Leila Chudori: Tak Ragu oleh Tabu

Sebagai penulis, cakupan karyanya luas. Leila S. Chudori telah menulis sejak usia 12, di majalah anak dan remaja Si KuncungKawanku, dan Hai. Awal karir menulis yang dini itu ia mulai dengan menulis fiksi. Cerpen-cerpennya semasa kanak dan remaja itu kemudian terkumpul dalam buku kumpulan cerpen Sebuah KejutanEmpat Pemuda Kecil, dan Seputih Hati Andra.

Leila tak berhenti di fiksi remaja. Malah, ia merambah juga ke ranah jurnalisme. Sejak 1989, ia bergabung dengan majalah Tempo. Sebagai jurnalis, ia telah mewawancarai tokoh-tokoh dunia seperti Cory Aquino, Fang Lizhi (ahli fisika, tokoh Tiannamen), Robert Mugabe, dan Nelson Mandela. Leila pun banyak menulis tentang masalah-masalah kebahasaan dan juga seputar perfilman. Pengalamannya di dunia film melebar jadi seorang pencipta, menulis naskah untuk sinetron miniseri Dunia Tanpa Koma, dan film Drupadi serta Kata Maaf Terakhir.

Tapi, ia tetap konsisten tumbuh di dunia fiksi. Kumpulan cerpennya, Malam Terakhir banyak dipujikan di dalam dan luar negeri. Karya-karyanya pun banyak dikaji serta mendapat berbagai anugerah sastra. Salah satu yang menonjol dari karya-karya fiksi Leila adalah kehendak kuatnya mengungkap ruang-ruang gelap dalam kepolitikan Indonesia.

"Di tahun 2006, saya merasa sudah saatnya menulis satu novel yang bertutur tentang orang-orang yang dulu menjadi korban," ujar Leila. Saat baru lulus kuliah di Kanada, ia bertemu dengan beberapa eksil politik di Paris. Mereka yang terasing karena dianggap terlibat peristiwa 1965, terang Leila. Perjumpaan itu mengendap dari rasa ingin tahu yang akhirnya membuhul pada kehendak menutur kisah "orang-orang yang dulu menjadi korban."

Kumpulan cerpennya yang terbit sepulang dari Kanada, Malam Terakhir(1989) memang belum secara khusus bicara para eksil itu. HB. Jassin, dalam pengantar kumpulan cerpen itu, memuji Leila sebagai " tidak ragu-ragu menceritakan hal-hal yang tabu bagi masyarakat tradisional." Kumpulan cerpen ini telah diterjemah ke dalam Bahasa Jerman, dan dikaji oleh kritikus sastra Tinneke Hellwig dalam karyanya tentang para penulis perempuan di Asia Tenggara.

Dua puluh tahun kemudian, ia menerbitkan lagi buku fiksi, kumpulan cerpen 9 Dari Nadira, yang cukup unik dalam hal bentuk. Dan pada 2012 ia menerbitkan novelnya tentang kaum eksil dan reformasi 1998, Pulang.  Dalam  video wawancara ini, Leila mengungkap proses kreatifnya dalamPulang, dan dalam keseluruhan karyanya hingga kini.