Musik dan Tema-Tema Sosial Budaya Ditampilkan Delegasi Indonesia di Frankfurt Book Fair 2019

Salah satu acara khusus yang ditampilkan Komite Buku Nasional dalam Frankfurt Book Fair tahun ini adalah penampilan musikalisasi puisi dari Oppie Andaresta. Bersama dua musisi, Windy Setiadi (akordeon) dan Mochamad Yudha Wijaya (gitar), Oppie tampil di Open Stage Agora di komplek Messe Frankfurt tempat FBF 2019 berlangsung. Menampilkan lima lagu, Oppie tampil pada hari keempat FBF, 19 Oktober 2019. Kelima lagu tersebut merupakan bagian dari album musiknya, Baju Bulan, yang diproduksi Oppie pada 2018, dari karya puisi-puisi Joko Pinurbo.

“Ini kali pertama saya tampil di FBF. Saya lihat book fair ini merupakan peluang untuk menyanyikan lagu-lagu yang ada di album musik Baju Bulan yang saya keluarkan tahun lalu. Karena lagu-lagu tersebut berangkat dari puisi, maka panggung yang cocok adalah di kantong-kantong budaya dan book fair adalah salah satunya,” ujar Oppie Andaresta setelah penampilannya yang berlangsung selama 30 menit.

Lima lagu tersebut adalah: Sajak Balsam Buat Gus Mus, Hayo Yogya, Kepada Uang, Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu, dan Baju Bulan. “Sebagai musisi, saya selalu mencari apa lagi yang bisa saya eksplorasi. Sebuah tantangan bagi saya untuk membuat musik dari puisi. Karena saya adalah penulis lagu selama 20an tahun karier saya, maka biasanya notasi dan lirik dari saya. Nah di album ini, saya harus bisa menginterpretasikan puisi tersebut ke dalam notasi musik,” ujar Oppie yang sudah meluncurkan 10 album musik sepanjang karier musiknya.

Selain musik, KBN juga mengisi sejumlah gelar wicara yang diselenggarakan di ASEAN Stage, sebuah panggung yang khusus diperuntukkan bagi para pelaku industri penerbitan di negara-negara Asia Tenggara. Salah satu tema yang ditampilkan adalah membahas minat baca di wilayah ini, di acara “The Question of Reading Habits” yang menampilkan pembicara Laura Bangun Prinsloo (Ketua KBN), Arief Hakim (Presiden Malaysian Book Publishers Association), Neni Sta Romana Cruz (Chair National Book Development Board dari Filipina), dan Khuc Thi Hoa Phuong (Direktur Women’s Publishing House dari Vietnam). “Untuk meningkatkan minat baca, sebenarnya kita harus bisa menjadikan kegiatan membaca sebagai gaya hidup. Karena itulah muncul sejumlah inisiatif di Indonesia, salah satunya dari Pemerintah Provinsi Jakarta, untuk membuat satu lokasi khusus semacam book street yang akan menampilkan kios-kios buku dan kafe sebagai upaya mendekatkan buku ke masyarakat. Ini masih merupakan pilot project dan sudah berhasil di berbagai provinsi di Vietnam dan diharapkan bisa terwujud tahun depan,” ujar Laura Bangun Prinsloo.

Acara gelar wicara lainnya juga membahas perkembangan sosial budaya di sejumlah negara ASEAN. Misalnya pembahasan tentang industri kreatif di acara gelar wicara “Content is King” dengan menempatkan Ricky Pesik (Wakil Kepala Bekraf), Ani Almario (Filipina), dan Hasri Hasan (Malaysia). Kemudian juga tentang penulisan sejarah yang menampilkan gelar wicara “Writing About History in Southeast Asia” yang menampilkan Soe Tjen Marching (penulis dan akademisi dari Indonesia), Gerardo Los Banos (Filipina), Chuah Guat Eng (Malaysia), dan Ho Anh Thai (Vietnam). Tema tentang sejarah ini menarik minat para pengunjung yang mendapatkan tantangan yang dihadapi masing-masing negara dalam menuliskan perjalanan sejarah yang sering kali sangat dipengaruhi oleh pemerintahan yang tengah berkuasa.

Di acara-acara gelar wicara lainnya, para penulis Indonesia yang tampil di panggung ASEAN Stage ini adalah Rio Johan, Feby Indirani, dan Diana Rikasari. Sejumlah perwakilan penerbit juga tampil, di antaranya Anton Kurnia (Penerbit Baca), Fahreza Octavio (Re: On Comic), Natalina Rimba (Asta Ilmu Publishing), Wedha Stratesti Yudha (Gramedia), Anastasia Aemelia (Gramedia Pustaka Utama), Thomas Atasana (Borobudur Agency), dan dua ilustrator Indonesia, Evelyn Ghozalli dan Mohammad ‘Emte’ Taufiq.