Video

Embedded thumbnail for Seno Gumira Ajidarma: a Warrior of Words

Seno Gumira Ajidarma: a Warrior of Words

Seno Gumira Ajidarma is a ‘warrior of words’. He withstand his existance since the 1970s. The term ‘warrior’ was borrowed from Melani Budianta, a professor in Faculty of Cultre, Universitas Indonesia, who called Seno as a warrior of Indonesian tales (short stories). In the world of wordsmith, the character of a warrior is rather fitting to describe Seno.


Embedded thumbnail for Seno Gumira Ajidarma: Sang Pendekar Kata

Seno Gumira Ajidarma: Sang Pendekar Kata

Seno Gumira Ajidarma adalah seorang ‘pendekar kata’.  Ia punya daya tahan keberadaan yang kuat sejak 1970-an hingga kini. Sebutan "pendekar" ini meminjam istilah dari Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia, Melani Budianta, yang menyebut Seno sebagai pendekar cerita  (cerita pendek)" Indonesia. Tapi, dalam dunia olah kata, karakter pendekar tersebut memang cukup pas menggambarkan Seno.


Embedded thumbnail for Ahmad Tohari: Memecah Kesunyian

Ahmad Tohari: Memecah Kesunyian

Novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang mulanya terbit sebagai cerita bersambung di harian Kompas dan lalu jadi buku trilogi pada 1982, adalah pembayaran sebuah hutang yang panjang waktunya. Ahmad Tohari (lahir di Banyumas pada 13 Juni 1948) merasa bahwa tragedi 1965 yang ia saksikan ketika kecil di desanya adalah sebuah hutang. Mulanya, ia hanya merasa heran, mengapa tak ada yang menulis peristiwa pembasmian besar-besaran para anggota PKI atau yang dituduh PKI di Indonesia pada 1965 tak juga ada yang menuliskan.


Embedded thumbnail for Ahmad Tohari: Breaking the Silence

Ahmad Tohari: Breaking the Silence

The Ronggeng Dukuh Paruk novel, which first published as a serial in Kompas daily newspaper and made into a trilogy in 1982, is an overdue obligation. Ahmad Tohari (born in Banyumas on June 13, 1948) feels that he's in debt for witnessing the 1965 tragedy in his village when he was a child. In the beginning, he was only curious when nobody wrote about the genocide of PKI (Communist Party of Indonesia) members and accused members in Indonesia that took place in 1965. Except for, according to Tohari, a few “awfully short and vague” short stories.


Embedded thumbnail for Oka Rusmini: The Taboo Breaker

Oka Rusmini: The Taboo Breaker

Ida Ayu Oka Rusmini was born in Jakarta on July 11 1967. Being a Balinese descendant, she once went to college and worked as a journalist in Bali. She wrote about Balinese culture with a frontal and critical tone in her poetry, short stories, and novels. Particularly the ones that are referring to women who are caught and stumbled in tradition, custom, and old values.


Embedded thumbnail for Oka Rusmini: Pendobrak Tabu

Oka Rusmini: Pendobrak Tabu

da Ayu Oka Rusmini lahir di Jakarta, 11 juli 1967. Ia memang keturunan Bali, dan pernah pula kuliah serta bekerja sebagai wartawan di Bali. Tapi, ia banyak menulis budaya Bali lewat puisi, cerpen, dan novel dalam nada kritik yang frontal dan keras. Khususnya yang berkenaan dengan perempuan yang terperangkap dan berbenturan dengan tradisi, adat, serta nilai-nilai lama.


Embedded thumbnail for Joko Pinurbo: Menghayati Iman dengan Jenaka

Joko Pinurbo: Menghayati Iman dengan Jenaka

Kejenakaan adalah hal yang langka dalam sastra Indonesia. Joko Pinurbo adalah salah satu penyair Indonesia yang berhasil mengolah kejenakaan dan suasana ringan hati jadi sejumlah karya yang dihargai pula segi sastranya oleh para kritikus dan pembaca umum.


Embedded thumbnail for Joko Pinurbo: Appreciating Faith Humorously

Joko Pinurbo: Appreciating Faith Humorously

Humor is a rare case in Indonesian literature. Joko Pinurbo is one of Indonesian poets who has successfully combined humor and light-hearted situations into various works, which are also respected in terms of literature by the critics and  general readers.


Embedded thumbnail for Eka Kurniawan: Bukan Realisme Magis, Bukan Pula Sejarah Positif

Eka Kurniawan: Bukan Realisme Magis, Bukan Pula Sejarah Positif

A few months prior to the Frankfurt Book Fair 2015, the name Eka Kurniawan stole the attention of literary critics in west Europe, America, and Australia. The English version ofCantik Itu Luka (2003, translated to Beauty is a Wound) and Lelaki Harimau (2004, translated to Man Tiger) was published and praised by Publisher's Weekly, San Fransisco Chronicle, andNew York Times among others.


Embedded thumbnail for Eka Kurniawan: Bukan Realisme Magis, Bukan Pula Sejarah Positif

Eka Kurniawan: Bukan Realisme Magis, Bukan Pula Sejarah Positif

Beberapa bulan menjelang Frankfurt Book Fair 2015, nama Eka Kurniawan mencuri perhatian para kritikus sastra di Eropa Barat, Amerika, hingga Australia. Edisi Bahasa Inggris dua novel awalnya, Cantik Itu Luka (2003, diterjemah jadi Beauty is a Wound) dan Lelaki Harimau (2004, diterjemah jadiMan Tiger) terbit dan dipuji antara lain oleh Publisher's WeeklySan Fransisco Chronicle, dan New York Times.


Pages