NH Dini: Hanya Mencari Keadilan


Nurhayati Srihardini Siti Nukatin lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 29 Februari 1936. Dia lebih dikenal sebagai NH. Dini, penulis perempuan Indonesia yang sangat dihormati sejak 1970-an. Juga, dia dikenal sebagai penulis feminis. Budi Darma, sastrawan dan kritikus terkemuka Indonesia, menyebut NH. Dini menyuarakan kemarahan perempuan pada lelaki.

NH. Dini sendiri tak menganggap dirinya seorang feminis. "Saya hanya mencari keadilan," katanya dalam wawancara ini. Dia menerangkan mengapa ia lebih suka menyebut diri sedang mencari keadilan. Pengalaman hidupnya adalah lahan yang kaya bagi kepenulisannya. NH. Dini mulanya bekerja sebagai pramugari pesawat pada 1960-an, sebuah pekerjaan langka di Indonesia saat itu. Dan lalu dia menikahi seorang pejabat diplomat dari Prancis. Dia mengalami gaya hidup yang sangat modern, kosmopolit, lewat pernikahan campur itu. Lagi-lagi sebuah hal relatif langka pada masa itu.

NH. Dini mulai menulis pada 1970-an, dan wawasan serta nilai-nilai kosmopolitnya segera tampak dalam cerpen-cerpen dan novel-novelnya. Dia tak berat hati mengungkap soal seks dan perselingkuhan tokoh-tokoh utamanya. Dan perempuanlah yang selalu jadi tokoh-tokoh utamanya. Masa puncak produktifnya pada 1980-an. Saat itu, dia banyak menulis artikel-artikel jurnalistik. Khususnya, tentang Sulawesi yang sempat dia tempati. Tapi pada karya-karya fiksinya lah NH. Dini memancangkan kekuatannya di dunia kepenulisan Indonesia.

Perempuan-perempuan dalam novel-novel La Barka (1975), Pada Sebuah Kapal (1985), danNamaku Hiroko (1986), misalnya, ditempatkan di latar negara luar Indonesia yang meyakinkan dan sangat liberal dalam hal seksualitas mereka. Tak seperti kebanyakan novel Indonesia masa itu yang juga banyak mengeksploitasi seksualitas perempuan, novel-novel NH. Dini menuliskan seksualitas perempuan dari sudut pandang dalam perempuan. Sudut pandang yang terus terang, tapi juga tak mengeksploitasi.

Tokoh-tokohnya adalah perempuan warga dunia apa adanya, sama sekali jauh dari idealisasi perempuan tradisional Indonesia saat itu. Tapi, pada novelnya yang banyak dianggap salah satu puncak karyanya, Tirai Menurun, NH. Dini mengulik dunia perempuan di Jawa secara dalam juga. NH. Dini juga sangat dikenal karena rangkaian memoir-nya, atau Seri Cerita Kenangan, seperti Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Sekayu (1988), dan lain-lain. Dia konsisten menulis sejarah masa kecilnya secara feminin: telaten dan lembut. 

Walau gaya naratifnya feminin, nyatanya beliau juga seorang perempuan yang keras dalam tekad. Hingga kini dia masih aktif menulis dan seminar ke mana-mana, jika ada panggilan. Sebab, dia merasa harus membiayai sendiri hidupnya di Panti Wreda. Malah, tinggal di Panti Wreda itu pun pilihan sadarnya, "agar tak merepotkan orang lain". Dalam wawancara ini, tergambar pikiran-pikirannya yang sangat mandiri itu, tak terhambat oleh usia senja.