Perihal Litbeat dan Ekosistem Perbukuan Mutakhir

Oleh: Fariq Alfaruqi

Siapakah yang paling menentukan arah perkembangan dunia perbukuan Indonesia? Pertanyaan tersebut mungkin akan lebih mudah dijawab jika diajukan dua puluh tahun lalu. Beberapa penerbit dan toko buku besar, satu dua percetakan dengan mesin besar, sekelompok penulis yang punya nama besar, merupakan stakeholder yang dalam tahun-tahun lampau sangat berpengaruh terhadap hal-ikhwal perbukuan di negeri ini. Masing-masing mampu mendikte, misalnya, apa yang menjadi standar kualitas isi buku, tren jenis buku, selera pembaca, harga buku, atau royalti penulis. 
 
Hari ini, pertanyaan tersebut akan gagal diringkus dengan menunjuk sejumlah pihak tersebut. Dunia perbukuan kita tidak lagi bergerak linear searah dengan kehendak segelintir nama yang memiliki modal kapital dan simbolik yang kuat. Sebuah penerbit independen di daerah Tangerang Selatan bisa saja menetapkan standar baru atau genre yang berbeda untuk buku-buku yang mereka terbitkan tanpa perlu bersetuju dengan kualitas umum yang diterapkan penerbit besar. Toko buku kecil di Pasar Santa bisa jadi menawarkan bacaan alternatif di luar selera yang telah dibentuk oleh pasar. Seorang penulis di luar Pulau Jawa membentuk tim manajemen sendiri dan mengerjakan dari hulu ke hilir alur produksi dan distribusi bukunya kemudian beroleh penjualan yang baik. 
 
Ada sederet contoh lain, tentu saja, yang menunjukkan betapa dunia perbukuan kita hari ini telah lebih dinamis dan bahkan lateral. Pemain lama dalam dunia perbukuan masih bertahan, namun mereka mesti rela berbagi tempat atau harus mau belajar pada pemain baru. Pemodal besar masih berbicara banyak dalam industri perbukuan, tapi pemodal kecil namun dengan kreativitas tinggi mampu mencuri perhatian dan menciptakan pasarnya sendiri. 
 
Perubahan ini sejatinya tidak hanya dialami oleh dunia perbukuan. Seorang ekonom dari universitas kenamaan Indonesia melihat gejala yang sama juga berlaku dalam berbagai industri lain. Salah satu faktor penyebabnya, menurut sang ekonom, adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat dari konvensional ke digital. Perubahan cara masyarakat dalam mengakses segala kebutuhannya, berkat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, telah mengubah tatanan lama berbagai macam industri termasuk perbukuan. Dalam hitung-hitungan jagad digital tersebut, posisi antara penerbit besar dan kecil, toko buku lama dan baru, penulis adiluhung dan populer, berada dalam posisi setara. Dalam artian, masing-masing memiliki kesempatan yang sama dalam memproduksi buku dan mencapai pembacanya. 
 
Fenomena bahwa dunia perbukuan hari ini tidak sesederhana buku ditulis, dicetak, kemudian dipajang di toko, kemudian menjadi dasar bagi para anggota Komite Buku Nasional untuk menyelenggarakan sebuah festival pelaku perbukuan bernama Litbeat. Berbagai perubahan yang terjadi menuntut orang-orang yang berkecimpung dalam industri perbukuan untuk mengerahkan segala upaya dan melakukan banyak percobaan. Litbeat, dengan demikian, menyediakan sebuah ruang di mana para pelaku perbukuan itu bisa saling berinteraksi, bertukar gagasan dan berbagi pengalaman terkait dengan persoalan dan penanganan mereka dalam menggerakkan dunia perbukuan.  
 
Berbagai macam topik, yang kira-kira akan mampu menguraikan berbagai soal dan mampu menawarkan berbagai inovasi dalam pengelolaan industri perbukuan hari ini, hadir dalam dua kali penyelenggaraan Litbeat. Topik tersebut berkisar pada tiap-tiap elemen yang membentuk ekosistem perbukuan dan dibahas oleh pelaku perbukuan yang berpengalaman atau memiliki ide baru dalam bidangnya masing-masing. Topik tersebut terwujud dalam berbagai format, seperti diskusi panel, kuliah umum, lokakarya, pameran sampai pertunjukan.
 
Pada penyelenggaraannya yang pertama di 2018, topik-topik yang hadir dalam Litbeat lebih fokus mengenai bagaimana alur produksi dan distribusi buku bekerja pada era digital. Mulai dari tentang cara editor memperluas pencarian naskah sampai ke berbagai platform media digital, strategi pemasaran buku yang memperhitungkan algoritma digital, pengemasan fisik buku dalam lanskap digital yang sesak visual, sampai pada bagaimana teknologi digital berpengaruh pada pemanfaatan kertas dan perkembangan mesin cetak. 
 
Sementara pada penyelenggaraan di 2019, pembahasan dalam kelas-kelas Litbeat lebih terarah pada bagaimana ekosistem perbukuan hari ini saling mempengaruhi dan bahkan bersinergi dengan berbagai ekosistem industri kreatif lainnya. Selama dua hari di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, berbagai topik yang dibahas adalah mengenai seluk-beluk adaptasi dari buku ke film, penggubahan lagu dan musik dari puisi, pengejawantahan buku ke dalam berbagai ruang kota, ekosistem buku indie dan komunitasnya, buku yang mewujud dalam berbagai festival, dan lain sebagainya. 
 
Selama dua tahun berturut, Komite Buku Nasional melalui Festival Litbeat telah menghadirkan total 48 topik pembahasan, 129 narasumber yang terdiri dari pelaku perbukuan dalam dan luar negeri, dan dikunjugi oleh kurang lebih 2500 peserta. Kehadiran Litbeat tidak untuk menjawab pertanyaan mengenai siapa pihak yang paling menentukan arah perkembangan dunia perbukuan hari ini, justru untuk menghapus pertanyaan tersebut dan menggantinya dengan: sejauh apa masing-masing pelaku perbukuan memberi pengaruh pada perkembangan ekosistem secara keseluruhan?