Kurnia Effendi

Kurnia Effendi dilahirkan di Tegal, 20 Oktober 1960. Menulis pertama kali di media massa tahun 1978 melalui majalah Gadis, Aktuil, dan koran Sinar Harapan. Pada era 80-an gemar mengikuti sayembara menulis fiksi dan berhasil meraih sekitar 30 penghargaan, 8 di antaranya juara pertama.

Saat kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain, bergiat di Grup Apresiasi Sastra ITB. Tahun 1996 bergabung di Komunitas Sastra Indonesia hingga sekarang. Diundang dalam sejumlah perhelatan sastra, antara lain Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ, 1996), Pertemuan Sastrawan Nusantara (1997), Panggung Cerpen Indonesia Mutakhir (TUK, 2003), Temu Sastra Kota (DKJ, 2003), Biennale Festival Sastra Internasional (TUK, 2005), Mitra Praja Utama (Disbudpar, 2008), Ubud Writers and Readers Festival (2010), Bali Emerging Writers Festival (2011), Temu Sastra Indonesia-Malaysia (2015), Kongres Kesenian III (Diknas, 2015), Borobudur Writers Cultural Festival (Semana, 2016), Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Badan Bahasa, 2016).

Telah menerbitkan 20 buku terdiri dari antologi puisi, kumpulan cerpen, himpunan esai, novel, dan memoar. Untuk menyebut beberapa buku, antara lain: Bercinta di Bawah Bulan (kumcer, Metafor, 2004), Merjan-Merjan Jiwa (novel, Pustaka Kartini, 2009), Mendaras Cahaya (antologi puisi, Rumah Anggit, 2011), Musim Gugur Telah Usai (kumcer, Elexmedia, 2013), Teman Perjalanan (kumcer, Exchange, 2015). Buku Kincir Api (kumcer, Gramedia Pustaka Utama, 2005) menempati shortlist Khatulistiwa Literary Award 2006. Buku Anak Arloji (kumcer, Serambi, 2011) meraih penghargaan sastra Badan Bahasa 2013. Buku memoar yang pernah ditulis: Hee Ah Lee, The Four Fingered Pianist (Hikmah, 2006) dan Sue Aziz - Jalan Indah menuju Usia Emas (2012).

Selain menulis, juga menjadi pembicara dalam diskusi sastra, juri lomba sastra, instruktur pelatihan penulisan kreatif, penyunting lepas sejumlah penerbit, redaktur budaya pada sebuah media online, pendampingan guru sastra, dan kurator festival sastra. Bersama teman-teman seniman yang lain, membentuk Sana Sini Seni Jakarta yang menggelar panggung pertunjukan lintas seni setiap bulan, sejak Agustus 2016.

Setelah pensiun dari pekerjaan formal di perusahaan otomotif Suzuki (Oktober 2015), kini bergiat penuh pada bidang seni budaya. Berkeluarga dan tinggal di Jakarta.