Menyusun Jalan Setapak Bagi Perbukuan Indonesia

Menyusun Jalan Setapak Bagi Perbukuan Indonesia

 

    Pertengahan tahun ini, Komite Buku Nasional menyiapkan sejumlah program dan kegiatan yang ditujukan bagi pengembangan perbukuan Indonesia dari segala sisi, baik itu dari sisi para penulis, penerbit, penerjemahan, hingga pengembangan produk. Rapat maraton setiap minggu dilakukan setiap divisi di dalam KBN untuk menyiapkan program yang bertujuan membantu meningkatkan kualitas maupun memperpanjang usia perjalanan para pelaku perbukuan Indonesia.

    Sejumlah program telah diselenggarakan secara tahunan sejak KBN berdiri pada 2016. Salah satunya adalah program penerjemahan Litri yang selama tiga tahun pada 2016-2018, telah mendanai 102 judul buku Indonesia ke dalam sejumlah bahasa asing. Pada tahun ini, pendaftaran program LitRI ditutup pada 31 Juli 2019. Sejumlah 77 judul buku didaftarkan pada 2019, dengan rincian 29 judul untuk penerjemahan buku utuh dan 48 judul untuk penerjemahan cuplikan buku. Bahasa target yang diajukan untuk tahun ini antara lain Yunani, Albania, Melayu, Arab, Korea, Nepal, Macedonia, dan Inggris dengan empat jenis karya, yakni fiksi, nonfiksi, buku anak, dan komik. Jenis karya fiksi mendominasi pendaftaran LitRi 2019. Pengumuman penerima program penerjemahan ini dilaksanakan pada 17 Agustus 2019.

    Program tahunan lainnya yang sudah diselenggarakan sejak 2016 adalah Program Residensi Penulis. Sejak tahun pertama hingga 2018, KBN telah mengirimkan 56 penulis ke berbagai negara. Total hingga 2018,  sudah ada 20 negara yang menjadi tempat residensi bagi penulis-penulis Indonesia. Negara-negara tersebut adalah Finlandia, Amerika Serikat, Inggris, Australia, Belanda, Meksiko, Prancis, Polandia, Italia, Vietnam, Jerman, Portugal, Ceko, Peru, Bosnia, Skotlandia, Jepang, Thailand, Suriname, dan Filipina. Dalam program ini, penulis Indonesia yang terpilih akan tinggal di tempat residensi yang ia pilih ⎯ baik di dalam maupun di luar negeri ⎯  selama beberapa bulan, untuk menyelesaikan tulisan yang ia rencanakan. Selain menyelesaikan tulisan, penulis juga diharapkan dapat membangun jejaring di dalam dan luar negeri, baik dengan sesama penulis, maupun penerjemah dan penerbit dan mempromosikan sastra dan budaya Indonesia dalam acara-acara yang berkaitan dengan sastra dan budaya di tempat residensi. 

    Kegiatan menarik lainnya dari KBN yang kembali dilangsungkan tahun ini adalah LitBeat Literaction Festival yang pertama kali diadakan pada 2018. Festival ini diperuntukkan bagi para pelaku perbukuan dan masyarakat umum dan diharapkan menjadi ruang bersama bagi insan kreatif yang berkecimpung di dunia buku untuk saling belajar, bertukar gagasan, dan berbagi pengalaman. Berbagai isu terkait elemen-elemen yang membentuk ekosistem perbukuan dikemas dalam bentuk workshop, diskusi panel, seminar, talkshowsharing session, dan pertunjukan dengan menghadirkan narasumber pengalaman dan kenamaan, baik dari Indonesia maupun mancanegara. Tahun ini, LitBeat Literaction Festival kembali diadakan bertempat di Perpustakaan Nasional, 2-3 September.

    Bertepatan dengan LitBeat Literaction Festival itulah, KBN meluncurkan dua program baru yang bertujuan untuk memperkuat vitalitas industri perbukuan Indonesia. Program pertama, adalah Jakarta Fellowship Program yang merupakan sebuah residensi intensif bagi penerbit dari negara asing untuk berada di Jakarta selama sepekan, bertepatan dengan LitBeat Literaction Festival. Berlangsung pada 1 hingga 7 September 2019, program ini bertujuan untuk mendorong kolaborasi antara penerbit negara asing dan penerbit Indonesia sebagai tuan rumah, kerja sama yang saling menguntungkan, dan peluang dalam berbagi pengalaman dan rencana pengembangan kerja sama di masa depan. Dalam program ini, penerbit-penerbit Indonesia selaku tuan rumah dipersilakan mengusulkan nama penerbit luar negeri yang akan menjadi partner kerja sama jangka panjang – dengan dukungan dana fellowship berupa tiket pesawat, akomodasi, dan biaya-biaya lainnya selama di Jakarta dari KBN. Diharapkan dalam periode waktu tersebut, penerbit Indonesia bisa menjalin kolaborasi dan pengembangan bisnis yang menghasilkan keuntungan. Adapun penerbit dan literary agent partner yang telah terpilih berasal dari Prancis, Australia, Tiongkok, Singapura, dan Bangladesh.

    Program kedua adalah AKATARA IP Market - Pitching Forum “From Book to Screen”, yaitu forum audisi yang diperuntukkan bagi para penulis, penerbit, pemilik/ahli waris buku berkategori novel, buku remaja (young adult) dan komik, kepada para produser film Indonesia, untuk mengalihwahanakan buku-buku yang terpilih menjadi karya film. Buku favorit pilihan produser akan mendapatkan T.U.T.A LAB AWARD, yaitu program dukungan supervisi, pengembangan proposal film sampai siap untuk diajukan kepada investor film. Proses seleksi tahap pertama, akan memilih 30 peserta yang akan diumumpak pada 21 Agustus 2019 dan karya-karya yang terpilih ini akan dipamerkan di “The Market” salah satu acara di LitBeat Literaction Festival. Di tahap kedua, ke-30 peserta akan disaring lagi menjadi 10 oleh Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi), Badan Perfilman Indonesia (BPI) dan Komite Buku Nasional (KBN), yang akan diumumkan di acara penutupan LitBeat Literaction Festival pada 3 September 2019. Kesepuluh terpilih inilah yang nantinya berhak mengikuti presentasi di Golden Ballroom Hotel Sultan pada 21 September 2019.

    Melalui program-program inilah, KBN berharap para pelaku industri perbukuan Indonesia bisa memanfaatkan peluang-peluang ini bagi pengembangan dan peningkatan usahanya sekaligus memajukan ekosistem perbukuan nasional. 

 

Dewi Ria Utari