Abidah El Khalieqy Hadirkan Novel "Nirzona" di Momen FBF 2016

“Kenapa saya menulis tentang Aceh, karena memang kejadian di sana menghentakkan dunia, terlebih lagi bagi kita sesama bangsa Indonesia,” ujar penulis Abidah El Khalieqy ketika hadir di Indonesia International Book Fair 2016 di Senayan, Jakarta, Sabtu (1/9).

Penulis ini akan mengurai tentang Aceh pada karyanya yang berjudul Nirzona. Yang dikisahkanny aadalah saat setelah banjir maha duka Tsunami, juga peristiwa penandatanganan Perjanjian Helsinki, yang menurutnya adalah yang paling krusial. Nirzona, artinya tanpa zona,

Dia menjelaskan bagaimana cara dia untuk menulis tentang tema buku yang mulanya terbit dalam Bahasa Indonesia pada tahun 2008 itu. “Kita harus melakukan riset, Kalau hanya hayalan saja itu gak laku kali ya, Hampir dua tahun saya mengejar materi tentang novel itu. Seorang penulis juga harus belajar ilmu sejarah, psikologi, bahasa dan masuk di dalam kehidupan sehari-hari mereka (penduduk di Aceh) bahkan juga konflik yang ada di dalamnya,” papar Abidah yang menambahkan kalau buku Nirzona akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Amazon.

Selama waktu itulah dia mencari referensi terutama bahasa asli setempat untuk menghidupkan suasana. Karakter setiap tokoh yang kita gambarkan seperti apa, menurut Abidah, seorang penulis tak hanya memiliki ketertarikan berkarya tapi juga memiliki pemikiran yang universal. Tak hanya tentang kultur Jawa, yang penting adalah bagaimana riset seorang penulis terhadap tema yang dia angkat di dalam bukunya.

Abidah, adalah salah satu dari penulis, komikus dan ilustrator lainnya yang akan dihadirkan di Frankfurt Book Fair 2016 selain Eka Kurniawan, Hanna Fransisca, M. Aan Mansyur, Seno Gumira Ajidarma, komikus Tita Larasati, penulis buku kuliner Bara Pattiradjawane dan ilustrator Mayumi Haryoto. “Saya memahami tentang hadits “Tolabul ilmi minal mahdi ilal lahdi" artinya  “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”, menulis adalah proses belajar bagi saya, inilah jalan hidup saya. Itulah sebabnya menjadi penulis menjadi alasan yang kuat, dorongan saya agar tetap menulis,” ujar Abidah.

Abidah dikenal sebagai penyair dulu, kemudian beralih menulis esai dan artikel. Pada tahun 2000, ujarnya dia menulis novel dan merasa imajinasinya lebih berkembang sedemikian rupa untuk menulis tentang kejadian di belahan dunia mana pun. Ketika ditanya karya yang menginspirasi dirinya sebagai penulis, Abidah menyebut nama Khaled Hosseini pada karyanya The Kite Runner dan A Thousand Splendid Suns dan Nawal El Saadawi (salah satu karyanya Woman at Point Zero, diterjemahkan oleh Amir Sutaarga dan diterbitkan oleh Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia dalam bahasa Indonesia: Perempuan di Titik NOl - pen). “Halid menarasikan masa lalu di negaranya meski dia sudah tinggal di Amerika Serikat serta menulis dengan bahasa kekinian. Kalau Nawal tema yang dia angkat adalah perempuan dengan tema yang universal,” ujarnya.

Untuk menulis, menurut Abidah dia memilih waktu dan suasana yang berkenan baginya. Dia mengaku kerap mengerjakannya pada saat sepertiga malam,sebagai bagian dari suasana yang sakral dan spiritual. “Dua-tiga halaman saya kerjakan pada sepertiga malam itu, barulah untuk memerkuat tulisan dan ketika kondisi lebih fresh, saya selesaikan pada saat siangnya,” pungkas Abidah. ***