Helvy Tiana Rosa: Aktivis Sastra Islami

Sekitar Mei-Juli 2015, Helvy Tiana Rosa sedang sibuk dalam persiapan adaptasi film dari novelnya yang pertama kali popular, Ketika Mas Gagah Pergi. Yang menarik, Helvy dan tim produksi film menggunakan jalur crowd funding untuk film tersebut. Dengan gencar, Helvy mempromosikan ajakan dan proses pendanaan publik melalui media sosial dan platform di internet, sehingga target pun tercapai.

Aktivisme demikian adalah sebuah ciri khas Helvy. Dia bukan seorang penulis perempuan yang hanya bersunyi mengetik naskah-naskahnya dalam kamar. Boleh dibilang, ia adalah seorang penulis yang lengkap: aktif di teater, menulis dan memanggungkan puisi serta cerita-ceritanya, menjadi redaktur majalah fiksi, menjadi akademisi dan pengajar yang rajin mengampu para siswanya lewat berbagai media sosial, dan sebagainya.

Sebagai penulis, sudah lebih dari 50 buku karyanya terbit, mencakup novel, kumpulan cerpen, naskah drama, ulasan satra, dan kumpulan puisi. Beberapa karyanya telah diterjemah ke bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Arab, Jepang, dan Swedia.

Kekhususan Helvy, dia dengan gamblang dan lugas menyatakan diri sebagai penulis dan pegiat Sastra Islami. Sejak 1991, saat ia dan beberapa rekannya yang kebanyakan aktivis Islam perempuan di Universitas Indonesia mendirikan majalah fiksi Islami, Annida, Helvy telah menegaskan pilihan identitas kesastraannya tersebut. Annida kemudian tumbuh jadi salah satu bacaan remaja Islami terlaris, dan boleh dibilang menciptakan pasar baru yang tumbuh dengan cepat dan kuat hingga era 2000-an.

Helvy bersama adiknya, juga penulis terkenal yaitu Asma Nadia, lalu mengembangkan organisasi penulis yang boleh dibilang paling besar di Indonesia saat ini, Forum Lingkar Pena (FLP) pada 1997. Lewat FLP, ia dan Asma membina generasi penulis segala usia dan latar sosial, khususnya kaum muda dan kebanyakan perempuan. Cabang FLP telah lebih dari 150, tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri. Salah satu yang paling berkesan bagi Helvy dan Asma adalah cabang FLP di Hongkong, yang banyak terdiri dari TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, yang bersemangat menjadi penulis.

Bagi Helvy, aktivismenya untuk menggadang Sastra Islami di Indonesia, bahkan dunia, bukanlah sebentuk aktivisme ideologis belaka. Dalam wawancara dengan kami, Helvy menyatakan bahwa Sastra Islami sebetulnya "memotret hal-hal yang humanis". Baginya, Sastra Islami adalah sastra yang "membangun spirit yang baik" bagi umat Islam, masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Itulah sebab, baginya, seorang Kristen Maronit seperti Kahlil Gibran pun karya-karyanya Islami.

Bagi Helvy, seperti terucap dalam wawancara ini, "Islam itu ramah, Islam itu cinta, Islam itu indah."