Goenawan Mohamad: Sang Legenda

Goenawan Mohamad  atau kerap dipanggil dengan inisialnya GM,  adalah legenda hidup dunia sastra dan jurnalisme Indonesia.  Menulis puisi  sejak usia 17, ratusan puisinya terserak di berbagai media massa. GM bergabung dengan para penyair yang menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang saat itu dianggap tidak mendukung kebijakan Presiden Sukarno sehingga mengakibatkan ia dilarang menulis di berbagai media umum. 

“Sastra, sebagaimana jurnalisme tidak boleh digunakan sebagai alat kekuasaan, memang ini adalah masalah yang selalu terjadi mungkin sejak jaman Socrates, di berbagai negara di seluruh dunia,” ujar GM.   

Pada 1971 GM bersama teman-teman mendirikan Majalah TEMPO yang mengusung jurnalisme independen dan kritis kepada pemerintah.   Di masa pemerintahan Presiden Suharto, TEMPO kerap mengalami tekanan dari penguasa, hingga mengalami dua kali pembredelan, pertama pada 1982 namun diijinkan kembali terbit setelah mengajukan permintaan maaf, dan kedua kalinya pada 1994 .  GM dan para wartawan lain melanjutkan perjuangan melawan Orde Baru dari bawah tanah –ia ikut mendirikan TEMPO interaktif dan Institut Studi Arus Informasi-ISAI).  Akhirnya rezim ini runtuh di 1998 dan TEMPO pun bisa kembali terbit pada 6 Oktober 1998. Atas kiprahnya di dunia jurnalistik, GM menerima   Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation (1997), CPJ International Press Freedom Awards (1998), International Editor of the Year Award dari World Press Review (1999) dan Dan David Prize Award (2006).  

GM rutin menulis esai Catatan Pinggir di Majalah Tempo setiap minggunya selama lebih dari 30 tahun. Saat ini Catatan Pinggir telah dikompilasi dalam bentuk buku hingga akan memasuki jilid ke-10, dengan tebal masing-masing sekitar 400 halaman. Medium esai menurut GM memiliki keistimewaan dibanding karya ilmiah.

“Esai tidak hanya mengungkapkan apa yang abstrak, tapi juga yang konkret, Di dalam esai ada unsur yang tidak hanya konseptual saja, tapi ada sesuatu yang disebut metafor,deskriptis dan puitis, karena dengan puitis hal-hal yang tidak terduga bisa muncul, ” tuturnya.

Namun tiap minggu menulis Catatan Pingir sebenarnya perjuangan berat bagi GM “Kadang-kadang saya mengutuk, kenapa ini saya lakukan terus-menerus,” ujarnya.

Selain puisi dan esai, GM juga gemar menulis lakon yang memungkinkan segala hal yang tegang dan tak terduga bisa muncul. Menurutnya lakon sangat terlibat dengan tubuh manusia yang menyebabkan kata dan ide berkembang dan berinteraksi. Di samping menulis lakon untuk wayang kulit, yakni Wisanggeni dan Alap-alapan Surtikanti, GM telah menulis naskah teater antara lain Surti dan Tiga Sawunggaling, Visa, dan Karna.  

Memasuki usia 74 tahun ini, GM tetap sehat dan fit, antara lain karena kebiasannya berolahraga lari. “Cita-cita saya jadi juara marathon meskipun itu cita-cita yang pasti gagal,” demikian tuturnya, separuh bercanda. Bagi GM, kebaikan dari lari maraton itu membutuhkan persiapan yang tidak main-main, disiplin, fokus dan terus menerus, yang sebetulnya sangat mirip dengan aktivitas menulis yang telah dilakukannya lebih dari 50 tahun.  

Dalam video wawancara ini, GM berbicara lebih banyak tentang kelebihan medium esai yang setia ditekuninya dan bagaimana ia kini aktif menggunakan media sosial untuk menyebarkan gagasannya.