Yang Terasah dari Sharjah

Oleh: Yani Kurniawan

 

Di Sharjah International Book Fair (SIBF) 2019, Indonesia kembali berpartisipasi di Publishers Conference. Salah satu program paling penting di SIBF ini mencapai edisi ke-9. Tempat di mana para profesional penerbitan dari seluruh dunia hadir, saling jual beli hak terjemahan, bertukar ide lewat rangkaian seminar yang menghadirkan pembicara-pembicara yang mumpuni di dunia penerbitan.

Ahmed bin Rakkad Al Ameri, ketua Sharjah Book Authority (SBA) membuka Publisher Conference ke-9 dengan membicarakan bahwa tujuan utama dari rangkaian acara di Sharjah, adalah untuk melihat kembali industri penerbitan secara komprehensif, dan dari berbagai macam sudut pandang. Baik dari penerbit, pembaca, penulis, dan distributor.

“Di Sharjah, kami bekerja di berbagai macam tingkat untuk mempromosikan industri penerbitan, berdasarkan berbagai macam masukan yang kami terima dari penyelenggaraan sebelumnya. Kesuksesan kali ini bisa diukur dari banyaknya aplikasi yang masuk untuk Translation Grant SIBF tahun 2018. Sebanyak 2900 peminat mendaftar, dan sebanyak 1200 buku sudah diterjemahkan selama beberapa tahun terakhir.  Tahun lalu saja, sebanyak 3000 janji temu dilaksanakan di Publisher Conference, dengan jumlah peserta lebih dari 400 orang,” ujar Al Ameri.

Sebelum menutup pidato pembukaan, Al Ameri juga mengatakan: “Kami berkumpul di sini untuk berdialog tentang masa depan industri penerbitan dan buku. Dan sama-sama belajar strategi untuk mempromosikan industri buku global. Kami bekerja keras untuk melebarkan cakrawala penerbitan, yang akan membuka lebih banyak pasar baru untuk para penerbit, dan tak lupa mempertimbangkan kehadiran teknologi baru.”

Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan sebuah panel yang dimoderatori oleh Emad Eldeen Elakehal, dari Ibiidi Publishing, Inggris. Panel yang bertajuk “Global Publishing: What’s Next for This Growing Industry?” turut menghadirkan Dominque Raccah, founder and CEO, Sourcebooks (Amerika Serikat), Elliot Agyare, president, Ghana Book Publishers Association, dan CEO, Smartline Publishing (Ghana), Jade Robertson, International Publishing Director, Austin Macauley Publishers (Inggris) dan Peter Dowling, Immediate Past President, Publishers Association of New Zealand, dan publisher, Oratia Books (Selandia Baru)

Di hari kedua, di salah satu panel didiskusikan tema yang mengantisipasi tren penerbitan di masa depan. Dengan judul “Publishers’ Digital Strategy: New Ways of Storytelling,” Porter Anderson menjadi moderator pada diskusi tersebut. Di dalamnya banyak dibahas mengenai kunci pengembangan di audiobooks, ebooks, subscriptions, dan tren digital di dunia penerbitan. 

Porter juga mengungkapkan istilah baru, “format agnostic”, di mana di masa depan bisa jadi konten tidak lagi berkembang dengan format buku saja, tapi bisa lahir dari format yang lain. Panel tersebut juga menghadirkan Ama Dadson, Founder dan CEO, AkooBooks Audio (Ghana), Ananth Padmanabhan, CEO, HarperCollins (India), Chiki Sarkar, Publisher and Founder, Juggernaut Books (India) dan Mohamed Shawkey Mohamed Ghanem – Bookjuice Publishing (Mesir).

 

Di hari ketiga, presiden IPA, Hugo Setzer menjadi pembicara pertama, diikuti oleh CEO Dubai Cares, Tariq Al Gurg, dan kemudian dilanjutkan oleh Samuel Kolawole, ketua the African Publishers Network.

Diskusi kedua adalah “Catalyzing Publishing Innovation: Old Problems, New Solutions”. Sebagai moderator, ketua Kenya Publishers Association: Lawrence Njagi. Dilanjutkan dengan “Connecting African Publishing Ecosystems,” dengan moderator: Nigerian Publishers Association president Gbadega Adedapo, dan panel terakhir adalah “Transforming African Libraries” dimoderatori oleh Brian Wafawarowa, direktur Leaf Publishing and Research Services, dan ketua IPA’s Inclusive Publishing and Literacy committee (Afrika Selatan). 

Selain menghadiri panel-panel tersebut, para delegasi dari Indonesia juga berpartisipasi di ratusan janji temu untuk menjajaki kerjasama penerbitan dan menjual hak terjemahan buku-buku Indonesia. 

Dari laporan sementara, dua delegasi dari Komite Buku Nasional, Thomas Nung Atasana dan Yani Kurniawan melaporkan angka yang menggembirakan. Nung berhasil menjual 25 judul dan ada setidaknya 10 penerbit luar negeri yang berminat mempertimbangkan judul-judul dari katalog yang mereka terima. Yani yang juga mewakili Literasia Creative, menjual 9 judul ke penerbit Turki dan Pakistan. Di luar itu, masih ada 6 judul diminati oleh penerbit Prancis, 1 seri buku anak dengan 50 judul diminati oleh penerbit Mesir, 5 buku remaja diminati oleh penerbit Rusia. Sementara itu Borobudur Agency yang diwakili oleh Sartika Dian, mencatat 26 judul terjual, yang sebagian besar diborong oleh penerbit Mesir yang memang tertarik menerbitkan konten dari Indonesia. Besar kemungkinan angka di atas akan bertambah lagi dengan angka penjualan dan minat kongkret dari penerbit-penerbit yang juga ikut berpartisipasi di Publishers Conference, seperti Penerbit Mizan, Noura Books, Penerbit Gorga, Gramedia, Bhuana Ilmu Populer, Gema Insani Press, Kesaint Blanc, dan Penerbit Zikrul Bestari.

Hal ini tentu saja sangat menggembirakan, karena semakin banyak judul yang terjual dan diterbitkan di luar negeri, semakin tajam juga intuisi dan pengetahuan para penerbit Indonesia tentang potensi dan pasar penerbitan di luar negeri. 

Semoga langkah para penerbit Indonesia tak hanya sejauh datang dan menjual saja. Tapi juga menularkan pelajaran yang mereka dapatkan dari rangkaian pameran di luar negeri ini, agar para penerbit lain yang belum bisa berpartisipasi, tergugah minatnya.