Mengukuhkan Posisi Indonesia di Frankfurt Book Fair 2019

Oleh: Dewi Ria Utari

Keterikatan sejarah antara Frankfurt Book Fair dengan industri perbukuan Indonesia telah menguat sejak Indonesia menjadi tamu kehormatan di FBF 2015. Sehingga dari tahun ke tahun, Komite Buku Nasional (KBN) menilai sangatlah penting untuk menampilkan perbukuan Indonesia dengan konsep yang terus-menerus berkembang. Perkembangan ini tentu saja mengikuti arah industri perbukuan yang kemudian beralih wahana ke media lain. Karena itulah, di FBF 2019, KBN membawa serta media-media yang merupakan alih wahana perbukuan ini, yaitu kuliner, musik, dan ilustrasi. 

Berlangsung dari 16 hingga 20 Oktober 2019, di FBF tahun ini, KBN menempati stand C71 di Hall 4. Di stand berukuran 120 meter persegi itu, KBN membawa 350 judul buku dan 10 penerbit, 2 agen literasi, dan 1 agen ilustrasi. Selain itu, tampil juga konten kuliner yang diwakili dua anggota ACMI (Aku Cinta Masakan Indonesia) yaitu Santhi Sherad dan Astrid Enricka dan dua barista, Ronald Prasanto dan Adi Taroepratjeka. Hadir pula konten musik yang menampilkan Oppie Andaresta bersama dua musisi pengiringnya, membawakan komposisi lagu yang diangkat dari puisi-puisi Joko Pinurbo.

Secara khusus pula, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jerman, memanfaatkan momen ini untuk meluncurkan buku komik Raden Saleh berjudul “Lebend Und Abenteuer Des Raden Saleh” yang ditulis oleh sejarawan seni, Werner Kraus. Buku ini diterbitkan dengan dukungan biaya sepenuhnya dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jerman. KBRI Jerman juga menampilkan delapan seri perangko Jerman yang menampilkan karya Raden Saleh, diproduksi oleh Deutsche Post. Delapan karya di perangko ini dikurasi oleh Werner Kraus, yang dinilai mewakili kompleksitas karakter Raden Saleh. Di antaranya perangko yang menampilkan lukisan diri Raden Saleh sebagai lelaki Jawa; kemudian sosoknya dalam kostum lelaki Eropa; karya maestro Penangkapan Diponegoro; lukisan harimau jawa; dan lukisan Gunung Merapi. 

Posisi Indonesia yang terus menguat di ajang FBF ini turut ditandai dengan cukup banyaknya acara gelar wicara di ASEAN Stage yang menghadirkan narasumber dari Indonesia. Empat penulis Indonesia diundang ke forum-forum diskusi ini, yaitu Rio Johan, Soe Tjen Marching, dan Diana Rikasari. Belum lagi perwakilan penerbit dan industri kreatif. Salah satu topik yang menonjol adalah “The Question of Reading Habits” yang menampilkan pembicara Laura Bangun Prinsloo (Ketua KBN), Arief Hakim (Presiden Malaysian Book Publishers Association), Neni Sta Romana Cruz (Chair National Book Development Board dari Filipina), dan Khuc Thi Hoa Phuong (Direktur Women’s Publishing House dari Vietnam). Di forum ini, Laura mengungkapkan sejumlah cara yang ditempuh Indonesia dalam meningkatkan minat baca, salah satunya perencanaan pembangunan area buku dan baca. “Untuk meningkatkan minat baca, sebenarnya kita harus bisa menjadikan kegiatan membaca sebagai gaya hidup. Karena itulah muncul sejumlah inisiatif di Indonesia, salah satunya dari Pemerintah Provinsi Jakarta, untuk membuat satu lokasi khusus semacam book street yang akan menampilkan kios-kios buku dan kafe sebagai upaya mendekatkan buku ke masyarakat. Ini masih merupakan pilot project dan sudah berhasil di berbagai provinsi di Vietnam dan diharapkan bisa terwujud tahun depan,” ujar Laura Bangun Prinsloo. 

Dari sisi penjualan, FBF 2019 mencatat 25 hak cipta buku yang terjual. Yaitu Dawuk karya Mahfud Ikhwan yang diterbitkan Marjin Kiri, terjual ke Penerbit Sefsafa dari Mesir. Kemudian enam buku dari kelompok penerbit Gramedia, terjual ke penerbit Vietnam dan Malaysia. Keenam buku tersebut adalah The Book of Invisible Questions karya Lala Bohang (Penerbit PT GPU), Journal of Gratitude karya Sarah Amijo (Penerbit KPG), My Coffee Affairs and The Other Snacks karya Zulie (Penerbit KPG), Things & Thoughts I Drew When I Was Bored karya Naela Ali (Penerbit KPG), Kamus Bergambar Mandarin-Indonesia-Inggriskarya PT Tritunggal Anugerah Abadi (Penerbit PT GPU), dan Ubah Patah Hati Jadi Prestasi karya Dwi Suwiknyo (Penerbit Elex).

Terjual juga 12 judul buku Mizan yang merupakan Seri Character Building for Kids, kepada Penerbit Ferozsons Ltd dari Pakistan yang akan menerbitkannya dalam bahasa Inggris. Adapun 12 judul buku tersebut adalah Asyiknya Shalat Berjamaah (Praying Together); Kemuliaan Rendah Hati (Being Humble); Senangnya Bisa Wudhu Sendiri (Wudhu); Senangnya Selalu Jujur (Being Honest); Hebatnya Menabung (Saving); Asyiknya Rajin Belajar (Love Learning); Menyampaikan Titipan (Being Truthful); Senangnya Menolong Adik (Helping the Younger); Indahnya Berbagi (Sharing); Indahnya Menepati Janji (Keeping Promises); Indahnya Memaafkan (Forgiveness); Asyiknya Membaca Al Quran (Reading the Quran).

Kemudian lima judul buku dari Kesaint Blanc yang ada dalam seri Good Habits, terjual ke Praphansarn Publishing Co., Ltd. Thailand. Lima judul tersebut adalah Tiwo Likes to Wake Up Early; Mama Always Know; Drawing on the Walls; Tiwo Likes Vegetables; dan Brushing Teeth Is Fun.  Dan kemudian novel Harimau-Harimau karya Mochtar Lubis terbitan Yayasan Pustaka Obor, terjual kepada penerbit Ishmael Tree, dari Amerika Serikat. Keseluruhan 25 judul buku ini meraih nilai penjualan sekitar Rp 2,2 Miliar.  

Promosi perbukuan Indonesia di FBF tentu saja masih harus berlanjut di tahun-tahun berikutnya, tidak hanya karena sejarah yang pernah terjalin ketika Indonesia menjadi tamu kehormatan di FBF 2015, namun juga bursa buku di negeri Jerman ini masih menjadi tolak ukur penting bagi pertemuan para pelaku perbukuan internasional.