ia telah menerbitkan karyanya sejak pertengahan 1990-an. Novel Tarian Bumi (Gramedia, 2000) "adalah novel tentang perempuan yang berhadapan dengan budaya, agama, kehidupan sosial, di dalam masyarakat Hindu di Bali," terangnya dalam wawancara yang kami lakukan di sela kesibukan Oka dalam Festival Sastra Makassar, 3-6 Juni 2015 lalu. Penghadapan semacam itu menyebabkan Oka disebut-sebut sebagai "pendobrak tabu dari Bali" (Wayan Sunarta, journalbali.com).

Novel tersebut juga menarik perhatian penerbit internasional, diterjemah ke bahasa Inggris, Swedia, Italia (malah, jadi bacaan wajib di Universitas Napoli), dan sebentar lagi bahasa Korea. Kritik, atau bisa juga disebut perlawanan, Oka terhadap nilai-nilai tradisional Bali yang ia anggap merugikan perempuan konsisten ia garap dalam berbagai bentuk. Kumpulan cerpennya, Sagra dan Akar Pule, misalnya, mampu menggali tema serupa dalam aneka cerita. Kumpulan puisinya, seperti Warna Kita (2007) danPandora (2008) sering memberdayakan kosa kata yang keras menutur perlawanan itu.

Dalam kumpulan puisi Saiban (2014), Oka tampak lebih positif terhadap dunia Bali. Ia menyebut kumpulan yang memenangi Kusala Sastra Khatulistiwa itu sebagai ungkapan rasa syukur tak habis-habis atas banyak hal. Begitu juga tampak bergeser obsesinya untuk menulis fiksi dalam kerangka mendokumentasi budaya yang ada. Sempat ia mengucap (diperca.blogspot.co.id, 2007) bahwa dokumentasi itu harus dilakukan karena budaya yang usang itu di masa depan akan musnah. Dalam wawancara kali ini, Oka menyebut alasan lebih positif: bahwa "budaya Indonesia banyak sekali yang belum digali."    

Ia menyayangkan, jika budaya Indonesia tak dikenal lagi. Seperti ia juga menyayangkan betapa mayoritas sekolah kita tidak menjadikan karya sastra Indonesia sebagai bacaan wajib mereka. Seperti tampak dalam wawancara ini, Oka masih terus berproses.