Komite Buku Nasional di Frankfurt Book Fair 2019 Memperat Ikatan Sejarah Lewat Raden Saleh dan Industri Perbukuan

Komite Buku Nasional di Frankfurt Book Fair 2019

Memperat Ikatan Sejarah Lewat Raden Saleh dan Industri Perbukuan

 

Sejarah hubungan antara Jerman dan Indonesia menjadi salah satu narasi utama yang dibawa Komite Buku Nasional (KBN) di Frankfurt Book Fair 16-20 Oktober 2019. Salah satu relasi bersejarah antara kedua negara ini ditampilkan lewat peluncuran buku “Leben und Abenteuer des Raden Saleh” yang diproduksi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jerman. Buku tersebut ditulis oleh sejarawan seni asal Jerman, Dr. Werner Kraus bersama tiga ilustrator komik untuk menandai kontribusi penting Raden Saleh (1807-1880), maestro seni lukis Indonesia modern yang pernah tinggal di Jerman, sebagai seniman yang mengukir hubungan bersejarah antara Jerman dan Indonesia.

Acara peluncuran ini akan dilakukan di stan Indonesia di Frankfurt Book Fair 2019, di hari pertama pameran buku terbesar di dunia itu, yaitu pada 16 Oktober 2019. Di acara ini, Duta Besar Indonesia untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno akan meluncurkan buku ini bersama Ketua KBN, Laura Bangun Prinsloo dan Dr. Werner Kraus. Selain buku komik, perayaan akan nama besar Raden Saleh juga ditandai dengan ditampilkannya serangkaian perangko Jerman yang menampilkan lukisan-lukisan Raden Saleh yang diproduksi oleh Deutsche Post bekerja sama dengan Kedutaan Indonesia. KBN juga menampilkan sejumlah kartu pos bergambar karya-karya Raden Saleh sebagai suvenir bagi para pengunjung stan Indonesia yang berluas 120 meter persegi

Perihal sejarah menjadi narasi cukup penting untuk ditampilkan di FBF tahun ini karena di pameran buku inilah, sejak menjadi tamu kehormatan pada 2015, para praktisi perbukuan di Indonesia menemukan kepercayaan diri untuk mengambil bagian di sebagian besar kegiatan pameran buku internasional di berbagai negara, dan setahun kemudian, KBN didirikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sebagai motor penyelenggara keikutsertaan delegasi Indonesia di pameran-pameran buku internasional.

Napas sejarah ini yang kemudian menginspirasi tim KBN dalam menyusun sejumlah tema program di FBF tahun ini. Salah satunya acara “One History? Writing about History in South East Asia” di mana penulis Indonesia, Soe Tjen Marching, akan tampil di salah satu gelar wicara di Asean Forum, bersama penulis dari Filipina dan Vietnam, dengan dimoderatori oleh Ronny Agustinus, pendiri penerbit Marjin Kiri, untuk mengupas peran sejarah dalam karya para penulis ini. 

Di FBF tahun ini, Indonesia mendapatkan cukup banyak slot acara di Asean Forum, sebuah positioning yang menarik, yang memperlihatkan bahwa negara-negara di Asia Tenggara, telah menduduki porsi penting dalam industri perbukuan dunia. Momen ini dipergunakan secara strategis oleh KBN untuk menampilkan para penulis Indonesia yang hadir di FBF tahun ini. Yaitu Rio Johan, Soe Tjen Marching, Diana Rikasari, dan Feby Indirani. Di panggung ini pula, ditampilkan para penerbit dan agen literasi dan konten kreatif sebagai narasumber di sejumlah acara gelar wicara.

Sebagai materi utama, bidang perbukuan yang ditampilkan KBN tahun ini, membawa 350 judul buku, 10 penerbit (Gramedia Publishers, Mizan Group, Kesaint Blanc, ASTA Ilmu Publishing, PT Kanisius, Lontar Foundation, Marjin Kiri, Pionicon, Yayasan Pustaka Obor, re:On Comics), dua agen literasi (Borobudur Agency dan Literasia), dan satu agen ilustrasi (Fabula). Adapun keberangkatan 10 penerbit dan Borobudur Agen ini, Bekraf menjadi sponsor perjalanan melalui program travel grant.

Tak hanya dari industri perbukuan, KBN juga mengupayakan untuk memperlihatkan potensi dan dinamisnya relasi industri perbukuan dan konten kreatif di Indonesia dengan membawa konten-konten non-buku. “Ajang FBF telah menjadi ajang pameran konten yang bentuknya tidak hanya dalam buku cetak tapi berbagai produk alihwahana lainnya. Indonesia kali ini juga hadir dan menawarkan konten kreatif karya anak bangsa yang diharapkan bisa diminati pasar luar dan membuka peluang untuk diaplikasikan ke berbagai medium. Demikian juga acara yang kami rancang selama FBF nanti pun mempertunjukkan insan kreatif Indonesia yang telah berhasil mengadaptasi buku ke bidang kuliner, musik, dan ilustrasi. Ajang pameran buku internasional ini diharapkan bisa mendatangkan kerja sama yang lebih luas lagi bagi para pelaku industri perbukuan tanah air. Bahwa buku tidak hanya sebagai alat diplomasi budaya namun juga alat ekonomi yang bisa mendatangkan devisa bagi negara Indonesia,” ujar Laura Bangun Prinsloo, Ketua KBN.

Konten-konten non-buku yang ditampilkan KBN di FBF 2019 ini adalah sajian kuliner dari Aku Cinta Makanan Indonesia (ACMI) yang diwakili Santhi Serad dan Astrid Enricka, pakar kopi Indonesia Adi Taroepratjeka dan Ronald Prasanto, penampilan musik dari Oppie Andaresta yang akan membawakan lagu dari karya puisi Joko Pinurbo, dan empat seniman ilustrasi—Mayumi Haryoto, Evelyn Ghozalli, Antonio Reinhard Wisesa, dan Mohammad “Emte” Taufiq. Keempat seniman ini akan melukis mural dan augmented reality di stan Indonesia selama pameran. Semua talenta perbukuan dan konten kreatif ini akan tampil dan mengisi acara di mana setiap hari ada sekitar 8-10 acara dari delegasi Indonesia di FBF 2019. Jadwal lengkap program Indonesia di FBF 2019 bisa dilihat di sini.