Menuai Kisah dari Residensi Penulis Indonesia

Menuai Kisah dari Residensi Penulis Indonesia

 

Oleh: Ria Utari

 

    Virginia Woolf pernah berucap demikian: “Every secret of a writer’s soul, every experience of his life, every quality of his mind, is written large in his works” ⎯  bahwa setiap karya penulis adalah cerminan dari rahasia jiwanya, pengalaman hidupnya, dan kualitas pemikirannya.  Karena itulah pengalaman hidup adalah kesempatan berharga yang patut diberikan kepada penulis untuk bisa mengembangkan tema-tema menarik dalam karyanya. Upaya memberikan pengalaman baru inilah yang terus dilakukan Komite Buku Nasional kepada para penulis Indonesia, salah satunya dengan mengadakan program Residensi Penulis Indonesia. 

    Di program ini, penulis Indonesia yang terpilih akan tinggal di tempat residensi yang ia pilih ⎯ baik di dalam maupun di luar negeri ⎯  selama beberapa bulan, untuk menyelesaikan tulisan yang ia rencanakan. Selain menyelesaikan tulisan, penulis juga diharapkan dapat membangun jejaring di dalam dan luar negeri, baik dengan sesama penulis, maupun penerjemah dan penerbit dan mempromosikan sastra dan budaya Indonesia dalam acara-acara yang berkaitan dengan sastra dan budaya di tempat residensi. 

    Sejak diluncurkan pada 2016, KBN telah mengirimkan 56 penulis hingga 2018, ke berbagai negara. Total hingga 2018,  sudah ada 20 negara yang menjadi tempat residensi bagi penulis-penulis Indonesia. Negara-negara tersebut adalah Finlandia, Amerika Serikat, Inggris, Australia, Belanda, Meksiko, Prancis, Polandia, Italia, Vietnam, Jerman, Portugal, Ceko, Peru, Bosnia, Skotlandia, Jepang, Thailand, Suriname, dan Filipina.

    Di 20 negara, program ini tidak hanya menghasilkan karya-karya yang berkaitan dengan negara-negara tempat para penulis ini beresidensi, namun juga upaya dalam membangun relasi dengan negara lain. Tahun ini, KBN hendak membangun jembatan dengan industri perbukuan di Amerika Latin, dengan hadir di Guadalajara International Book Fair 2019 yang akan berlangsung di Guadalajara, Meksiko, 30 November-9 Desember 2019. Bursa buku internasional ini merupakan terbesar di benua Amerika dan kedua terbesar di dunia setelah Frankfurt Book Fair.

    Sebagai acara budaya tahunan terpenting bagi negara-negara berbahasa Spanyol, keikutsertaan Indonesia di bursa buku Guadalajara, diharapkan bisa membangun diplomasi budaya dan relasi di bidang buku dan penerbitan dengan negara-negara tersebut.

    Jembatan ke wilayah negara-negara Amerika Latin sebenarnya sudah ditempuh oleh residensi yang dilakukan dua penulis Indonesia, yaitu Dea Anugrah di Meksiko pada 2017 dan Trinity di Peru dan Bolivia pada 2018.  Hasil residensi kedua penulis ini sangat menarik untuk disimak tidak hanya dari sisi penggambaran situasi masyarakat di sana, karakter literasi yang berkembang di negara tersebut, hingga bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia yang tinggal di sana yang selama ini mungkin tak banyak kita ketahui.

    Dalam dua tulisannya, Dea memperlihatkan interaksi secara langsung dengan individu-individu di negara Meksiko yang bisa mewakili karakter-karakter yang acap mengemuka di prosa-prosa dari Amerika Latin. Di tulisan berjudul "Kaum Bergajul Sedunia, Bersatulah!", Dea menceritakan pertemuannya dengan Salvador, lelaki tiga tahun lebih tua dari usianya, teman seperjalanannya di dalam bus menuju Guadalajara. Sosok Salvador mewakili kesukaan Dea pada para picaro alias bergajul di novel-novel picaresque. "Genre ini menampilkan kisah-kisah para picaro alias bergajul yang bertahan, seringkali dengan cara-cara curang, dalam dunia yang morat-marit dan tak pernah berpihak pada mereka. Meski berperilaku melenceng dan cenderung kriminil, para picaro umumnya digambarkan berhati tulus. Mereka tak memendam sesuatu yang busuk di balik lapisan-lapisan kepatutan, kesopanan, kepatuhan," tulis Dea di catatan hasil residensinya. 

    Adapun Trinity, menyampaikan kehidupannya selama di Peru dan Bolivia dalam hal mencatat para misionaris Katolik dari Indonesia yang bertugas di negara-negara tersebut. Seperti halnya tulisan-tulisan perjalanannya lainnya, Trinity berbagi pengalaman bagaimana mengatasi keterbatasan dana yang diperoleh dengan tinggal di kantor KBRI di Lima, bertahan hidup dengan cara berhemat hingga kesibukannya mewawancara narasumber dan merekam aktivitas para misionaris di sana, yang merupakan bagian dari keperluan proposal penulisan yang ia ajukan kepada KBN. "Kalau Anda bayangkan saya ke Peru karena ingin ke Machu Picchu maka Anda salah. Saya sudah pernah ke sana, jadi kali ini ke Peru dalam rangka bekerja. Setiap hari kerjanya mewawancarai narasumber dan mengikuti aktivitas mereka," tulis Trinity. Hal ini menegaskan bahwa pada dasarnya, program residensi ini diharapkan dimanfaatkan para penulis untuk sebenar-benarnya mengikuti rencana yang ajukan dalam proposal, dan bukan memanfaatkan kesempatan ini untuk melancong.

    Pengalaman kedua penulis ini di Amerika Latin, memberikan narasi tentang potensi yang bisa dilakukan industri perbukuan di wilayah tersebut. Sejak didirikan pada 2016, KBN telah berupaya untuk memperkenalkan potensi-potensi literasi Indonesia dari kepenulisan, penerjemahan, hingga penerbitan ke berbagai bursa buku internasional yang merupakan pintu gerbang kerja sama ke negara-negara lain. Di pasar Eropa, KBN telah hadir setiap tahun di Frankfurt Book Fair, Bologna Children Book Fair, dan London Book Fair. Bagi industri di negara Timur Tengah, KBN juga hadir di Sharjah Book Fair. Untuk pasar di Asia, KBN menampilkan buku-buku Indonesia di Beijing International Book Fair. Kini saatnya, sayap itu terentang hingga ke negara-negara berbahasa Spanyol. Lewat pengalaman yang pernah dicapai dua penulis Indonesia di negara-negara Amerika Latin ini, dan keikutsertaan KBN di Guadalajara International Book Fair 2019, karya-karya literasi Indonesia diharapkan makin dikenal lebih jauh.