Artikel

Agatha Christie dan Nenek Saya Torre Abbey /web/id/articles/agatha-christie-dan-nenek-saya

Belum dua minggu otot lengan kanan saya sudah kekar dan sterek. Bukan karena saya di sini jadi rajin olahraga, tapi tiap beberapa hari saya mendorong koper biru semata wayang saya naik turun tangga dan keluar masuk kereta bawah tanah yang di sini disebut dengan tube. Dua puluh satu KG berat koper saya, isinya semua tetek bengek yang tidak penting (saya bahkan bawa boneka buat teman tidur). Dengan jaket, sepatu boots dan jas yang beberapa hari lalu saya beli di toko barang bekas di sekitar sini, saya cuek saja ngeloyor ke sana kemari seolah saya ini turis yang keren banget.

Mencari Portugal di Masa Lampau /web/id/articles/mencari-portugal-di-masa-lampau

Saya di Portugal harus mencari informasi tentang bagaimana wajah negeri ini, terutama Lisboa, di abad 15-16 Masehi. Hal itu berkaitan dengan novel yang sedang saya tulis, sehingga saya membutuhkan bentang alam Portugal secara umum di abad 15-16 untuk menempatkan tokoh-tokoh cerita saya. Ternyata cukup sulit menemukan bentang alam tersebut.

Mencari Mentalitas Dua Bangsa yang “Kalah” /web/id/articles/mencari-mentalitas-dua-bangsa-yang-%E2%80%9Ckalah%E2%80%9D

Bukan sebuah kebetulan atau keisengan belaka saya memilih Portugal sebagai tempat untuk melakukan residensi. Sejak dua tahun lalu saya sudah berencana pergi ke Portugal, karena saya telah memiliki rencana novel yang berlatar sejarah Kerajaan Sunda dan Kerajaan Portugal di abad 16 Masehi.

SERUNYA HARI PERTAMA DI NORWICH! Workshop /web/id/articles/serunya-hari-pertama-di-norwich

To be or not to be? That’s the question. Kalimat Shakespeare ini benar-benar seperti yang saya alami sebelum berangkat ‘menunaikan tugas’ residensi penulis di Inggris. Adaaaaa saja hal yang terjadi sebelum keberangkatan saya ke negeri Grandma Elizabeth ini. Dari mulai Poundsterling yang begitu melonjak tajam nilainya (salah saya juga sih kenapa tidak menukarkan poundsterling jauh-jauh hari), berbagai berita tak mengenakkan tentang kejadian ledakan di London hingga isu Gunung Agung yang akan meletus tepat di malam sebelum keberangkatan saya! Fiuuuuhhh!!!  

 

HOMO PLASTICICUS CELLULARAE /web/id/articles/homo-plasticicus-cellularae

“Jesus loves you! Jesus loves you!” Lelaki bertubuh besar itu berseru pada tiap orang yang berpapasan dengannya sembari bergegas entah ke mana. Sosoknya  dengan cepat lenyap di antara orang-orang yang memadati trotoar. Tottenham Court  Road sore itu ramai. Seruan lelaki tadi segera punah ditiban bunyi-bunyi lain yang sigap menyergap telinga: simpang siur percakapan, klakson mobil, batuk berdahak, teriakan gagak, sirine di kejauhan. 

 

Pertemuan dengan yang Lain pada Suatu Waktu Menagerie, atau kebun binatang dan museum evolusi/museum paleontologi. /web/id/articles/pertemuan-dengan-yang-lain-pada-suatu-waktu

Langit pada musim panas kali ini bahkan masih lumayan terang hingga pukul setengah sepuluh malam saat saya pulang. Lantaran tak membeli makanan di perjalanan (dan hanya berbekal botol minuman), saya merasa lemas sekali hingga mendengar suara sendiri seperti mengemis makan kepada ibu semang saat berdiri di hadapannya, “Apa masih ada makanan? Saya lapar dan belum makan sejak keluar rumah.”

Saya menjelaskan alasan keengganan membeli makan di luar, ia tampak mafhum.

Masih tertinggal satu panci nasi dan sop. Dengan raut wajah gemas, ia mempersilakan saya mengambil makanan.

Tersesat Membawa Nikmat /web/id/articles/tersesat-membawa-nikmat

Gelas yang menguarkan aroma kopi giling tanah Priangan saya letakkan di atas meja bundar di satu sudut halaman belakang. Kursi kayu masih lembab. Matahari sebenarnya sudah sepantar pohon pinang yang biasa dipakai perayaan kemerdekaan, tapi hangatnya belum sampai. Dia datang dari arah sedikit menyerong. Karena itu, dia harus lebih dulu ke genteng tetangga, melampaui daun cemara serta ranting-ranting apel, barulah bisa menyentuh tempat saya duduk.

“Pagi, Mbak Ully. Bonjour, Alan.”

“Hai. Pagi...” Suami-istri itu menengok.

Upacara HUT RI di Negeri Belanda /web/id/articles/upacara-hut-ri-di-negeri-belanda

Pengalaman yang saya tunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Sebelum berangkat ke Belanda, terpikir secara heroik: alangkah hebatnya upacara memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia jauh dari tanah air …

Menjual Sepeda Sampai Akhir Hayat Aad Bakker (59), di samping sepeda yang akan direparasi /web/id/articles/menjual-sepeda-sampai-akhir-hayat

Den Haag, 2006.

Hikayat Bagong Mencari Kafka Di Botanicher Garten ini, Kafka dan Dora bertemu dengan seorang anak kecil yang kehilangan boneka. Kafka akhirnya menciptakan boneka imajinatif yang mengirim surat pada Katja, si bocah malang itu. /web/id/articles/hikayat-bagong-mencari-kafka

Hingga sekarang orang-orang Kampung Pungkursari, Salatiga, memanggil dia Bagong. Bagong adalah nama salah satu punakawan, selain Petruk, Gareng, dan Semar.

Nasib baik telah menyebabkan pengarang kelahiran September setahun sebelum geger pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap sebagai penganut komunisme itu mendapat beasiswa unggulan Kemdikbud untuk residensi sastra ke Berlin, Jerman, selama tiga bulan.

“Saya akan menulis tentang Kafka, penulis kelahiran Praha yang sukses sebagai pencerita di Jerman itu,” kata Bagong.

Pages