ARSWENDO ATMOWILOTO MATA KAMPUNG YANG MENAKLUKKAN JAKARTA

ARSWENDO ATMOWILOTO

MATA KAMPUNG YANG MENAKLUKKAN JAKARTA

 

Oleh: Hikmat Darmawan

 

Arswendo adalah banyak hal. Sebagai individu, ia adalah raksasa literasi Indonesia, juga raksasa media. Tapi, ia juga seorang yang konsisten mempertahankan sudut pandang kampungnya. 

Ia lahir dengan nama Sarwendo, di Surakarta, Jawa Tengah pada 26 November 1948. Sejak SD telah giat menulis, walau baru mengirimkan tulisannya ke media masa pada saat ia SMA. Sejak 1960, ayahnya wafat dan ibunya harus menghidupi enam anaknya sendirian. Salah satunya, kakak Arswendo, Satmowi Atmowiloto yang di kemudian hari jadi kartunis dan ilustrator serta penulis cerita anak di majalah Kawanku terutama pada era 1980-an. 

Arswendo kecil gemar menulis karena gemar membaca banyak sekali buku dan komik. Salah satu yang sangat memengaruhinya adalah novel-novel populer atau cerita bersambung berbahasa Jawa karya Suparto Brata. Suparto memang jadi sosok model bagi Wendo: prolifik dan piawai menulis cerita-cerita genre petualangan, detektif, serta spionase perang berlatar Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Pada saat Wendo sekolah SMA, cerpennya pertama kali terbit di majalah berbahasa Jawa, Gelora Berdikari. Untuk pertama kalinya, ia mendapat imbalan dari tulisannya.

Tapi Wendo tak langsung jadi penulis. Lepas SMA, ia kuliah di IKIP Solo, sambil kerja serabutan sebagai penjemur bihun, penjaga sepeda, pencari rumput, untuk membiayai kuliah. Tak banyak waktunya untuk menulis. Toh pendapatannya lebih kecil dari uang kuliah, sehingga pada tahun ketiga, Wendo harus drop out. Akhirnya, ia kerja di toko, dan punya banyak waktu menulis. Di periode inilah ia gencar lagi menulis dan mengirim tulisannya ke media massa. Banyak yang tembus, dan rasa percaya dirinya untuk jadi penulis naik. Juga, rasa percaya diri untuk menikahi Agnes Sri Hartini pada 1971.

Pada tahun pernikahan itu pula cerpennya yang berbahasa Indonesia, Sleko, dimuat di media nasional. Lalu, ia memenangi sebuah lomba menulis di Jakarta, dan pindah ke Jakarta bersama istrinya. Jakarta adalah sebuah medan kreatif yang menggairahkan bagi Sarwendo, yang juga mulai menulis dengan nama “Arswendo”. Ia juga menggunakan beberapa nama pena lain, untuk menampung produktivitas menulisnya yang nyaris tak terbendung. Antara lain: Sukmo Sasmito (untuk cerber Sudesi (Sukses dengan Satu Istri)), Lani Biki (untuk Auk di Suara Pembaruan), Said Saat, dan B.M.D. Harahap, dan tentu saja: Titi Nginung. 

Di masa belum punya anak, ia bisa menulis serempak untuk tiga media nasional dan dimuat dalam hari yang sama. Ia menulis naskah drama, cerpen, cerber, novel, artikel jurnalistik dunia hiburan, banyak sekali karya non-fiksi. Saat menulis fiksi, ia tak terlalu perduli apakah karyanya dianggap bernilai sastra atau tidak. Toh kumpulan cerpennya, Senja Yang Paling Tidak Menarik, serta dua novelnya, Dua Ibu dan Canting dianggap penting dalam khasanah sastra Indonesia modern. Wendo lebih cenderung menghidupkan dunia kepenulisan populer seperti cerita detektif, petualangan, melodrama, terutama saat ia dipercaya grup Gramedia menjadi pendiri dan pimpinan redaksi majalah Hai

Majalah Hai pertama terbit pada 5 Januari 1977. Di majalah itu, Wendo rutin menulis tiga seri: Kiki dan Komplotannya, Imung Detektif Cilik, dan Keluarga Cemara. Juga, certa bersambung bergenre silat-sejarah, Senopati Pamungkas. Diam-diam, ia juga menulis banyak cerita komik untuk majalah Hai, khususnya serial Mahisa Jenar yang dicipta bersama salah satu komikus terbaik Indonesia, Teguh Santosa. Majalah Hai teramat sukses, sehingga Wendo dipercaya grup Gramedia untuk memegang hingga puluhan media.

Serial Imung adalah karya Wendo yang paling tegas memperlihatkan bahwa Wendo kukuh mempertahankan sudut pandang orang kampung. Imung mewakili “mata orang kampung” itu: ia datang dari kampung, piatu, bersama ayahnya yang pensiunan polisi, dan menatap para tokoh “besar” di ibu kota. Kolonel Suyatman, penyanyi cilik Tunggadewi, konglomerat Nyoo Han Siang, sosialita cantik Tante Mochtar, kawan-kawan sekolahnya. Semua ditatap Imung dari “luar”, sekaligus berhasil dipecahkan Imung masalah-masalah mereka. 

Seri Keluarga Cemara seakan bersisi pandang berlawanan dari Imung: sebuah keluarga elite kota yang bangkrut dan harus hidup sebagai orang kampung. Dalam seri ini, Arswendo ingin mengangkat nilai kejujuran –apakah dengan jujur, di tengah segala godaan materialistik sederhana di dunia kampung keluarga Cemara, akan membuat bahagia? Ya, menurut Wendo lewat seri itu. 

Kebesaran Wendo sempat terantuk dan jatuh oleh kasus survei tabloid Monitor yang ia pimpin, yang pada 15 Oktober 1990 mengumumkan angket pembaca tentang tokoh paling popular saat itu. Hasil angket, Soeharto nomor satu, dan Nabi Muhammad SAW beberapa nomor di bawahnya. Publik marah, tokoh-tokoh seperti Amin Rais dan Nurcholis Madjid pun marah. Wendo minta maaf, dan lalu disidang, diputus bersalah, dipenjara selama lima tahun atas sangkaan melakukan tindakan subversi. 

Di penjara, produktivitas menulisnya tak terhambat. Banyak tulisan tema penjara yang kocak maupun dramatik lahir dari penjara. Naskahnya, Menghitung Hari terbit pada 1993, dan diangkat jadi sinetron SCTV hingga memenangi kategori film terbaik dalam Festival Sinetron Indonesia 1995. Banyak tema non-penjara juga terbit dalam periode ini. Rata-rata dengan nama samaran. Keluar penjara, ia mendirikan tabloid Bintang, dan semakin aktif dalam dunia televisi serta perfilman.

Setelah berjuang melawan kanker prostat, Arswendo wafat pada 19 Juli 2019. Mantan bosnya yang telah sepuh, salah satu pendiri Gramedia, Jakob Oetama, sering berucap pada anak buahnya setelah terpaksa harus berpisah jalan dengan Arswendo karena kasus Monitor, “Kita perlu lebih banyak lagi orang seperti Arswendo.” 

 

***